Posted by: hagemman | May 17, 2010

ELITE BANGSA MATI RASA

Kalangan elite, khususnya pejabat pemerintah dan politis, dinilai telah mengalami mati rasa terhadap kondisi dan masalah bangsa. Perilaku para elite dinilai tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan. Hal itu karena elite kurang memiliki idealisme dan kekuatan moral dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Demikian rangkuman kuliah umum yang bertema “Memberi Wajah Manusia pada Kapitalisme, Mungkinkah ?” yang disampaikan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif di Jakarta, Rabu (12/5). “Ada suasana mati rasa. Apa yang diucapkan tidak sesuai dengan hati nurani,” kata Syafii Ma’arif.

Menurut Syafii, kondisi masyarakat kecil saat ini semakin sulit karena para elite kurang memerhatikan kepentingan rakyat dan bangsa. Ia mengislustrasikan, betapa sulit rakyat kecil meminjam uang di bank karena dipersyaratkan agunan. Akibatnya, rakyat kecil meminjam uang dari “lintah darat” dengan bunga yang tinggi.

Para elite, menurut Syafii, kurang memiliki idealisme dan cenderung mementingkan diri sendiri atau kelompok. Oleh karena itu, diperlukan pemimpin baru yang memiliki idealisme untuk membangun bangsa. “Bangsa ini sulit bertahan kalau (Pemimpin) tidak memikirkan masalah substansi persoalan bangsa,” katanya.

Selain itu, menurut Syafii, untuk memperbaiki kondisi bangsa sekarang ini, tokoh-tokoh muda dari berbagai kalangan yang masih memiliki idealisme juga diperlukan memberikan keteladanan.

“Diperlukan barisan yang kokoh secara moral, intelektual, dan keterampilan. Dengan demikian, kondisi bangsa dapat diperbaiki,” kata Syafii.

Fungsionaris Partai Demokrat Indonesia Perjuangan (PDI-P), Dwi Ria Latifa, yang sempat mengikuti kuliah itu, mengatakan, kalangan pejabat pemerintah dan politisi cenderung bersikap pragmatis.

Artinya, menurut Ria, yang juga praktisi hukum, kalangan pejabat dan politisi cenderung memprioritaskan kepentingan bisnis, kelompok, jabatan, dan uang daripada kepentingan bangsa yang lebih luas.

Dibungkus pencitraan

Ironisnya, menurut dia, kepentingan seperti itu sering kali dibungkus dengan politik pencitraan seolah-olah kebijakan atau sikap yang diambil pejabat pemerintah ataupun politisi memiliki idealisme. Misalnya, penanganan kasus Bank Century.

Pada awalnya, DPR serius menangani kasus tersebut. Namun, penanganan kasus itu kemudian terkesan diambangkan dengan adanya episode baru, yaitu adanya rencana mundur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan pembentukan sekretariat bersama koalisi partai. Contoh lain, seperti penanganan kasus Susno Duadji, juga dapat menunjukkan adanya sikap pragmatis.

Sumber  :

Elite Bangsa Mati Rasa | Kompas, 14.05.2010

Advertisements

Responses

  1. Thx infonya..
    bermanfaat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: