Posted by: hagemman | April 30, 2010

TAK ADA LAGI MUSIM TONGKOL

Dua tahun terakhir kondisi laut serba tidak menentu. Ikan yang bakal didapat tidak menentu jumlah dan jenisnya, ombak tak menentu keras dan tinggi gelombangnya, angin tak menentu keras dan arahnya, musim barat pun tak jelas kapan berakhirnya.

Apa penyebab itu semua ? Nelayan tak tahu. Yang mereka tahu, pesisir sering tergerus oleh ombak sehingga mereka harus terus menguruk.

Subandono Diposaptono, pakar perubahan iklim terkait laut, menegaskan bahwa lautan amat terkait dengan perubahan iklim. Yang sudah jelas terbukti adalah dampak perubahan iklim terhadap kondisi pesisir dan laut.

Pesisir sebagai daerah peralihan antara darat dan laut amatlah rentan. Bukan saja rentan terhadap gugatan intervensi manusia, melainkan juga rentan terhadap perubahan iklim yang muncul dalam bentuk variabilitas myusim yang amat tinggi.

“Dampak perubahan iklim teerhadap pesisir luar biasa. Karena akan terjadi gelombang ekstrem yang semakin tinggi, erosi semakin menjadi-jadi. Genangan di lahan rendah pun terjadi. Begitu pun intrusi air laut, di samping ada perubahan pasir dan endapan,” ungkap Subandono.

“Perubahan ikluim dicirikan adanya perubahan suhu yang semakin  naik, perubahan hidrologi, perubahan pola angin, dan kenaikan paras muka air laut. Ini semua akan berdampak pada wisata bahari, perikanan, pertanian, infrastruktur, dan sebagainya,” tuturnya.

Terumbu karang, misalnya, akan mengalami pemutihan sejalan dengan peningkatan suhu karena terumbu karang amat rentan terhadap perubahan suhu. Suhu ideal untuik terumbu karang – tempat ikan berkembang biak – sekitar 28 derajat Celcius.

“Saat El Nino tahun 19978 memang suhunya sempat naik dan terjadi pemutihan. Namun, sifatnya hanya sesaat, bisa pulih lagi setelah tiga tahun. Nanti, kalau perubahan iklim ini permanen, pemutihannya juga permanen. Akibatnya, wisata bahari akan terganggu, perikanan juga terganggu,” ujarnya.

Selain itu, pola hujan juga berubah. Musim hujan semakin pendek, tetapi curah hujannya tinggi sehingga pada musim hujan terjadi banjir bandang. “Petani tambak yang akan panen akhirnya gigit jari karena ikan lenyap oleh banjir,” kata Subandono.

Dia juga menunjukkan bukti kenaikan suhu udara. Jakarta pada Juli 2009 telah naik 1,4 derajat Celcius dalam 100 tahun, sementara Semarang meningkaty suhunya 1,3 derajat Celcius per 100 tahun. “Jadi, perubahan iklim itu sudah, sedang, dan akan terus terjadi. Oleh karena itu, perlu disusun apa yang harus kita lakukan mulai sekarangf,” tegasnya.

Muka air laut

Dengan naiknya suhu, es di Kutub mencair menyebabkan paras muka laut naik. Akibatnya, sejumlah pulau terancam hilang. Bukan hanya akibat perubahan iklim, melainkan aktivitas manusia di daratan juga ikut menyebabkan sejumlah pulau di Indonesia hilang.

“Pulau Nipah sudah hilang. Hilangnya pulau Nipah tidak hanya karena perubahan iklim, tetapi juga akibat penggalian pasir,” ungkap Subandono. Dampak lain naiknya paras muka laut, masyarakat di pulau-pulau kecil akan kekuarangan air tawar karena akan terjadi intrusi air laut.

Permukaan air laut di seluruh Indonesia memang sudah naik. “Tanjung Priok, Semarang dan Jepara naik rata-rata 5-10 milimeter per tahun. Di Semarang sudah diteliti, rata-rata naik 7,7 milimeter per tahun sehingga rumah-rumah nelayan di Pelabuhan Muara Baru terkena rob dan tergenang,” ungkap Subandono.

Pihaknya juga melakukan simulasi untuk Pekalongan. Ternyata dalam 100 tahun ke depan air diperkirakan masuk sejauh 2,8 kilometer jika kecepatan kenaikannya 7,7 milimeter per tahun. Selain itu, sedimen pasir juga akan berkumpul di muara, menghalangi pintu masuk para nelayan. Air laut yang naik menghadang air tawar dari sungai sehingga endapan terjadi lebih ke dalam mulut sungai.

Berdasarkan temuan Kompas di lapangan, betapa pola musim yang tidak menentu telah memengaruhi perolehan ikan para nelayan. Sementara itu, panen ikan tertentu pada musim tertentu juga sudah nyaris tidak terjadi lagi akibat kekacauan pola iklim.

“Mestinya bulan-bulan ini musim tongkol, tetapi sudah dua tahun terakhir musim tidak jelas lagi,” kata Jaenudin, seorang nelayan yang ditemui di pelabuhan Lempasing, Bandar Lampung, awal April lalu.

Setiap kali melaut, mereka tidak dapat memastikan apa yang akan mereka peroleh. Beberapa hari terakhir, nelayan di sana mengeluhkan jaring yang mereka tebar semalaman hanya dipenuhi ubur-ubur, bukan tingkol. Mereta tidak mengerti apa penyebab itu semua.

“Dulu musim ikan masih jelas. Misalnyam bulan satu dan dua adalah musim ikan kembung, lalu bulan empat musim ikan tongkol,” kata Jaenudin.

Nelayan jaring payang seperti Jaenudin tidak mungkin melaut hingga ke laut lepas untuk mengejar ikan. Perahunya tidak cukup kuat untuk menahan hantaman ombak. Mereka hanya melaut hingga “gerbang” Teluk Lampung, di seputaran Pulau Legundi atau di sekitar Krakatau.

“Sedikit lebih jauh juga sudah susah. Angin dan arus kencang, datangnya pun kerap tiba-tiba,” kata jaenudin lagi.

“Hasil tangkap bnelayan terus menurun. Lapangan lelang saat ini jarang penuh,” kata Karna, petugas di tempat pelelangan ikan Lempasing.

Sementara itu, Rasbin (50), nakhoda kapal nelayan yang biasa sandar di pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, mengatakan, musim angin barat yang berlangsung sejak Desember masih terasa hingga April. Padahal, biasanya hanya sampai bulan Februari.

“Musim angin barat menjadi musuh nelayan. Gelombang besar membuat mereka takut melaut,” ujarnya.

Nelayan pun merugi karena hasil tangkapan tidak sebanding dengan ongkos melaut. Menurut Rasbin, tangkapan pada musim normal yang bisa mencapai 1 ton, sekali melaut kini bisa turun hingga setengahnya.

“Kalau sudah begitu, nelayan pilih tidak melaut. Yang pnya kapal juga tidak mau rugi,” kata Rasbin.

Yang pasti, musim ikan sekarang tidak menentu. “Misalnya bulan satu (Januari0 biasanya jenis ikan ini, bulan februari ikan lain lagi. Wilayahnya juga spesifik. Sekarang, perhitungan nelayan sering meleset,” kata Rasbin.

Subandono punya kabar lagi soal keberadaan ikan. “Kalau suhu naik, ikan-ikan juga akan berada di perairan yang lebih dalam lagi. Berarti alat tangkap harus disesuaikan,” ujarnya.

Upaya penanggulangan dampak perubahan iklim yang langsung berdampak pada perikanan, di antaranya penanaman mangrove. “Upaya penanaman mangrove ini merupakan upaya yang bisa dilakukan masyarakat secara bersama-sama dengan mudah,” ujarnya menambahkan.

Sengan mangrove erosi bisa ditahan, sementara ekosistem di kawasan mangrove bisa menambah penghasilan masyarakat karena banyak satwa air, misalnya kepiting. Namun, untuk mengurangi dampak perubahan iklim, perlu dilakukan analisis risiko.

Sumber  :

Tak Ada Lagi Musim Tongkol | Kompas, 16.04.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: