Posted by: hagemman | April 30, 2010

MEMBANGUN HARAPAN DAN POTENSI

Anak buah kapal beriringan mendorong drum-drum penuh berisi solar dari stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan di pelabuhan ikan Lempasing, Bandar Lampung. Pagi baru saja merekah ketika mereka kembali menyiapkan kapal-kapal bertonase 29 ton itu. Jaring yang telah rapi digulung disatukan di buritan.

Bau ikan segar goreng bertaburan di udara yang sebelumnya sesak oleh amis bekeranjang-keranjang ikan yang baru saja didaratkan. Sejak pukul 04.00 aktivitas harian nelayan sudah dimulai.

Kapal yang baru saja berlabuh langsung membongkar hasil tangkapan, sementara para pedagang sudah menunggu di tempat pelelangan. Sebagian menanti di tepi dermaga, menaksir sekaligus menawar harga ikan yang baru saja tiba.

Tidak butuh waktu lama hingga ikan-ikan itu berpindah ke atas kendaraanpengangkut yang kemudian di bawa ke sejumlah kota di Lampung untuk dipasarkan. “Tidak sempat menunggu atau disimpan di ruang pendinginan. Kalaupun ada, itu titipan darti luar kota, seperti Tegal,” kata Nurdin, pekerja di tempat pelelangan ikan Lempasing.

Menurun

Saat ini, tutur Nurdin, hasil tangkapan nelayan menurun. Dalam dua tahun terakhir, tempat pelelangan ikan di Lempasing dipenuhi ikan, tetapi kini saat lelang mulai digelar hanya separuh lantai lelang terisi.

Nurdin akhirnya memutuskan mencari pekerjaan baru, yaitu menjadi petugas lelang, karena menurut dia, melaut tidak lagi memberikan hasil memadai. Ia dan rekan-rekannya bukan tidak berupaya meningkatkan penghasilan.

“Awalnya melaut rata-rata dua hari satu malam. Sekarang ada  banyak nelayan melaut selama lima hari lima malam, tetapi hasilnya tetap tidak menentu,” kata Nurdin.

Imbasnya midal nelayan terus tergerus. Ia menuturkan, setiap kali melaut, nelayan jaring payang minimal mengeluarkan modal Rp 1 juta untuk membeli solar dan perbekalan.

Karena kondisi laut yang tidak menentu, hasil yang diperoleh nelayan hanya pas-pasan. Bahkan, kerap terjadi, nelayan pulang tanpa membawa hasil. Uang yang diperoleh kerap hanya mampu menutup modal melaut.

Dampaknya, berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukung, seperti gudang pendingin, kurang optimal dioperasikan. Beberapa nelayan di Lempasing mengatakan, mereka membutuhkan bantuan modal untuk dapat melaut lebih jauh dan kemudahan memperoleh bahan bakar. “Di laut lepas ikan masih cukup banyak,” ujar Jaenudin, nelayan asal Lempasing.

Hal itu dia ketahui dari nelayan asal Jawa yang sering mendaratkan ikan di Lempasing. Ia sendiri memiliki angan-angan memiliki kapal seperti nelayan-nelayan asal Indramayu yang kapalnya dilengkapi peralatan global positioning system (GPS), yang membantu menentukan posisi kapal di tengah laut luas. Menurut jaenudin, alat itu penting untuk mengetahui informasi geografis dan tempat ikan berkumpul.

“Sekarang kami tidak tahu lagi dimana ikan berkumpul. Jaring sering kosong kalau diangkat,” kata jaenudin. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi nelayan saat ini.

Sebagaimana dikemukakan Jaenudin, para nelayan akan tetap melaut meski hasil tidak memadai, tetapi ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar usaha mereka terus berlanjut dan memberikan hasil memadai. Tidak berbeda dari itiu, peran pemerintah pun diharapkan untuk membenahi potensi industri perikanan yang ada di Indonesia.

Peran pemerintah

Sebagaimana diharapkan nelayan, para pelaku usaha industri pengolahan ikan tangkap menilai perlu pembenahan untuk meningkatkan produksi. Ketua Hatian Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (Apiki) Ady Surya mengemukakan, ada toga hal yang dibutuhkan pelaku usaha, yaitu fasilitas infrastruktur yang memadai, dukungan perbankan, dan regulasi yang kondusif.

Regulasi yang tidak jelas, misalnya, terkait data potensi perikanan wilayah yang sering tidak akurat. “Pemerintah pernah mencantumkan jumlah industri pengalengan ikan di Nanggroe Aceh Darussalam sudah mencapai 10 lokasi. Padahal, kami tahu persis di sana belum ada industri pengalengan,” kata Ady.

Ady menyebutkan, industri pengalengan ikan masih menjadi primadona dalam industri perikanan. Di seluruh dunia, kontribusi industri pengalengan mencapai 96 persen. Dari jumlah tersebut, porsi industri pengalengan Indonesia hanya sekitar 1 persen. Padahal, nilai tambah dari industri pengalengan jauh lebih nesar dibandingkan dengan ekspor ikan gelondongan.

Sebagai ilustrasi, dari setiap 1.000 ikan tuna atau cakalang mentah, bisa diperoleh 62.000 karton ikan kaleng. Jika harga rata-rata ekspor 27 dollar AS per karton, diperoleh 1,674 juta dollar AS. Bandingkan jika ikan tuna dalam volume sama langsung diekspor dengan harga 900 dollar AS per ton, maka hanya diperoleh 900.000 dollar AS. Belum lagi bila kontribusi hasil samping dari industri pemgolahan ikan berupa makanan ikan atau pelet juga diperhitungkan. Nilainya bisa mencapai Rp 1,1 miliar per 1.000 ton tuna atau cakalang segar.

Ironisnya, industri pengalengan tuna kerap mengalami kesulitan bahan baku karena jaringan distribusi yang tidak memadai. Kepala Riset pada Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Perikanan Maritim Suhana dalam dskusi Kompas menengarai adanya praktik perdagangan ikan yang tidak dilaporkan.

Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2009, produksi ikan tuna dalam kurun waktu 1989-2006 pertumbuhannya mencapai 4,74 persen per tahun. Secara keseluruhan total produksi tuna nasional – termasuk volume impor – pada tahun 2006 mencapai 575.087,85 ton.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2009 menunjukkan, volume ekspor ikan tuna nasional dalam kurun waktu 1989-2007 tumbuh 5,21 persen per tahun. Total volume ekspor ikan tuna pada tahun 2006 sebesar 35.459,96 ton. Artinya, kalau dilihat dari total produksi nasional, total produksi ikan tuna yang diekspor janya 6,17 persennya. Dengan kata lain, data tersebut menujukkan, sekitar 93,83 persen produksi ikan tuna nasional belum terserap pasar ekspor. Jika kedua data produksi dan ekspor itu dibandingkan, akan terlihat total produksi ikan tuna nasional yang tidak diserap pasar ekspor dalam kurun waktu 1989-2007 rata-rata mencapai 91,43 persen per tahun.

Berdasarkan catatan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), satu unit industri pengalengan tuna umumnya mememrlukan bahan baku per hari minimal sekitar 80 ton atau sekitar 28.000 ton per tahun. Artinya produksi tuna nasional seperti yang tergambar dalam laporan PBB dan FAO tersebut rata-rata per tahun dapat memasok bahan baku ikan tuna untuk 17 unit industri pengalengan ikan tuna nasional. Bahkan, produksi ikan tuna nasional pada tahun 2004, yaitu 629.055,87 ton, sebenarnya dapat menghidupi 23 unit industri pengelangan ikan tuna.

Dengan mencermati dua kondisi di atas, seharisnya dapat digagas kerja sama antarwilayah untuk mengoptimalkan potensi yang ada, sekaligus terus menghidupkan kinerja industri kelautan setempat.

Sumber :

Membangun Harapan dan Potensi | Kompas, 16.04.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: