Posted by: hagemman | April 27, 2010

PAMAN GOBER, KRAKATAU, DAN THE SCREAM

Di antara puluhan erupsi mahahebat yang pernah terjadi di planet ini, Krakatau di Selat Sunda pasti tak bisa dikesampingkan. Begitu besarnya amuk Krakatau, penulis Simon Winchester menyebut momen ledakan itu sebagai hari ketika dunia meledak. Warisan ledakan tersebut menjulur jauh, mulai ranah geologi hingga seni.

Laut di dekat Batavia, menjelang akhir Agustus 1883, masih terasa tenah ketika kapal The Cutty Shark melintas. Seorang penumpang di kapal tersebut adalah Scrooge McDuck alias Gober Bebek. Umurnya masih 16 tahun ketika itu. Anak muda tersebut sedang meretas jalan untuk menjadi seorang super jutawan top.

Dalam komik The Life and Times of Scrooge McDuck ciptaan Don Rosa tersebut, diceritakan bahwa Gober hendak menjual sapi Texas kepada raja di Jawa. Don Rosa menyebut raja itu Sultan Mangkunagara V of Djogja. Di terjemahan bahasa Indonesia, raja itu dinamai Raja Kulon. Ternyata, sapi tersebut menjadi sengketa dengan Sultan Pakubuwana IX of Solo alias Raja Wetan.

Pada sebuah adegan di tengah laut, tiba-tiba cakrawala memerah. Tiang api menjulang tinggi ke angkasa. Suara dentuman yang sangat keras pun terjadi. Don Rosa menulis, letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 mengeluarkan kekuatan setara 10 ribu bom hidrogen dan menghasilkan suara terkeras dalam sejarah. Adegan dalam komik selanjutnya menggambarkan kengerian bencana itu. Gulungan awan panas menyapu pantai. Tsunami setinggi 30 – 40 meter menghajar pesisir ujung Sumatera dan Jawa. Tapi, lantaran semua bencana itu ditampilkan dalam komik Disney, tetap ada unsur lucu yang menyembul.

Simon Winchester, wartawan berlatar pendidikan geologi dari Universitas Oxford tersebut, merangkai bencana itu secara apik dalam buku Krakatoa ; The Day the World Exploded (Krakatau, Ketika Dunia Meledak). Winchester secara detail memotret aneka hal yang terjadi di sekitar letusan gunung tersebut. Tragedi, tangis, kondisi politik di masyarakat Batavia, hingga intrik-intrik politik dan munculnya gerakan Islam pasca letusan yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah manusia tersebut.

Para ahli punya ukuran untuk menggambarkan kekuatan letusan gunung. Yaitu, volcanic explosivity index (VEI). Itu ditilik pada kekuatan letusan, tinggi, dan volume material yang dilontarkan hingga kandungan magma yang dimuntahkan sebuah gunung. VEI tertinggi bernilai 8. Itu setara “kiamat mini”. Letusan gunungnya mahadahsyat.

Berbagai sumber selalu menyebut Krakatau dalam top ranks. Wikipedia menyebut, VEI Krakatau bernilai 6, sama dengan nilai dari http://www.volcanic.com.  Dalam versi buku Winchester, Krakatu bernilai 6. Ia menduduki peringkat 5 dalam urutan letusan gunung terdahsyat di kolong langit.

Krakatau adalah letusan dahsyat pertama di era modern. Telegraf dan kabel bawah laut telah terjalin melintasi benua. Dengan demikian, saat Krakatu meletus, sebagian besar penjuru numi langsung mendapat beritanya.

Sejatinya, tak perlu telegraf untuk mendapat kabar letusan Krakatau. Sebab, gunung itu sudah “mengabarkan sendiri” erupsinya. Gelegarnya menjangkau Pulau Rodriguez di sekitar Mauritius, Afrika, lebih dari 4.600 kilometer jauhnya. Bahkan, getaran kejut letusan Krakatau telah mengelilingi bumi sebanyak 7 kali, tulis Winchester. Abu yang dikirim ke angkasa mengubah iklim. Kolong langit gelap selama dua setengah hari akibat debu menutup atmosfer. Matahari redup hingga lebih dari sepuluh bulan setelah letusan. Hamparan debu mengubah warna matahari dan cakrawala menjadi bersemu jingga. Itu tampak mulai Eropa hingga New York.

Warna romantis di langit itulah yang memengaruhi jagat seni. Salah satunya adalah lukisan The Scream atau Der Schrei de Natur yang berarti Jeritan Alam. Karya Edvard Much, perupa Norwegia, itu menggambarkan sesosok orang yang sedang menjerit di tepi jalan. Di belakangnya langit begitu merah. Munch mengatakan bahwa lukisan itu berdasar pengalamannya yanf rertegun lantaran langit tiba-tiba memerah di Oslo pada 1883.

Pelukis di Inggris dan AS pun tak kalah cepat mengabadikan langit pada pengujung abad ke-19 yang selalu merah tersebut. Muncullah aliran romantik ala Hudson River School yang selalu menggambarkan keindahan landscape dengan bumbu langit yang memerah itu.

Memang, Krakatau tak sampai mengguncangkan jagat penerbangan seperti Eyjafjallajökull. Tapi, dengan caranya sendiri, ia mengguncang dunia.

Sumber   :

Paman Gober yang ke Batavia hingga Orang Menjerit | Doan Widhiandono | Jawa Pos, 25.04.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: