Posted by: hagemman | April 20, 2010

MERETAS BUDAYA KEKERASAN

Hati kita miris, sedih, pedih, dan prihatin menyaksikan tayangan berita bentrokan antara Satpol PP dan warga di Koja, Jakarta Utara. Bentrok sebelumnya terjadi pada hari Selasa, 13 April antara Satpol PP dan warga Cina Benteng di Tangerang. Sehari berikutnya, terjadi bentrok yang bahkan membawa korban tewas dan luka-luka !

Sekurang-kurangnya dua orang anggota Satpol PP meninggal dunia dalam bentrok ini. Lebih dari 134 orang luka-luka. Bahkan, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis !

Mengherankan, mengapa bentrok sehari sebelumnya yang melibatkan subyek yang sama (Satpol PP) tidak diselesaikan secara bijaksana, tetapi justru memuncak dengan kekerasan yang lebih besar pada hari berikutnya ? Benarlah yang ditengarai  tajuk harian ini (Kompas, 15/4). Mengapa pertikaian tidak diselesaikan secara baik-baik melalyi musyawarah ? Bukankah kekerasan tidak bisa menyelsaikan persoalan secara permanen dan memenuhi rasa keadilan para pihak yang bertikai ? Bukankah penyelsaian secara kekerasan hanya akan menyimpan dan melahirkan kekerasan dan dendam ?

Budaya kekerasan

Dewasa ini, kekerasan demi kekerasan masih menguasai kehidupan masyarakat kita, bahkan kian merebak. Di negeri ini, kekerasan bahkan menjadi semacam infotainment yang hampir setiap hari disuguhkan dalam berita-berita di televisi dalam berbagai tajuk. Hampir sepanjang hari, di beberapa televisi swasta, tayangan berita kekerasan menghiasi warna hidup masyarakat kita.

Kekerasan mewajah dalam bentuk tawuran antar pelajar, antarmahasiswa dan antarwarga kampung. Kekerasan juga nenyusup di panggung politik sehingga Sidang Paripurna DPR, forum terhormat perwakilan rakyat pun tak luput dari aksi kekerasan. Bahkan, dunia persepakbolaan kita yang mestinya menampilkan komitmen sportivitas pun dinodai bentuk-bentuk kekerasan antarpendukung yang sedemikian bruta,l membuat nurani kita menangis.

Karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa sekarang ini pun kita masih berada dalam budaya kekerasan yang mewajah dalam berbagai bentuk dan tali-temali (yang) menjadi lingkaran kekerasan. Kekerasan terekspresikan baik yang bersifat personal-pribadi dan sosial-kemasyarakatan. Lingkaran kekerasan merebak secara sistemik-struktural, secara politis, ekonomis, kultural, bahkan religius !

Menurut Michael Crosby, OFMCap (1996:18-20), lingkaran kekerasan merupakan buah dari paksaan yang mengakibatkan luka. Dua kata kunci dari Michael Crosby untuk kekerasan adalah paksaan dan luka. Keduanya bisa bersifat fisik ataupun psikis, personal ataupun komunal, psikologis ataupun sosiologis.

Terry Miller dan Marrie Dennis mengonkretkan pandangan Michael Crosby dengan menyebutkan bentuk-bentuk kekerasan dewasa ini dalam beberapa hal.

Pertama, kekerasan terhadap orang-orang miskin dan tersingkir, terhadap kaum perempuan dan anak-anak, bahkan kekerasan terhadap lansia dan kaum difabel.

Kedua, kekerasan terhadap negara-negara miskin dalam bentuk beban utang yang berat. Dalam negara-negara miskin dan berkembang, bahkan bayi-bayi yang baru lahir pun sudah harus menanggung beban utang negara.

Ketiga, kekerasan melalui tata ekonomi yang berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya seraya mengabaikan keadilan bagi rakyat. Ekonomi yang demikian selalu dikendalikan pemilik modal besar dan orangorang kaya.

Keempat, masyarakat miskin justru menjadi korban akibat bentuk-bentuk konsumerisme dan hedonisme yang ditawarkan produksi yang mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Kelima, kekerasan mewajah secara sistemik-struktural teerhadap mereka yang disebut pengangguran akibat kurang meratanya kesempatan kerja.

Terakhir, kekerasan ekologis, melalui perusakan lingkungan yang mengakibatkan manusia berada dalam kesulitan berhadapan dengan alam semesta yang mestinya menjadi ruang yang nyaman untuk hidup.

Meretas kekerasan

Kekerasan merupakan noda demokrasi. Meminjam ungkapan YB Mangunwijaya, kekerasan sebenarnya merupakan sebentuk kebodohan !  Pada dasarnya, manusia dengan demikian juga masyarakat dan bangsa yang cerdas – dengan sendirinya tidak suka kekerasan. Kekerasan memrupakan instingtif hewani, utamanua binatang buas, bukan sifat dasar manusia, masyaralat, bangsa yang bermartabat.

Menyelesaikan konflik dengan cara-cara represif, melalui tindak kekerasan bahkan berlawanan dengan hak-hak asasi manusia dan prinsip demokrasi. Inilah yang sudah diserukan oleh Cultures of Peace Progream UNESCO. Bangsa yang demokratis mengedepankan pendekatan damai daripada menggunakan kekerasan.

Untuk itu, diperlukan keberanian untuk membuang mentalitas dualisme “kita-mereka” (manicheanisme) demi meretas kekerasan yang mudah terjadi. Mentalitas maniocheanisme cenderung memecah belah masyarakat menjadi musuh yang saling berhadapan, bahkan satu pterhadap yang lain saling mengibliskan ! Ujung-ujungnya sikap ini melakirkan prilaku otoriter, represif, rasis, dan hanya akan memicu konflik dan perang.

Meretas budaya kekerasan berarti pula berani berkeputusan untuk hidup (ber)damai dengan orang lain, bahkan lawan ! Inilah yang diserukan Robert Murray (dalam Manual for Promoters of Justice, Peace, and Integrity of Creation, 2001 :265-266). Dalam nada yang puitis, Robert Murray menegaskan : “Berkeputusanlah hidup damai / Jadikanlah orang-orang lain hidup damai / Janganlah mendengarkan penghasut perang, pengobar kebencian, dan pencari kekuasaan. “

Semoga bangsa ini belajar dari pengalaman, bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, melainkan justru melahirkan dendam dan luka bagi masa depan !

Sumber  :

Meretas Budaya Kekerasan | Aloys Budi Purnomo, Rohaniwan | Kompas, 16.04.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: