Posted by: hagemman | April 3, 2010

BYWATER, YAMAMOTO, DAN UGAKI

Tewasnya Laksamana Isoroku Yamamoto 67 tahun lalu, tanggal 18 April 1943 ; karena pesawatnya berhasil disergap dan ditembak jatuh AU-AS ternyata masih menyisakan pertanyaan : apakah Yamamoto yang adalah arsitek penyerangan Pearl Harbor dan konseptor keberhasilan Jepang pada bulan-bulan awal Perang Pasifik telah menyontek habis-habisan karya Hector Bywater ?

Lantas siapakah Hector Bywater ?   Bywater adalah koresponden Angkatan Laut Inggris dan bekas perwira intelijen yang menulis Sea-Power in the Pacific tahun 1921.  Berakhirnya Perang Dunia I, mendorong Bywater melakukan analisis bahwa kelak akan terjadi peperangan di kawasan Samudera Pasifik. Yaitu diawali dengan Jepang yang menyerbu Guam dan Filipina. Karya yang provokatif ini kemudian diterbitkan secara meluas pada tahun 1925 dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Jepang.

Kita dapat mudah menduga bahwa Yamamoto yang dididik ketat secara tradisi elite Angkatan Laut Jepang dan kemudian pada awal 1920-an menjadi atase militer Jepang di Washington ; tentunya ia sempat membaca dan mempelajari karya Bywater ini.  Terlebih Yamamoto adalah tipikal pribadi yang amat haus dengan pengetahuan Barat, khususnya yang menyangkut prihal strategi pertempuran laut.

Hanya tetap yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana mungkin aksi ekspansif Jepang dua puluh tahun kemudian semata didasarkan pada karya Hector Bywater ?

Pada awal April 1941, Jepang membentuk satuan udara pengintai yang terdiri dari 36 pesawat pembom jarak jauh Mitsubishi G3M2 Nell di Takao, Taiwan. Keberadaan satuan ini amat sangat rahasia oleh karena tujuannya untuk memetakan dan memotret semua sasaran seperti misi mereka tanggal 18 dan 23 April yang mengintai lokasi pelabuhan, lapangan terbang, pangkalan militer baik di Legaspi, pulau Luzon dan Peleliu, pulau Palau, Filipina. Juga kemudian pengintaian dilakukan di atas Truk, kepulauan Carolina serta Rabaul. Pada bulan Juni, sebagian satuan udara yang dikenal Korps Udara ke-3 ini dipindah ke Tinian, dan  dari sana mereka melakukan beberapa sortie penerbangan yang intensif. Dalam waktu tiga hari mereka telah berhasil memperoleh foto-foto  Guam.

Inilah bekal utama bagi Jepang untuk melakukan aksi ekspansif melalui setumpuk foto-foto hasil pengintaian udara baik di kawasan Filipina dan Pasifik. Lebih lanjut Jepang pun menugaskan satuan udara ini pada bulan Juli 1941 untuk mengintai Indocina. Artinya, saat-saat itu Jepang menginginkan suatu dasar yang komprehensif bagi strategi besarnya menginvasi ke selatan.

Belakangan hari para sejarawan dan pakar analisis militer menyatakan bahwa diduga Yamamoto bukannya menyontek karya Hector Bywater. Melainkan temuan dari pengintaian udara tersebut di atas membuktikan bahwa titik-titik kelemahan Amerika Serikat tak kunjung diperbaiki sesuai dengan keprihatinan Bywater dua puluh tahun sebelumnya. Jadi kesimpulannya bukan Yamamoto menyontek karya Bywater, melainkan karya itu dijadikan pijakan awal Yamamoto untuk mewujudkan aksi ekspansifnya.

Buktinya adalah Bywater dalam karyanya tidak pernah memprediksikan Pearl Harbor akan diserbu Jepang. Para sejarawan dan analisis militer menganggap Yamamoto telah melakukan modifikasi atas karya Bywater dengan menyerang Pearl Harbor dadakan – setelah mengetahui kelemahan pertahanan AS di Pasifik saat itu. Lantaknya Pearl Harbor akan melumpuhkan armada AS untuk menahan gempuran Jepang ke selatan. Minimal untuk sementara waktu sebelum AS mengkonsolidasikan kekuatannya.

Hanya satu hal sebagai catatan kita Bywater menulis bahwa Amerika Serikat pada awal perang ini akan terdesak, tetapi pada akhirnya akan berhasil memenangi pertempuran ini. Pada saat akhir Jepang akan mengerahkan seluruh kemampuan yang tersisa dan salah satunya adalah penerbang bunuh diri. Yang kemudian dikenal sebagai Kamikaze.

Jadi masih tersisa sebuah pertanyaan apakah Jepang kembali menyontek karya Bywater soal penerbang bunuh diri yang dicanangkan pada akhir tahun 1944 ? Kali ini tentunya pertanyaan tidak ditujukan kepada  Yamamoto yang telah tewas setahun sebelumnya.  Melainkan kepada pencetus Kamikaze itu sendiri yaitu Laksamana Madya Matome Ugaki dengan Armada Udara ke-5 yang didukung oleh 4.500 pesawat Angkatan Laut dan Darat.

Hingga akhir perang pertanyaan tersebut tak pernah pula terjawab. Tampaknya perang memang senantiasa gemar meninggalkan pertanyaan yang tidak akan pernah tuntas dijawab. Mungkin dengan demikian akan menjadi bekal buat kita semua sebagai manusia untuk menjadi lebih bijak demi masa depan yang lebih berkualitas.

Sumber  :

Unexplained Mysteries of World War II | Robert Jackson
dan dari pelbagai sumber


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: