Posted by: hagemman | April 2, 2010

BLACK WIDOWS DI STASIUN MOSKWA

Black Widows. Sebutan itu muncul kembali setelah terjadi serangan pengebom bunuh diri di dua stasiun metro, kereta api bawah tanah di Moskwa, hari Senin lalu. Dua serangan itu dilakukan oleh dua perempuan.

Peledakan bom pertama di Stasiun Lubyanka, yang letaknya tidak jauh dari Lapangan Merah. Hanya membutuhkan waktu dua menit berjalan kaki dari Stasiun Lubyanka ke Lapangan Merah di jantung kota Moskwa.

Bom yang meledak di Stasiun Lubyanka menewaskan sekurang-kurangnya 25 orang. Bom kedua meledak 45 menit kemudian di Stasiun Park Kultury, yang letaknya tak jauh dari gedung kantor berita  pemerintah, RIA-Novosti, dan kantor jaringan televisi satelit berbahasa Inggris, Rusia Today. Sekurang-kurangnya 13 orang tewas di tempat itu.

Yang pertama-tama dituding oleh pemerintah Rusia sebagai pelaku pengebom bunuh diri adalah orang-orang Chechnya. Dan, karena pelakunya adalah perempuan, maka segeralah tudingan itu diarahkan kepada Black Widows, Janda-janda Hitam.

Tony Halpin, dalam tulisannya di Times, menyebutkan, sebutan Black Widows diambil dari pakaian yang mereka gunakan, gaun panjang warna hitam yang menutup seluruh tubuh. Biasanya di balik pakaian hitam itu diikatkan bahan peledak dan pecahan peluru meriam. Saat terjadi penyerangan teater Moscow Dubrovka (2002) dan penyanderaan 700 orang yang tengah menonton pertunjukan di teater itu, 19 dari 41 penyandera adalah Janda-janda Hitam ini.

Disebut widow (janda) karena mereka adalah para janda yang suaminya tewas dalam pertempuran melawan tentara Rusia di Chechnya. Namun, tidak semua yang disebut Janda-janda Hitam adalah mereka yang kehilangan suami, ada pula yang kehilangan saudara lelaki atau keluarga dekat.

Adalah Shamil Basayev, pemimpin kelompok bersenjata Chechnya yang merekrut kaum perempuan untuk bergabung dalam perlawanan menghadapi tentara Rusia sejak tahun 1994. Basayev tewas dalam pertempuran di Ingushetia tahun 2006, membentuk brigade martir atau brigade shakidy yang terdiri dari kaum perempuan.

Terlibatnya kaum perempuan dalam pertempuran terhitung aneh karena secara tradisional perempuan tidak dilibatkan dalam pertempuran antara pasukan Rusia dan Chehnya. Itulah sebabnya, tidak pernah terdengar cerita perempuan ikut bertempur.

Cerita tentang keterlibatan perempuan dalam pertempuran mulai terungkap pada bulan Juni 2000. Ketika itu dua perempuan Chechnya mengendarai sebuah truk yang dipenuhi bahan peledak menerjang kantor polisi. Salah seorang perempuan itu adalah Khava Barayeva, kerabat Movsar Barayev, pemimpin kelompok bersenjata Chehnya yang memimpin pendudukan gedung teater di Moskwa.

Duka cita karena ditinggal suami tercinta dan semangat balas dendam yang merasuki para janda berpendidikan rendah menjadi sasaran empuk para pencari “pejuang” untuk melawan Rusia. Mereka direkrut dan dilatih menjadi penyerang yang rela mengorbankan nyawa. Semua itu, menurut kelompok-kelompok hask asasi manusia, terjadi sebagai buah sepak terjang Rusia di Chehnyam yang dinilai bertindak brutal terhadap penduduk sipil.

Siapa pun yang melakukan pengeboman bunuh diri itu, tindakan mereka menerabas nilai-nilai kemanusiaan. Dengan tragedi Moskwa, dunia peradaban sekali lagi tertusuk gambar mengerikan terorisme. Teroris telah merampas jiwa-jiwa orang tak bersalah dan melukai banyak korban, sekaligus memperpanjang rantai balas dendam.

Sumber  :

Aksi janda-janda Hitam di Stasiun Moskwa, Trias Kuncahyono | Kompas, 31.03.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: