Posted by: hagemman | March 8, 2010

KEKUATAN, BUKAN UANG

Teknologi berbasis internet barangkali membuat insan media khawatir tentang masa depan surat kabar. Akan tetapi, ini bukan pertama kalinya industri surat kabar mengalami perubahan revolusioner. Hal itu dibuktikan sendiri oleh Joseph Pulitzer, tokoh jurnalisme.

Pulitzer : A Life in Politics, Print, and Power (Harper, 576 halaman, 29,99 dollar AS) yang ditulis James McGrath Morris mengulas tentang kehidupan Pulitzer dan bagaimana dia menciptakan wajah baru dunia persuratkabaran.

“ Jika ada sebuah ‘formula Pulitzer’, itu ada sebuah kisah yang ditulis dengan begitu sederhana sehingga siapa saja bisa membacanya dan dengan begitu berwarna sehingga seseorang tidak bisa melupakannya, “ tulis Morris.

Seperti dituturkan Morris dalam biografi itu, Pulitzer dengan cepat mengubah perwajahan dan isi surat kabar, dua dekade setelah kedatangannya di AS. Dia membuat berita utama yang dramatis, ilustrasi yang berani, dan kisah-kisah berwarna yang ditulis dengan singkat dan kalimat yang kuat sehingga pembaca – kebanyakan dari mereka adalah imigran yang baru tiba di AS – bisa memahami dengan mudah.

Tak ketinggalan adalah semboyannya : akurasi, akurasi, akurasi. Pulitzer sangat ngotot dengan akurasi itu, setidaknya sampai dia terkunci dalam persaingan sengit dengan rival penerbit William Randolph Hearst dan New York Journal, yang menandai masa jaya “jurnalisme kuning” pada awal Perang Spanyol – Amerika.

Pulitzer, seorang imigran asal Hongaria, tiba di AS tahun 1864 tanpa sepeser uang pun dan tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Tanpa teman dan saudara, pada usia 17 tahun dia mendaftar untuk menggantikan seorang peserta wajib militer Perang Saudara dan bergabung dengan Tentara Union di unit berkuda yang berbicara bahasa Jerman.

Transformasi

Seusai perang, Pulitzer menuju ke barat, tinggal di St Louis, dan bekerja sebagai buruh pelabuhan. Kala itu, wartawan tidak segan-segan terlibat politik dan Pulitzer adalah pemain aktif.

Bahkan, saat dia pertama kali membawa surat kabar berbahasa Jerman lalu membelinya dan mengubahnya menjadi St Louis Post-Dispatch, dia membawa dampak bagi politik dan menjadi anggota Kongres AS.

Morris agak berlama-lama bertutur tentang tahun-tahun di St Louis sebelum biografinya memanas dengan kisah saat Pulitzer menaikkan taruhannya untuk panggung yang lebih besar di New York. Dia membeli World yang hidup segan mati tak mau dari ahli keuangan Jay Gould, dan mengubahnya menjadi surat kabar paling banyak dibaca sepanjang sejarah AS.

Di luar kesuksesan profesionalnya, Morris juga mengungkapkan tentang kehidupan pribadi Pulitzer yang ditandai dengan hubungan keluarga yang tidak bahagia dan persoalan kesehatan.

Tulisan Morris membuka cakrawala baru tentang epik “pertarungan” Pulitzer dengan musuh bebuyutannya, Presiden Theodore Roosevelt. Roosevelt tidak berhasil memanfaatkan kekuasaan kepresidenan untuk menghancurkan surat kabar dengan dakwaan kejahatan pencemaran nama baik.

Morris memuji episode itu sebagai kunci sukses bagi kebebasan pers, yang hingga kini dikenang sebagai warisan Pulitzer, selain penghargaan dengan namanya sebagai pengakuan tertinggi atas karya jurnalistik di Amerika Serikat.

Sumber  :

Kekuatan, Bukan Uang | Kompas, 13.02.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: