Posted by: hagemman | February 12, 2010

PUDARNYA PAMOR KORPORASI JEPANG

Toyota menjadi berita utama, tetapi mengenai hal yang negatif, sejak akhir pekan lalu. Mulai Senin (1/2), manajemen Toyota menyatakan akan mulai mengirimkan suku cadang untuk memperbaiki pedal gas mobilnya yang berpotensi membahayakan penumpang.

Kabar buruk itu terjadi beberapa saat setelah maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL) menyatakan bangkrut dan terlilit utang.

Perusahaan perangkat elektronik ternama Jepang, Sony, juga sudah kalah pamor dengan peraing dari AS maupun negara lain.

Honda, perusahaan otomotif nomor 2 Jepang, mengalami nasih serupa dengan Toyota. Honda menarik 646.000 kendaraan di seluruh dunia karena kesalahan pada tombol jendela yang berpotensi menimbulkan percikan api.

Reputasi korporasi Jepang tampaknya sedang berada di titik nadir. Kejadian ini bertepatan dengan ekspansi China yang segera menggantikan posisi Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di planet ini. Tekanan bertambah karena perusahaan dari Korea Selatan juga sudah semakin agresif merebut pangsa pasar korporasi Jepang.

Apa yang terjadi pada raksasa ekonomi yang bangkit dari reruntuhan Perang Dunia II itu ?

Persoalan yang tengah dihadapi Toyota, Sony, Honda dan JAL memang berbeda. Akan tetapi, para ahli menyatakan masalah itu bertema sama : risiko ekspansi global, kecenderungan memelihara status quo, dan mentalitas “too big too fail”.

“ Sikap puas diri, kesombongan, dan beberapa pemaksaan atas kehendak sendiri turut berperan. Hal itu didorong oleh ide bahwa mereka merupakan produsen nomor wahid sehingga kualitas produknya tidak mungkin berisiko. Krisis ekonomi global juga turut membuat pengungkapan kelemahan ini. Selama krisis tidak ada tempat untuk bersembunyi, “ ujar Kirby Daley, ahli strategi di Newedge Group, lembaga finansial di Hongkong.

Penduduk Jepang yang sudah menua menambah persoalan dengan anjloknya produktivitas. Ini diperburuk dengan beban keuangan untuk warga lansia yang tidak bisa ditekan.

Toyota dan Sony menghadapi kompetisi yang sangat ketat dari Korea Selatan, China, dan tempat lain di Asia. “ Mereka dapat menawarkan produk sebaik produk Jepang dengan harga yang jauh lebih murah walau kualitas produk Jepang sendiri sudah mulai menurun, “ ujar Shinichi Ichikawa, ahli strategi di bank investasi Credit Suisse.

Beberapa pesaing baru di Asia, khususnya dalam bidang elektronik, mempelajari teknik-teknik dari perusahaan Jepang yang didirikan di kawasan Asia.

Remehkan kualitas

Menghadapi tekanan persaingan , korporasi Jepang mencoba bertahan dengan memangkas biaya produksi untuk dapat tetap bersaing. Namun, Sony, Toyota, dan perusahaan Jepang lain bermain-main dengan kontrol kualitas sebagai akibat dari penghematan. Mereka berupaya meraih target penjualan lebih besar dengan kualitas yang tak berubah atau bahkan turun.

Toyota meniru praktik menggunakan suku cadang yang sama untuk berbagai model mobil. Hal itu menghemat biaya, tetapi membiarkan diri terjebak soal cacat kecil yang bisa menyebabkan kesulitan pemasaran.

Toyota juga menghadapi kesulitan untuk menjamin kualitas karena penjualan global naik pesat mencapai 8,9 juta unit kendaraan pada 2008. Toyota menggantikan General Motors (AS) sebagai penjual mobil nomor satu dunia. Para analis menilai, pesatnya pertumbuhan penjualan itu tidak dapat dikendalikan oleh manajemen yang sama.

Hasilnya sudah jelas, penarikan lebih dari 7 juta mobil di AS, Eropa, dan China karena masalah akselerator pedal gas dan karpet lantai. Kejadian itu sampai-sampai menghentikan sementara produksi 8 jenis mobil di AS, termasuk Camry, mobil paling laris di AS.

Penarikan mobil itu merupakan tamparan bagi Toyota karena selama ini memiliki citra berkualitas bagus. “ Toyota terlihat sangat lamban dalam menangani kasus itu, “ ujar Kenneth Grossberg, profesor marketing di Universitas Waseda University, yang telah 16 tahun tinggal di Jepang. “ Toyota adalah perusahaan yang termasuk zero defects. Bagaimana mungkin kesalahan produksi itu bisa lolos ?, “ tambahnya.

Kasus Sony

Sony juga mengalami masalah pada kualitasnya. Tadinya Sony adalah pemain penting dalam perangkat digital. Di setiap rumah pasti ada produk Sony, seperti televisi, perangkat pemutar DVC atau VCD. Namun, semua itu tampaknya sudah berlalu. Kesuksesan Sony ditandai dengan mewabahnya walkman, perangkat musik portable yang meledak pada tahun 1980-an. Tetapi Sony dihajar oleh iPod dari Apple juga perlengkapan elekronik murah lainnya dari kompetitor Asia.

Sony mulai menghadapi masalah ketika salah menilai kecenderungan pasar. Sony sangat lamban memperkirakan peralihan layar televisi cembung ke layar televisi datar (liquid crystal display/LCD) dan lengah terhadap kesigapan Samsung, Korsel.

Kerajaan Sony pun meluaskan sayap ke keuangan, film, dan bisnis lain. Para analis mengatakan, perusahaan itu telah kehilangan fokus. Pada tahun 2006, Sony menarik hampir 10 juta unit baterai laptop karena beberapa diantaranya menyebabkan kebakaran.

Hingga kini, Sony terus merugi, bahkan ketika pemimpin baru Howard Stringer dipuji berhasil membawa Sony ke khitah.

Adapun JAL, masalahnya telah berlangsung bertahun-tahun, tetapi terus ditalangi karena pemerintah tidak mau perusahaan itu jatuh.

JAL menjadi korban ambisinya sendiri ketika melakukan investasi berisiko tinggi di beberapa resor di luar negeri serta hotel di Jepang. Ketika itu terjadi ledakan bubble properti dan saham pada awal dekade 1990-an. Sementara itu, biaya pensiun dan gaji terus menjulang ditambah dengan rute-rute penerbangan yang tidak menguntungkan demi keinginan politik pemerintah. Mudah dibayangkan, bagaimana keadaan keuangan JAL.

“ JAL memiliki reputasi sebagai penerbangan yang nyaman dan aman. Namun, pengeluaran besar dengan penghasilan semakin ciut membuatnya menjadi olok-olok dalam industri penerbangan, “ ujar Peter Harbison dari Pusat Penerbangan Asia Pasifik di Sydney.

Ketika menyatakan bangkrut dengan belitan utang 25,5 miliar dollar AS, para analis masih berharap JAL dapat bangkit menjadi perusahaan yang lebih kuat dan ramping.

Sumber  :

Pamor Korporasi Jepang Memudar – Kompas, 02.02.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: