Posted by: hagemman | February 8, 2010

SAHABAT LAMA DI ERA BARU

Hari itu, tahun 1955, Bung Karno berkunjung ke kota Leningrad (sekarang St Petersburg), Uni Soviet. Matanya tiba-tiba tertuju ke sebuah bangunan dengan kubah warna biru, berarsitek Asia Tengah. Bung Karno mendesak untuk mampir. Ternyata itu hanya sebuah gudang.

Lalu, Bung Karno mendapat penjelasan lebih jauh bahwa sang gudang sejatinya adalah sebuah masjid indah. Tatkala Komunis naik takhta, semua rumah ibadah ditutup, termasuk masjid tersebut.

Ketika Bung Karno melanjutkan perjalanan ke kota Moskwa, Khruschev bertanya, “ Apakah paduka menikmati kota Leningrad yang indah itu ? “  Bung Karno menjawab singkat, “ Saya tidak melihat dan menikmati kota yang Anda maksudkan itu. “  “ Wah, kok bisa. Paduka, kan, berada di sana beberapa hari, dan kota itu dikenal dunia sebagai kota indah, “ tutur Khruschev lagi. “ Masalahnya, saya tidak menemukan masjid di sana, “ ujar Bung Karno.

Setelah Bung Karno kembali ke Tanah Air, Khruschev memerintahkan agar masjid tersebut dibuka dan difungsikan kembali, hingga kini. Nama Bung Karno pun abadi di sana.

Ini adalah sebuah sikap tegas, kejeniusan diplomasi, dan juga sebuah kedalaman persahabatan  : Indonesia dan Rusia yang direfleksikan oleh Bung Karno dan Khruschev. Di Wisma Indonesia, Moskwa, tahun 1961, Bung Karno genap berusia 61 tahun. Di sana Khruschev duduk berdampingan dengan Bung Karno, saling menyulut api untuk cerutu mereka.

Persahabatan ini telah melintasi rentang waktu, yang pada tahun 2010 kita peringati : 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia.

Selama 60 tahun tersebut, bulan madu dinikmati antara tahun 1950-an hingga pertangahan tahun 1960-an. Angkatan bersenjata kita pada saat itu dilengkapi teknologi Uni Soviet, dan dikenal serta dihitung di Asia. Malah, Gelora Bung Karno yang kini masih tegak kokoh dijadikan kembaran Stadion Luzhniki di Moskwa. Ribuan anak-anak bangsa dikirim untuk meraih ilmu pengetahuan di Negeri Beruang merah tersebut.

Pemberontakan PKI muncul, bulan madu terinterupsi. Selama lebih dari 30 tahun hubungan Indonesia-Rusia sangat dingin, tetapi tak pernah terputus. Lalu, Uni Soviet bubar, reformasi Indonesia muncul.

Eloknya, persahabatan dan persaudaran kedua bangsa ini kembali mulai dirajut lagi. Pembelian alat-alat militer mulai lagi. Hubungan perdagangan kian meningkat. Jumlah turis Rusia ke Tanah Air kian naik tiap tahun.

Anak-anak muda Rusia kini sangat antusias mempelajari kebudayaan dan bahasa Indoensia, baik di perguruan tinggi di Rusia maupun yang ikut pertukaran mahasiswa di Indonesia. Malah sudah ada yang mampu menari tarian berbagai etnis di Indonesia dan menyanyi Widuri. Mereka adalah generasi baru Rusia yang mewakili zaman dan aspirasi baru.

Generasi tua Rusia yang memahami kebudayaan dan bahasa Indonesia memang mulai perlahan surut karena usia yang kian senja. Tahun-tahun terakhir ini, sejumlah universitas kembali mengaktifkan dan membuka pusat studi Indonesia.

Dengan ini semua, kegetiran hubungan masa silam mulai coba dihilangkan. Syak wasangka dan kecurigaan masa lalu pelan-pelan dikebumikan. Fondasi jembatan untuk dilintasi ke masa depan mulai kini seharusnya dipancangkan.

Belajar ke Rusia

Jalan yang terbaik untuk itu adalah memperbanyak mengirim putra-putri terbaik bangsa untuk datang ke Rusia, menimba ilmu pengetahuan. Kita harus terbuka mengakui kemajuan dan keandalan teknologi Rusia, bukan sebuah impian, tetapi kenyataan.

Teknologi perminyakan dan gas, misalnya, hingga kini Rusia masih terdepan. Begitu juga teknologi untuk mengeksplorasi kekayaan alam lainnya, Rusia masih terbilang kampiun. Dari perspektif ini, Indonesia mestinya banyak belajar dari Rusia karena kita memiliki kesamaan, yakni berlimpah dengan kekayaan alam.

Teknologi angkasa luar dan satelit hanya ada beberapa negara besar yang bisa bersaing dengan Rusia. Teknologi persenjataan dan pertahanan, apalagi. Masalahnya, fondasi ilmu murni : Matematika, Kimia, dan Fisika di negeri ini amat kuat. Ilmu nuklir, misalnya, karena itu adalah menu keseharian di berbagai universitas.

Hingga sekarang, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai universitas di Rusia hanya sekitar 105orang, sebagian terbesar adalah swasta dan mahasiswa yang menerima beasiswa langsung dari Pemerintah Rusia.

Angka ini jauh tertinggal apabila kita bandingkan dengan Malaysia, yang jumlah mahasiswanya mencapai angka 4.000 orang, yang pada umumnya dikirim oleh pememrintah. Vietnam memiliki mahasiswa sekitar 6.000 orang dan China mencapai 10.000 orang. Beberapa tahun terakhir, negara-negara Afrika dan Timur Tengah gencar sekali mengirim mahasiswanya ke Rusia untuk belajar berbagai bidang keilmuan.

Indonesia bisa memiliki berbagai keuntungan jangka panjang dengan kian memperbanyak mengirim pelajar dan majasiswa ke Rusia. Kita bisa mendiversifikasi sumber pengetahuan bangsa kita yang selama ini terkesan Amerika, Eropa, dan Jepang sentris.

Dari perspektif ini, alih pengetahuan dan keterampilan teknologi Rusia yang terkenal ketangguhan dan keandalannya tersebut bisa dengan mudah dan cepat ditransfer ke negeri kita. Kedua, biaya pendidikan tinggi di Rusia, untuk bidang tertentu, jauh lebih murah dibandingkan dengan sejumlah universitas di Tanah Air.

Bidang humaniora, Rusia juga adalah sebuah lahan persemaian yang bagus. Perkembangan kesenian di negeri ini juga sangat tinggi. Ini bisa dimaklumi karena peradaban Rusia jauh terentang ke belakang. Silih berganti tsar berkuasa di masa lalu, dengan gaya dan caranya masing-masing, kesenian Rusia tetap memperoleh tempat.

Bagaimana dengan soal ideologi marxisme dan leninisme yang kita haramkan itu ? Tak perlu terlampau gelisah. Dogma ideologis kedua ajaran itu sudah dikembumikan dari kurikulum-kurikulum pendidikan Rusia. Malah, Partai Komunis Rusia sekarang tinggal memperoleh 11 persen suara pemilih, jauh tertinggal daripada Partai Persatuan milik Putin yang meraih 65 persen suara.

Maka, dalam usia 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Russia, saya teringat peribahasa Rusia : Stary drug lusche novyh dvuh (satu sahabat lama lebih baik daripada dua sahabat baru).

Sumber  :

Sahabat Lama di Era Baru – Hamid Awaludin | Kompas, 03.02.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: