Posted by: hagemman | February 8, 2010

30 TAHUN REVOLUSI ISLAM IRAN & GENERASI KETIGA

Acara perayaan peringatan Evolusi Islam Iran ke-31 di mulai hari Senin (1/2) hingga Kamis pekan depan (11/2). Hal itu mengingatkan Kompas ketika mengunjungi area mausoleum pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Rahulloh Imam Khomeini, di Teheran, Kamis, 25 Juni 2009.

Mausoleum Imam Khomeini adalah makam Khomeini yang wafat pada 3 Juni 1989 dan makam putra keduanya, Ahmad Khomeini, yang wafat pada 1995. Musoleum terletak di distrik Behest-e Zahra, Teheran Selatan.

Distrik itu juga disebut distrik para syuhada dan Haram Mutahari karena banyak korban tewas dalam perang Iran-Irak (1980-1988) di kubur di distrik tersebut.

Segera disadari oleh siapa pun yang berziarah ke Mausoleum Imam Khomeini bahwa pemimpin revolusi Islam Iran itu terhormat di kala hidup dan semakin terhormat setelah wafat bagi sebagian kalangan. Rakyat Iran menobatkan Imam Khomeini pembebas negara dari tirani Dinasti Shah Iran.

Revolusi Iran itu melahirkan sistem politik Wilayat al Fakih. Sistem politik di Iran itu merupakan pilihan rakyat Iran melalui referandum 1 April 1979.

Kekuasaan Wilayat al Fakih saat ini cenderung mutlak sesuai dengan hasil referandum tersebut. Salah satu faktor utama dalam dinamika politik di Iran sejak revolusi tahun 1979 itu adalah perbedaan penafsiran terhadap sistem Wilayat al Fakih.

Konsekuensinya, berita dan analisis tentang Iran sejak revolusi negara itu didominasi isu politik. Intinya, dominasi politik di tangan pemimpin tertinggi menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dalam pengembangan politik Iran.

Hal ini menyebabkan banyak pertikaian dan keretakan politik. Padahal, banyak dimensi yang ikut menggoyang pilar-pilar revolusi, di antaranya masalah ekonomi dan demografi.

Ekonomi Iran dikenal berbasis minyak dan gas. Iran merupakan negara kedua terbesar di dunia pemilik cadangan minyak dan gas. Iran memproduksi 4 juta hingga 5 juta barrel minyak per hari.

Sekitar 45 persen pendapatan negara berasal dari ekspor minyak dan gas. Hanya 31 persen pendapatan negara berasal dari pajak dan pendapatan lainnya seperti turisme.

Sekitar 2 persen angkatan kerja Iran terserap di sektor pariwisata. Sekitar 2 juta turis dari mancanegara mengunjungi Iran per tahun. Sebagian besar obyek turis di Iran bersifat keagamaan, seperti kota suci Qom dan Mashad. Ada pula obyek turis sejarah seperti kota Esfahan.

Iran diperkirakan kini berpenduduk 75 juta jiwa. Lebih dari dua pertiga penduduknya berusia di bawah 30 tahun. Isu demografi itu sebenarnya sudah diangkat dalam debat kandidat presiden menjelang pemilu presiden di Iran pada 12 Juni 2009.

Kandidat presiden Hossein Mir Mousavi saat itu mengkritik kebijakan ekonomi Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang membawa inflasi di negara itu mencapai 25 persen dan angka pengangguran sekitar 16 persen.

Namun, isu ekonomi dan demografi itu kemudian kurang mendapat sorotan media massa. Dalam 30 tahun terakhir ini, jumlah penduduk Iran bertambah lebih dari dua kali lipat. Pada dekade 1980-an, yakni selama perang Irak-Iran (1980-1988) pertumbuhan penduduk Iran sangat tinggi, mencapai 3 persen setahun.

Generasi ketiga

Pemerintah revolusi Islam saat itu mendorong pertumbuhan penduduk dan memberi bonus uang serta bantuan lain kepada setiap keluarga yang melahirkan anaknya. Pada era perang Iran-Irak, Pemerintah Iran melihat setiap anak yang lahir ibarat lahirnya serdadu baru.

Dalam 20 tahun terakhir ini, yakni sejak berakhirnya perang Iran-Irak, Pemerintah Iran berhasil menekan pertumbuhan penduduk hingga kurang dari satu persen per tahun.

Sebagian besar pengunjuk rasa yang melanda jalan-jalan di Teheran, khususnya pascapemilu presiden bulan Juni 2009, adalah generasi yang lahir pada era meledaknya pertumbuhan penduduk di Iran itu.

Mereka adalah pemuda yang menghadapi realitas kehidupan yang mulai sulit di negaranya. Selain itu, Iran juga menghadapi sanksi ekonomi dari dunia Barat, khususnya AS, akibat isu program nuklirnya serta turunnya harga minyak dan gas di pasar dunia saat ini.

Para pengunjuk rasa itu juga disebut generasi ketiga revolusi. Mereka tidak mengalami langsung kehidupan di masa Shah iran Reza Pahlevi. Mereka juga tidak pernah berinteraksi secara intens dengan Pemimpin Revolusi Ayatollah Imam Khomeini.

Karena itu, daya rekat revolusi terhadap generasi ketiga tidak sekuat pada generasi pertama dan kedua. Pada gilirannya, generasi ketiga Iran ini jauh lebih kritis dan tidak terlalu terikat dengan doktrin revolusi.

Lepas dari itu, minyak Iran tidak berhasil dijadikan sebagai pilar pengembangan ekonomi, yang menjadi salah satu dasar kekuatan negara, juga tentunya tujuan revolusi.

Sumber  :

30 Tahun Revolusi Diisi Kelemahan – Kompas, 03.02.2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: