Posted by: hagemman | February 6, 2010

YANG PANTANG DIMUNTAHKAN

Kita harus jujur akui bahwa pemerintah nyatanya tidak mempersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk menyambut FTA (Free Trade Agreement) ASEAN-China, yang berlaku pada tanggal 01.01.2010, sejak disepakati pada 29.11.2004 lalu. Tampaknya daya upaya pemerintah kadung terfokus dan terkuras untuk hal-hal kekuasaan ketimbang melakukan aksi penguatan segenap fondasi kemampuan perekonomian dan produktivitas bangsa.

Maka ketika sang naga sudah melewati beranda dan masuk ke dalam rumah kita. Kita semua baru sadar terkaget-kaget. Di satu sisi kita paham konsep borderless states-nya Kenichi Ohmae dan dunia datar milik Thomas L Friedman ; artinya kita tidak dapat menangkal era globalisasi sebab kita adalah bagian dari globalisasi itu sendiri.

Tapi di sisi lain yang menjadi masalah besar adalah penetrasi China tidak bisa cuma ditangkal dengan kosakata berbau retorika soal persatuan pengusaha-pekerja-pemerintah semata dan hal-hal sejenis lainnya. Kendati kita menyadari kehadiran produk China (yang bukanlah barang baru) akan memberikan keuntungan relatif untuk terakumulasinya tabungan masyarakat. Disamping kita akan memiliki akses untuk memasuki dan memanfaatkan pasar raksasa milik China.

Kini pertanyaannya  adalah seberapa jauh pemerintah mampu untuk mengakomodasi dan mengakselerasikan seluruh kemampuan produktifitas bangsa secara maksimal guna merengkuh peluang dari FTA ASEAN-China ini.

Kita patut menjadi sungguh cemas jika waktu persiapan lima tahun saja ternyata tidak cukup, bagaimana mungkin kini setelah sang naga bercokol dalam rumah kita. Mampukah pemerintah menggenjot pengadaan infrastruktur, menjamin kontinuitas energi listrik, menurunkan suku bunga perbankan, memberikan insentif pajak yang lebih atraktif, menyehatkan industri manufaktur dan sederet prihal lainnya ? Silahkan Anda jawab sendiri. Yang jelas ancaman sang naga jauh lebih besar ketimbang peluang yang diberikan oleh sebab ketidaksiapan dan ketidakmampuan kita sendiri.

Dan percayalah, jangan pernah kita berbangga diri jika kita hanya bisa meraih kinerja ekspor ke China dengan produk-produk berbasiskan kekayaan sumber daya alam. Karena biar bagaimana pun juga produk-produk tersebut bukanlah produk yang terbarukan. Jadi berbanggalah kita jika kinerja ekspor kita berasal dari produk-produk bernilai-tambah.

Kini ujung-ujungnya mudah ditebak. Pemerintah akan menegosiasi ulang perjanjian di atas dengan salah satunya, strategi nontarif pada waktu 6 bulan ke depan. China tampaknya akan menyetujui kendati selama ini tidak menggubris hal-hal keberatan negara lain, misal terhadap AS sekalipun. Soalnya sederhana koq, apa yang sudah ada dalam mulut, pantang dimuntahkan sang naga – karena soal kapan menelan itu cuma butuh kesabaran. Sebab siapa sikh yang tidak mau bersabar sejenak untuk negeri se-gemah ripah loh jinawi ini dengan bangsanya yang gemar mengedepankan tampilan diri ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: