Posted by: hagemman | February 6, 2010

KITA BUTUH KETELADANAN

Tak lah elok jika bertipis telinga. Manakala kita sadar sebagai pemimpin bangsa nan besar. Jadi satu-satunya pusat harapan, bak dibawah siraman lampu sorot, di tengah kekelaman ketidaksabaran rakyat. Setidaknya itulah sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada dasarnya rakyat tetap hormat dan menaruh segala harapan pada dirinya. Juga sadar sesadar-sadarnya mengurus 230 juta orang bukan hal mudah. Tapi merupakan kenyataan menyesakan hingga dada bilamana ia berputar-putar pada kisaran politik pencitraan dengan inner cycle yang kian subur dan gemuk.

Dalam gradasi tertentu kita semua dapat memaklumi. Kita memang butuh tampilan pemimpin yang representatif dalam kurun penggalangan dukungan. Maksudnya saat kampanye. Kini masa itu sudah lewat. Ini adalah masa untuk berkarya dalam putaran kedua untuk membuktikan penepatan semua janji-janji.

Oleh sebab itu kita yang adalah rakyat berharap seorang SBY untuk tidak lagi mudah bicara dan kian selektif memilih topik dan pendengar yang tepat. Ketimbang mempertaruhkan pencitraannya pada sudut persepsi yang salah.

Sekali lagi kita semua mengerti jadi presiden itu tidaklah enak. Presiden juga adalah manusia. Disamping merasa senang juga ia bisa sedih, marah, kecewa, terhina, dan putus asa. Tapi terlalu kerap menyampaikan hal-hal berkonotasi negatif yang bermuara pada keluhan, ancaman, serta terzalimi ; juga akan menuai hal-hal yang negatif. Ada kata bijak bilang : mulutmu, harimaumu.

Jika almarhum ayah saya selalu mengeluh, saya pikir saat ini saya pun akan melakukan hal yang sama pada anak-anak saya. Tapi ayah bukan tidak pernah mengeluh, ia mengeluh.  Sebab ia seorang manusia bukan malaikat. Tapi hanya sesekali. Kami anak-anaknya paham dan mengerti apa yang sedang ayah perjuangkan dengan babak-belur. Ketika tahun-tahun berlari cepat, kami semua paham apa yang dilakukan almarhum ayah adalah : keteladanan.

Seorang SBY adalah tetap pemimpin dan bapak bangsa ini. Kita semua tetap menaruh hormat sekaligus juga harapan pada dirinya. Artinya, masih ada waktu baginya untuk mengubah diri. Dan itu bukanlah sebuah keaiban, melainkan keadaban diri nan jernih dari seorang pemimpin bangsa. Kesimpulannya kita, rakyat Indonesia, amat sangat butuh keteladan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: