Posted by: hagemman | February 4, 2010

18 ASOSIASI TIDAK SIAP HADAPI FTA

Sebanyak 18 asosiasi industri tidak siap menghadapi serbuan produk China pascapenerapan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China. Perjanjian ditandatangani tanpa melibatkan industriwan. Bertahun-tahun infrastruktur pendukung tidak digarap serius.

Dari 18 asosiasi industri yang memaparkan permasalahan menghadapi FTA ASEAN-China dalam rapat dengar pendapat di depan Komisi VI DPR, Jakarta, Senin (18/1), hanya industri makanan dan keramik berani bersaing di pasar global. Akan tetapi, kedua industri tersebut juga tetap meminta dukungan pemerintah dalam menjaga pasar domestik.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno mengatakan, FTA semestinya dipahami sebagai peluang memperbesar pasar, bukan seperti sekarang dipandang (sebagai) ancaman mengerikan.

Kalangan asosiasi beranggapan untuk memperbesar pasar, perlu memiliki daya saing. Hal itu antara lain diperoleh dari faktor ketersediaan energi listrik dan gas, sumber daya manusia, serta dana sebagai modal investasi.

“ Terus terang, banyak FTA ditandatangani, tanpa melibatkan industriwan. Hanya perjanjian dengan Jepang, kami sebagai pelaku industri diajak merintis dari bawaj hingga tercapai kesepakatan perjanjian, “ ujar Benny Soetrisno.

Ketua Gabungan Elektronika Heru Santoso meminta agar proses notifikasi produk elektronika ke Organinsasi Perdagangan Dunia (WTO) dipercepat keran Indonesia adalah pasar potensial yang diincar China.

Kekalahan Indonesia

Asosiasi Industri Baja dan Besi Indonesia (IISIA) Fazwar Bujang mengatakan, sejak FTA ditandatangani tahun 2004, China sudah mempersiapkan pembangunan industrinya.

“ Indonesia tidak bisa disalahkan kalau kalah bersaing. Bunga kredit di China bisa 4 persen per tahun, China pun sengaja memperlemah kurs mata uangnya dan pemberian insentif pajak, ” ungkap Fazwar.

KH Muhamad Unais Ali Hisyam dari Fraksi Partai kebangkitan Bangsa menuturkan, FTA bisa dipandang sebagai ancaman maupun peluang untuk kemandirian. Bukan hanya menjadi bayi manja yang terus minta diproteksi pemerintah.

“ Kalau FTA ini minta ditunda lima tahun, apakah kelak bunga kredit kita bisa mencapai 4 persen ? Infrastruktur sudah memadai ? Dan energi juga bisa mendukung aktivitas industri ? Industri sebetulnya tidak siap mengahadpi FTA ? Ataukah industri tidak menangkap sinyal-sinyal globalisasi ? “ ujar Unais.

Enam bulan

Menteri Perindustrian MS Hidayat, Senin (18/1) di Bandung, Jawa Barat, menegaskan, KementerianPerindustrian menargetkan proses negosiasi ulang harmonisasi 228 pos tarif yang berpotensi melemahkan industri domestik dalam perjanjian perdagangan bebas atau FTA ASEAN-China selesai enam bulan ke depan. Sejumlah pos tarif yang akan dinegosiasi ulang di antaranya berasal dari sektor tekstil dan produk tekstil, baja, manufaktur, serta elektronik.

Negosiasi ulang harus dilakukan secepatnya. “ Meskipun koordinator proses negosiasi ulang adalah Menteri Perdagangan, kami dari Kementerian Perindustrian tetak akan mendampingi secara intensif. Saya optimistis, dengan berbagai pendekatan, negosiasi ulang pos tarif bisa tercapai, “ jelas Hidayat.

Dia mengemukakan, negosiasi ulang pos tarif tercantum dalam kalusul pemberlakuan FTA ASEAN-China. Upaya tersebut menjadi langkah antisipatif jangka pendek karena terdapat sejumlah sektor industri yang belum mampu bersaing dan dipastikan tersisih jika harmonisasi bea masuk nol persen diberlakukan.

Saat ini, tim negosiasi ulang pos tarif telah melaukan pendekatan dengan pemerintah China.

Sumber  :

18 Asosiasi Tidak Siap Hadapi FTA – Kompas, 19.01.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: