Posted by: hagemman | February 3, 2010

BUKAN MESIN PERANG

Admiral Karl Doenitz amat menilai lebih peran para koki di armada kapal selam Nazi Jerman. Buatnya tanpa roti tidak akan pernah ada pertempuran. Begitu pula, Napoleon Bonaparte ; salah satu doktrinnya adalah prajurit le Grand Armee yang berperut lapar tak akan dapat memenangkan pertempuran. Dan ironisnya terbukti – ia sama dengan Adolf Hitler yang termehek-mehek keluar dari palagan Rusia, karena para prajuritnya kekurangan logistik nan masif akibat ganasnya musim dingin.

Kisah nyata lain, Jenderal Douglas MacArthur juga memperhatikan soal ini bahkan sampai yang sekecil-kecilnya, yakni dengan mengusung alat pembuat es krim sehingga ia dapat berpesta es krim dengan para prajuritnya sepanjang jalan menuju Tokyo, saat melakukan strategi lompat kataknya.

Maknanya seorang prajurit mutlak harus dipenuhi kesejahteraannya. Mereka bukan mesin perang, mereka adalah manusia. Sandang, pangan, dan papan adalah salah satu dari sekian banyak elemen kesejahteraan yang menjadi tugas negara untuk mewujudkannya.

Dan soal papan adalah cerita termutakhir yaitu prihal tempat tinggal para prajurit TNI yang menjadi sorotan masyarakat pada hari-hari ini.

Maka ketika kita sadar ada begitu banyak prajurit TNI yang masih belum memperoleh rumah dinas dan asrama/mes, kita sungguh merasa amat prihatin.  Lantas ketika kita mendengar berita yang dilansir media prihal penertiban rumah dinas yang masih ditinggali oleh keluarga para purnawirawan yang semestinya menyerahkannya kepada negara. Kesan awal, kita menangkap bahwa negara tidak menghargai jasa para purnawirawan. Padahal kebijakan dan sikap TNI adalah jelas yaitu tetap mengijinkan untuk ditinggali oleh isteri purnawirawan apabila purnawirawan tersebut meninggal dunia, akan tetapi jika keduanya telah meninggal maka putera-puterinya harus menyerahkan rumah dinas yang dihuni kepada negara.

Jadi minimnya ketersediaan rumah dinas bagi para prajurit – jika kita telusuri, akar permasalahannya ternyata tidaklah sesederhana yang kita duga. Yakni adanya karut marut sistemik pengelolaan dan administrasi, inkonsistensi pelaksanaan tata aturan di lapangan, warisan tarik-menarik kepentingan politik para elite, dan yang terbaru adalah ketentuan bagi TNI untuk tidak lagi berbisnis. Sehingga intervensi aktif pemerintah, baik melalui Kementerian Pertahanan dan kementerian-kementerian terkait lainnya, amat dibutuhkan untuk melakukan langkah terobosan buat mengatasi permasalahan ini. Dan biarkan, TNI hanya memfokuskan diri melaksanakan tugas tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara.

Kita semua amat berharap kesejahteraan prajurit TNI dapat ditingkatkan sesegera mungkin. Sungguh naif rasanya di satu sisi kita menginginkan kedaulatan dan martabat NKRI ditegakkan tapi di satu sisi yang lain kita abai serta menutup mata terhadap kegundahan para prajurit terkait kesejahteraannya.

Sekali lagi perlu kita camkan bahwa mereka bukan mesin perang, mereka adalah manusia.


Categories

%d bloggers like this: