Posted by: hagemman | January 27, 2010

IN MEMORIAM : SEDA MEMUTAR HALUAN EKONOMI

Kondisi ekonomi Indonesia tahun 1960-an sangat memprihatinkan. Gubernur Bank Sentral saat itu Radius Prawiro (1966-1973) dalam bukunya, Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi, menulis, inflasi pada tahun 1966 mencapai 650 persen. Rupiah terus dicetak, sementara produksi terus merosot.

Radius menulis, kebijakan “berdikari” alias berdiri di atas kaki sendiri yang dikampanyekan Presiden Soekarno membuat semua impor produk pangan dan barang distop. Impor beras dilarang pada Agustus 1964, membuat kondisi persediaan pangan nasional yang sudah sulit semakin pelik. Cadangan devisa dan emas terus menipis dari 408,9 juta dollar AS (1960-1965) menjadi minus 4,5 juta dollar AS.

Radius menulis pula, pendapatan per kapita dari 107 juta rakyat Indonesia saat itu hanya 60 dollar AS. Kurs rupiah merosot dari Rp 186,67 per dollar AS (tahun 1961) menjadi Rp 14.083 per dollar AS (tahun 1965). Defisit anggaran di atas 140 persen.

Pada kondisi akut ini, Franciscus Xaverius Seda ditunjuk sebagai Menteri Keuangan (1966-1968). Sebelumnya, pria asal Flores kelahiran 4 Oktober 1926 ini sudah menjabat sebagai Menteri Perkebunan (1964-1966) dan Menteri Pertanian (1966) pada era Soekarno.

Kondisi ekonomi yang buruk dan uang yang menipis sempat dituturkan Frans Seda saat terakhir kali bertemu Bung Karno tahun 1968 di Istana. “Kita semua dipanggil ke istana, saat MPRS memutuskan Pak Harto ditunjuk sebagai Pejabat Presiden,” ujar Frans Seda dalam wawancara berkenaan dengan hari ulang tahunnya ke-70, 4 Oktober 1996.

“Waktu itu tanggal 21 Pebruari 1968, Bung Karno menyerahkan kekuasaan. Sebelum diturunkan sebagai Presiden, pukul 19.00 kita dipanggil Pak Harto ke istana. Saat semua berdiri diam, mendadak Bung Karno bilang, ‘Mana Menteri Keuangan ?’

“Saya, Pak,” jawab Frans Seda. “Ini istana musti dicat, sudah mulai rusak, banyak rembesan air hujan.”  “Saya bilang tidak ada uang, apalagi ini lagi musim hujan,” ujar Frans Seda. Uang negara praktis nol.

Frans yang belajar ekonomi di Katholieke Ecobomische Hogeschool, Tilburg, Belanda, 1956, mengaku tak bisa berbuat banyak saat masih di kabinet era Soekarno. Anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) praktis menguasai semua lini pemerintahan. Dan, akibatnya, semangat anti-Barat dan anti bantuan Barat sudah demikian kental.

“Saat itu PKI mulai menyusup kemana-mana,” ujar Frans Seda. Muncul berbagai isu adu domba antargolongan. Frans Seda mengaku, bagaimana dia harus berhadapan dengan buruh-buruh perkebunan yang begitu radikal. “Namun, saya tak gentar, saya tetap hadapi mereka,” ujar Frans Seda sewaktu menjadi Menteri Perkebunan.

Repotnya, ujar Frans Seda, saat menghadapi Bank Sentral atau Bank Indonesia. Jusuf Muda Dalam yang memimpin Bank Sentral sangat pro-PKI. Pengelolaan Bank Sentral sangat sembrono sejak “ekonomi terpimpin” tahun 1957, Bank Sentral di bawah kendali pemerintah. Bank Sentral lebih banyak mencetak uang untuk menyiasati defisit.

Emil Salim, salah satu tim penasihat ekonomi tahun 1966 menulis, Frans Seda diandalkan untuk memutar haluan kebijakan pembangunan nasional. Maklum, Frans Seda masih dalam pemerintahan Presiden Soekarno, dimana Soekarno dan para menterinya menolak bekeja sama dengan negara dan lembaga-lembaga keuangan Barat. “Persetan dengan bantuan kalian,” ujar Soekarno saat itu.

Di pundak Frans Seda mulai dilakukan pembenahan dalam anggaran. Tadinya praktis segala urusan bekerja tanpa anggaran. “Pokoknya segala sesuatu ada di tangan negara, di tangan presiden. Presiden mau apa harus jalan,” ujar Frans Seda. Saat itu semuanya bekerja berdasarkan anggaran, anggaran berimbang. Pembelanjaan atau pengeluaran disesuaikan dengan anggaran penerimaan negara.

Radius Prawiro menulis, anggaran tahun 1967 dimulai dengan analisis dari keadaan ekonomi negara. Menteri Keungan Frans Seda menyusun anggaran di mana pendapatan diproyeksikan sebesar Rp 81,3 miliar. Angaran ini disesuaikan dengan pengeluaran. Juga mulai dikenal adanya pengeluaran “rutin” dan “pembangunan”.

Semua langkah ini setelah pemerintah melakukan pemotongan nilai uang dalam upaya mengendalikan hiperinflasi yang terjadi. Soalnya, uang yang beredar lebih banyak berada di tangan para spekulator. Harga bahan bakar minyak juga dinaikkan dari Rp 4 per liter menjadi Rp 16 per liter.

Banyak yang protes, terutama para spekulator yang juga orang-orang kaya. Akan tetapi, Frans Seda dan tim ekonomi, antara lain Prof Dr Wijojo Nitisastro (Ketua Bappenas 1867-1971), Prof Sumitro Djojohadikusumo (Menteri Perdagangan 1968-1973), Prof Dr M Sadli (Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal 1967-1973), dan para ekonom muda, seperti Emil Salim, tetap tak gentar.

Emil Salim berkisah, Frnas Seda diperlukan untuk bisa memulihkan kembali perekonomian Indonesia, terutama di kalangan lembaga keuangan dan negara Barat. “Delegasi Dana Moneter di bawah pimpinan Tun Thin mendatangi Frans Seda di rumahnya di Jalan Sriwijaya untuk meyakinkan perlunya rencana rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi Indonesia,” ujar Emil Salom.

Frans Seda pun lebih memilih membela bangsa dan negaranya ketimbang Soekarno yang juga sangat dikaguminya. Mulai tahun 1968, Indonesia kembali berhubungan dengan negara-negara Barat, antara lain dengan terbentuknya Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI). Belanda menjadi ketua IGGI karena dianggap kenal soal Indonesia. Namun, boleh jadi, lobi Frans Seda memainkan peran kunci bagi posisi kunci Belanda ini.

Kompak dan hebat

Kehebatan dan kekompakan tim ekonomi pada awal Orde Baru ini yang membuat ajang ulang tahun ke-70 Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Oktober 1996, menjadi ajang reuni. Frans Seda seperti menemukan dunianya sendiri di awal Orde Baru.

Saat itu hadir Prof Sumitro Djojohadikusumo (Menteri Perdagangan 1968-1973, Menteri Negara Riset 1973-1978), juga hadir Prof Dr Widjojo Nitisastro (pernah menjabat Ketua Bappenas 1867-1971, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional 1971-1973, Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas 1973-1988, dan penasihat ekonomi Presiden 1 April 1993).

Hadir juga Prof Dr M Sadli (Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal 1967-1973, Menteri Tenaga Kerja 1971-1973, dan Menteri Pewrtambangan dan Minyak Bumi 1973-1978), dan Prof Dr Subrtoro (mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi 1971-1973, Menaker, Transmigrasi dan Koperasi 1973-1978, serta Menteri Pertambangan dan Energi 1978-1988).

Beberapa dari tim ekonomi ini kini sudah bergabung lagi di alam sana. Frans Seda sudah berpulang ke Sang Pencipta pada 31 Desember 2009. Seandainya mereka kompak lagi dan menyumbang ide pemulihan ekonomo negeri ini.

Saat wawancara, Frans Seda tidak banyak berkisah soal langkah pemulihan dan stabilitas ekonomi yang diambil saat itu. Frans Seda yang sederhana dan rendah hati memang lebih banyak berkisah soal kehidupan dan perjalanan hidup pribadinya ketimbang apa yang dibuat bagi negara dan bangsa ini.

Akan tetapi, omong-omong, mengapa Pak Frans ketika itu memilih belajar ekonomi ketimbang hukum yang saat itu begitu populer ? Demikian salah satu pertanyaan saat wawancara. “Yang penting bisa sekolah ke luar negeri,” ujar Frans Seda sampai tertawa lepas.

“Sebetulnya saya mau ambil hukum di Universitas Indonesia (UI). Tetapi, saat itu datang kesempatan dari Gereja Katolik di Flores untuk bea siswa belajar ke Belanda. Ilmunya terserah,” ujar Frans Seda.

Tapi, dengan belajar di Belanda, Frans Seda tidak saja menimba ilmu ekonomi. “Belajar di Belanda saya anggap sebagai masa mematangkan nasionalisme. Di sana, Soekarno dihina, memaksa kita membela Soekarno. Rasa nasionalisme pun digodok,” ujarnya.

Frans Seda terakhir kali duduk dalam kabinet sebagai Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973). Meski demikian, dia tetap dipercaya menjadi penasihat ekonomi sejumlah presiden. Boleh jadi sikap ketus Frans Seda kadang membuat orang menyangka dia bukannya memberikan nasihat, tetapi memarahi lawan bicaranya.

Frans Seda membaktikan dirinya sejak awal kemerdekaan, pada era Soekarno, era Soeharto, dan era Reformasi. Sebuah penghargaan dari negeri ini pantas disandangnya.

Sumber  :

In Memoriam : Frans Seda Memutar Haluan Ekonomi – Pieter P Gero | Kompas, 11.01.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: