Posted by: hagemman | January 20, 2010

REVITALISASI MEMARJINALKAN PEDAGANG GUREM

Tidak kumuh dan tidak becek. Inilah konsep pasar yang kini dikembangkan di Kota Surabaya. Ketakutan pengelola pasar tradisional dengan kondisi wajah pasar yang buruk merupakan salah satu faktor keharusan merevitalisasi pasar.

Pasar bukan lagi sekadar tempat berbelanja ibu rumah tangga. Jadi, kondisinya harus benar-benar bersih agar pengunjung merasa nyaman ketika beraktivitas di kompleks pasar sesungguhnya. Maka, pasar secara perlahan tetapi pasti mulai direvitalisasi.

Investor lokal, bahkan asing, berlomba membidik lokasi pasar untuk disulap menjadi pasar modern dengan segala konsekuensinya. Pemilik modal datang mengiming-imingi peningkatan kesejahteraan pedagang dengan merenovasi pasar becek menjadi pasar bersoh. Bahkan, pasar dilengkapi pendingin ruangan dan sarana lengkap.

Proses renovasi yang cenderung tidak melibatkan pedagang umumnya berjalan mulus kendati ada beberapa pasar yang belum berhasil, seperti Pasar Pucang, Pasar Keputran, Pasar Blauran, dan Pasar Turi yang kini dalam proses lelang.

Kompleks pasar diciptakan berupa gedung menjulang tinggi lengkap dengan segala fasilitas pendukung. Sarana pendukung pasar, yang kini konsepnya sebagai tempat piknik keluarga, dilengkapi tempat bermain anak. Bahkan, di pasar disediakan tempat bagi komunitas dengan kegemaran tertentu, misalnya hobi tanaman atau hewan.

Sewa mencekik

Atas nama kenyamanan pengunjung, pengelola pasar seperti PD Pasar Surya gencar merenovasi. Beberapa pasar sudah diperbaiki dengan menggandeng investor, yang umumnya menerapkan sistem build, operate and transfer (BOT). Dengan model ini, investor berhak menjual kios kepada pedagang dengan harga mahal. Masa BOT biasanya minimal 20 tahun. Setelah itu pengelolaan pasar diserahkan ke Pemerintah Kota Surabaya.

Bagi para pedagang gurem, seperti penjual bawang merah yang dikupas atau ikan dengan omzet tidak lebih dari Rp 50.000 per hari, tarif sewa kapling berukuran 1,5 meter x 2 meter sebesar Rp 650.000 per bulan sangat mencekik.

Tarif sewa kios berukuran 1,5 meter x 2 meter minimal Rp 4 juta dan maksimal Rp 27 juta per lima tahun. Sebagai contoh, tarif sewa kios per meter persegi sebesar Rp 4 juta hingga Rp 27 juta selama lima tahun di Pasar Kupang Gunung. Mendengar harga swa kios saja, pedagang gurem sudah mundur.

“Uang dari mana untuk bayar sewa ? Penghasilan saja maksimal Rp 75.000 per hari. Keuntungan yang bisa dinikmati maksimal Rp 25.000, jadi tidak mungkin mampu menyewa kios,” kata pedagang bumbu dapur di Pasar Turi.

Pedagang besar di Pasar Turi saja berkeberatan atas harga kios berukuran 1,5 meter x 2 meter yang ditawarkan investor sebesar Rp 35 juta untuk masa pakai lima tahun. Pedagang Pasar Tambahrejo harus menyewa kios Rp 118.000 per bulan di luar biaya listrik dan air. Sebelum direnovasi, pedagang cuma membayar Rp 1.000 sehari.

Pedagang Pasar Wonokromo merasa rugi atas keberadaan pasar modern di gedung atas pasar tersebut. Harga kios yang sangat mahal tidak sebanding dengan pendapatan. Pembeli di Pasar Wonokromo juga tidak seramai yang dibayangkan. Beberapa pemilik kios tengah menawarkan kios mereka kepada pedagang lain.

Omzet merosot

Revitalisasi pasar ternyata tidak seindah gedungnya. Bangunan mentereng dilengkapi berbagai fasilitas dikarenakan konsep pasar sebagai pusat wisata sehingga banyak aktivitas bisa dilakukan di tempat itu. Artinya, pasar bukan sekadar tempat berbelanja dan khusus untuk kaum hawa.

Pengelola pun tidak pernah berhenti meningkatkan pelayanan agar pengunjung membeludak. Walaupun demikian, pedagang menyebutkan bahwa banyak pengunjung bukan indikasi omzet melambung. Pedagang mengeluhkan, lengkapnya sarana di pasar dan semakin nyamannya pengunjung tidak mampu mendongkrak pendapatan.

Pasar diperbaiki memang impian pedagang, tetapi bukan berarti pedagang gurem otomatis tersingkir. Kelompok penjual bumbu dapur, sayur, dan ikan, yang dagangannya hanya digelar di atas selembar plastik, langsung kehilangan tempat mencari nafkah.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memang membuat konsep di setiap pasar yang direnovasi, bahkan pusat perbelanjaan modern, wajib menyediakan kapling atau lahan khusus bagi pedagang mikro. Pelaku usaha kecil juga diberi fasilitas kios gratis agar produk lokal dekat dengan konsumen. Di atas kertas, konsep ini sangat ideal. Artinya, pedagang kecil dan besar bertarung merebut pasar. Persoalannya, arena yang disediakan untuk pelaku usaha gurem cenderung tidak strategis. Akibatnya, pedagang memilih mundur teratur karena tidak banyak pembeli.

Mereka memilih kucing-kucingan dengan petugas satuan polisi pamong praja. Hal itu karena prinsip mereka adalah bisa berdagang dan dekat dengan konsumen. Jangankan dipaksa untuk menyewa kios atau membelinya, ketika PD Pasar Surya menaikkan iuran saja pedagang langsung mengajukan protes.

Pemkot Surabaya, jangan terlalu memaksakan diri merevitalisasi pasar sebelum ada solusi bagi pedagang gurem. Sekatang pedagang tradisional semakin terpinggirkan oleh kehadiran peritel asing maupun nasional yang sudah menerobos daerah terpencil.

Pasar swalayan pun sudah membanjiri setiap sudut Kota Surabaya. Bahkan, dua pasar swalayan dengan pengelola berbeda berdiri berdampingan. Keduanya menerapkan operasi 24 jam sehingga menggerus pasar kios kecil. Pemerintah seolah tidak peduli pada hilangnya sumber penghasilan pedagang kecil, bukan masalah bagi pemerintah. Hal paling utama adalah bagaimana investor diberi keleluasaan merambah pasar meski mengorbankan pelaku ekonomi kecil.

Sumber  :

Revitalisasi Memarjinalkan Pedagang Gurem, Agnes Swetta Pandia | Kompas Jawa Timur 18.01.2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: