Posted by: hagemman | January 20, 2010

PASAR DIKUASAI PEMODAL

Pembangunan pasar tradisional yang mengusung konsep modern cenderung dikuasai pemodal. Tarif sewa bagi pedagang kerap dinilai terlalu mahal bagi pedagang kecil sehingga mereka akhirnya terpinggirkan.

Biasanya saat pasar tradisional dibangun, pedagang diminta untuk pindah ke tempat penampungan sementara. Setelah pasar dibangun, biasanya Perusahaan Daerah Pasar Surya menetapkan tarif sewa untuk tiap kapling.

Adapun yang menjadi persoalan, tarif yang ditetapkan dinilai terlalu tinggi. Akibatnya ada pedagang lama yang memilih berjualan di luar pasar atau pindah ke lokasi lain karena mereka tidak sanggup membayar tarif yang sudah ditentukan.

“Hal tersebut menjadikan pasar tradisional akhirnya hanya dimiliki pedagang yang mempunyai modal,” kata Ketua Umum Aliansi Paguyuban Pedagang Pasar Surabaya Andreas Felix, Rabu (13/1) di Surabaya.

Dia menilai selama ini pengembangan dan pembenahan pasar tradisional menjadikan pedagang sebagai obyek semata, bukan sebagai subyek maupun aset. Padahal nantinya pedagang yang menempati pasar tradisional. “Kalau dilibatkan saja tidak pernah, bagaimana pemerintah bisa mengakomodasi kepentingan pedagang,” tuturnya.

Menurut Andreas, tuntutan dari pedagang tradisional sederhana saja. Selain menuntut kejelasan status dalam hubungan antara pedagang dan PD Pasar Surya, mereka meminta organisasi pasar diakui. “Harus diingat bahwa pedagang seharusnya menjadi mitra dan aset, namun PD Pasar Surya bahkan mengesampingkan penataan pasar dan pembinaan pedagang,” ucapnya.

Belum berhasil

Berdasar pantauan Kompas, upaya pembangunan pasar tradisional yang menggunakan konsep pasar modern belum berhasil. Salah satu contoh, Pasar Tambahrejo telah mencontoh konsep pasar modern.

Setelah dibangun, pasar tersebut tidak lagi becek dan berbau seperti pasar tradisional pada umumnya. Sebagian besar kios di pasar yang berlantai dua itu bahkan masih belum berpenghuni.

Sedangkan okupansi Pasar Kupang Gunung yang sedang dalam pembangunan kini masih 70 persen. Salah satu pedagang lama, Maesaroh (55), memilih berjualan di luar pasar karena tarif yang ditetapkan terlalu mahal. “Saya tetap berjualan di luar saja, tidak sanggup membayar mahal,” ujarnya.

Sementara itu, di pasar tradisional Mangga Dua yang dikelola pihak swasta PT Sarana Niaga Surya Makmur setiap pedagang dipatok harga sewa lapak Rp 650.000 per bulan dan biaya kebersihan serta keamanan Rp 100.000 per bulan. “Kami terpaksa pindah ke sini karena jualan di pinggir jalan dilarang. Risikonya ya harus bayar mahal tiap bulan,” ucapnya.

Karena tak kuat membayar harga sewa, sebagian pedagang terpaksa menyewa lapak bersama-sama. Akibatnya, mereka hanya mendapat keuntungan terbatas.

Suksesi lahan

Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Bagong Suyanto mengatakan, pemerintah mulai menerapkan konsep pasar modern untuk pembangunan pasar-pasar tradisional. Dengan mengedepankan keindahan dan kemegahan, konsekuensinya yang harus dihadapi pedagang adalah harga sewa kios yang mahal.

“Karena harga sewa yang mahal, maka terjadi proses suksesi lahan usaha. Akhirnya, hanya pedagang-pedagang bermodal kuat yang bisa memanfaatkan kios-kios baru di pasar,” tuturnya.

Bagong mengusulkan, agar pedagang-pedagang kecil tak semakin termarjinalkan, pememrintah seharusnya menerapkan kebijakan seperti pemberlakuan subsidi silang dan perlindungan khusus bagi pedagang kecil. Perlindungan bagi pedagang kecil dilakukan dengan pembatasan tegas pembangunan mal dan pasar modern di tengah kota.

Sumber  :

Pasar Dikuasai Pemodal | Kompas Jawa Timur, 14.01.2010
Grafik : Handining | Foto : A Ponco Anggoro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: