Posted by: hagemman | January 18, 2010

SARJU DAN TEMPAT KOS BERNAMA : SEL PENJARA

Belum genap setahun Sarju Wibowo menjabat kepala Rutan Wanita Pondok Bambu. Namun, kemarin (13/1) dia harus angkat kaki setelah Satgas Pemberantasan Mafia Hukum menemukan berbagai pelanggaran. Salah satunya, memberikan ruang spesial kepada Artalyta Suryani alias Ayin.

Rumah dinas bercat cokelat muda yang bersebelahan dengan Rutan Wanita Pindok Bambu itu seolah tak berpenghuni. Kelambu putih menutup setiap ruas jendela di rumah tersebut. Ruang teras yang dilengkapi satu set kursi kayu seolah tak pernah diduduki. Sejumlah kucing tidur melingkar di kursi tersebut. Di garasi juga tak ada mobil terparkir.

Di rumah seukuran tipe 70 itulah sehari-hari Sarju Wibowo, Karutan Pondok Bambu, tinggal. Sebentar lagi, dia harus meninggalkan rumah yang dihuninya sejak Pebruari 2009 itu. Sebab, rumah tersebut melekat dengan jabatan. Nanti rumah itu menjadi fasilitas bagi pejabat baru, Catur Budi Patayatin, mantan kepala rutan Kelas II A Jakarta Timur yang kemarin menggantikan Sarju. Ini kali pertama rutan Pondok Bambu dipimpin perempuan. Sebelumnya kepala rutan wanita itu selalu laki-laki.

Di rumah itu Sarju tinggal sendirian. Istrinya bertugas sebagai kepala sekolah di sebuah SMP di Jepara, Jateng. Menurut informasi dari para pegawai, sebelum dipindahkan ke Jakarta, Sarju mengepalai rumah tahanan di Jepara. Karena keluarganya tinggal di kampung, Sarju setiap pekan menyempatkan pulang. “Dia menggunakan sistem PJKA (pulang Jum’at kembali Ahad),” jelas seorang pegawai rutan. Senin pagi dia harus memulai aktivitas sebagai pemimpin rumah tahanan yang dihuni 1.164 orang itu. Namun, kalau kegiatan padat, Sarju tak pulang. Karena itu, pedagang yang berderet di seberang rumahnya juga jarang melihat anak dan istrinya.

Di mata para pegawai Rutan Pondok Bambu, Sarju dikenal sebagai sosok yang tekun bekerja. Meski rumahnya bersebelahan dengan kantor, pria asal Sragen itu tak pernah berangkat ke kantor ngaret alias terlambat.

Saat tiba waktunya salat Duhur dan Asar, Sarju selalu pulang ke rumah untuk salat. Sepuluh menit kemudian, dia balik lagi ke kantor. Untuk makan siang, terkadang Sarju meminta pegawainya membeli makan pada pedagang depan rutan, lalu dibawa ke ruang kerjanya.

Pasca sidak satgas ke rutan, tak banyak pegawai mau memberikan keterangan soal pribadi Sarju. Termasuk kinerjanya selama memimpin rutan tersebut. Mereka tampaknya benar-benar shock dengan kedatangan tim bentukan Presiden SBY pada Minggu malam lalu (10/1) itu. Apabila, ditanya lebih jauh soal Sarju, mereka memilih bungka,. “Itu urusan atasan. Saya nggak mau ikut-ikut ah,” ujar seorang pegawai perempuan.

Ada pula pegawai yang reaksinya berlebihan. Saat ditanya soal gebrakan Sarju selama menjabat, dia tak mau menjawab. Malah, dia memilih menyemprot Jawa Pos. “Anda tahu, sidak pekerjaan satgas. Tapi, persoalan ini makin diperuncing oleh pers. Jadinya, kayak begini,” terang seorang pegawai bertubuh subur itu kemudian ngeloyor pergi.

Meski demikian, masih ada satu dua orang yang mau menjawab soal pribadi Sarju. “Orangnya suka salaman ke semua pegawai. Setiap pegawai selalu disalami,” terang Heri, pegawai yang bertugas mengawasi tahanan anak. Di rumah tahanan itu, selain wanita, juga ada ratusan anak di bawah umur yang tinggal di dalam satu sel.

Karena terungkapnya peristiwa Minggu malam itu, ada juga pegawai yang berseloroh. “Kalau saya mengakui memang main-main, Mas. Tapi mainnya di pos, harus awas. Maklum sipir. Ceroboh sedikit bisa kena marah pimpinan,” ujarnya lantas terbahak.

Apakah Sarju dekat dengan tahanan spesial, terutama Ayin dan Aling ? Para pegawai berseragam cokelat itu menilai bahwa Sarju mengenal mereka. Sebab, selama menjabat, Sarju sering turun ke bawah. “Bapak kan sering turba (turun ke bawah) kalau warga binaan ada kegiatan. Mestinya kenal dong,” jelas pegawai lain yang mewanti-wanti namanya tak disebut. Namun, sejauh apa kedekatannya, pegawai itu tak menjawab. “Tapi saya kira, karena istrinya pegawai negeri. Pasti bapak nggak ngoyo cari sampingan,” ujarnya.

Menurut dia, di sana banyak juga pegawai yang memiliki bisnis sampingan, seperti jual beli mobil bekas, toko kelontong, dan sebagainya. Pedawai itu berbisik bahwa kamar mewah itu sebenarnya sudah lama ada. Tepatnya, beberapa saat setelah Ayin dieksekusi jaksa KPK, Maret 2009.

Namun, ada beberapa pegawai di bagian lain yang berani bersumpah bahwa mereka mengetahui ada kamar istimewa itu setelah sidak satgas. “Demi Allah saya tahunya baru setelah sidak itu, Mas,” ujarnya. Selama ini dia tak pernah menggubris ruang kegiatan yang disulap bak kamar hotel itu.

Bagaimana kamar khusus Aling yang dilengkapi ruang karaoke dan foto-foto pribadi ? Seorang pegawai menuturkan, sebelum ada sidak, dia sempat menyarankan napi seumur hidup kasus narkoba itu tidak memasang foto-foto pribadi. Sebab, ruang tersebut selama ini sebagai ruang kegiatan untuk umum, sehingga lebih baik dipasang foto-foto saat para napi memamerkan kerajinan tangan hasil karanya kepada Menkum HAM Patrialis Akbar beberapa waktu lalu. Namun, Aling tak menggubris.

Setahun memimpin, Sarju juga dinilai tidak punya gebrakan alias sama saja dengan para pendahulunya. “Saya kira masih sama saja. Waktu setahun itu belum cukup untuk membikin banyak perubahan,” ucap pegawai bidang bimbingan kerja yang sebelumnya menjadi karyawan di Departemen Penerangan itu.

Sejak departemen itu dibubarkan di era Gus Dur, memang banyak pegawai yang dilebur ke rumah tahanan dan lapas. Di rutan itu saja setidaknya ada 50 pegawai eks Deppen.

Sarju yang ditanya soal pencopotannya hanya berucap singkat. “Terima kasih, terima kasih ya. Saya nanti ditugaskan di kantor Dirjen Pemasyarakatan,” jelasnya.

Persoalan yang belum bisa diatasi sarju, antara lain, masih banyaknya keluhan pungutan liar di rumah tahanan tersebut. Seorang tukang ojek yang purinya ditahan di rutan itu karena kasus penipuan mengeluhkan banyaknya biaya yang harus dibayarkan kepada pihak rutan. Padahal, di halaman utan dipasang banyak poster berisi antipungutanliar. “Kami ini hanya tukang ojek. Masuk penjara susahnya makin bertumpuk,”jelas pria yang tinggal di kawasan Petamburan, Jakarta Barat itu.

Saat masuk penjara, anaknya yang kini berusia 29 tahun dan memiliki bayi berusia 1,5 bulan itu harus mengeluarkan uang Rp 125 ribu. Kabarnya uang itu untuk bayar kamar. Dia juga harus berkumpul dengan sekitar 20 narapidana lain di blok F. “Ya, kamarnya seadanya,” jelasnya.

Pungutan tak sampai di situ. Setiap bulan pria 50 tahun itu juga harus mengirim uang untuk anaknya Rp 285 ribu. Uang itu untuk membayar banyak kebutuhan. Di antaranya, uang makan Rp 200 ribu. Sebenarnya, uang makan bagi napi diberikan secara gratis. Namun, bila cara itu yang dipilih, rutan akan memberikan nasi jatah seadanya. “Kalau ada uang saya bayar. Kalau nggak ada, ya nggak saya bayar,” terangnya.

Selain itu, lanjut pria tersebut, anaknya minta uang yang katanya untuk iuran listrik dan air. Besarnya Rp 50 ribu. Sisanya Rp 35 ribu untuk sewa kamar. Bukan hanya itu. Ada juga uang sewa rompi Rp 5 ribu untuk sekali pakai. Rompi ini biasanya dipakai napi ketika menemui tamu. “Namanya anak. Kalau nggak ada, ya dicari-carikan,” ucapnya. Yang pasti, lanjutnya, masuk tahanan itu justru seperti orang kos. “Orang ditahan itu sudah susah, masuk tahanan makin dipersusah,” ungkapnya.

Demikian juga untuk mengurus pembebasan bersyarat. Pria bertubuh subur itu mengaku harus mengeluarkan dana Rp 4,5 juta untuk mengurus berkas pembebasan putrinya. “Sebagian dana ya untuk rutan. Saya nggak tahu rinciannya,” ucapnya.

Soal biaya-biaya itu, Kepala Kanwil Dephum HAM DKI Jakarta Arsjudin Rana mengungkapkan, tidak ada biaya-biaya untuk orang yang ditahan. “Tidak ada biaya itu,” jelasnya Senin (11/1) lalu.

Sumber  :

Seperti Kos, Napi Bayar Kamar hingga Listrik, Anggit Satriyo | Jawa Pos, 14.01.2010

Catatan :  Artikel investigatif luar biasa dari Mas Anggit Satriyo yang membuat kita merenung bahwa yang mengelola penjara mestinya yang jadi penghuni, bukan para tahanan yang mestinya dibina untuk menjadi manusia Indonesia yang baik. Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: