Posted by: hagemman | January 12, 2010

VOORMAN, ARTHALYTA, DAN LIMARITA

Pernahkah kita membayangkan seperti apa sikh sel penjara ?  Saya pikir pasti tak ada yang cukup gila di antara kita yang membayangkan sel penjara seperti kamar hotel berbintang. Coba kunjungi saja Museum Fatahilah. Di sana ada penjara bawah tanah yang gelap, pengap, dan lembab. Kronik sejarah mengatakan jika musim hujan turun, lantai sel dipenuhi air – jadi jangan dibilang jika hujan terus menerus dan di bilangan Kastil Batavia banjir ; maka sel penjara tentu dipenuhi oleh air. Yang artinya juga sumber penyakit macam-macam baik kulit, disentri, dan malaria.

Hal lain lagi, ada sebuah catatan menarik dari sebuah lagu karya kelompok legendaris Koes Bersaudara yang berjudul Voorman. Lagu berirama rock and roll yang enak didengar ini berdurasi amat singkat yaitu 2 menit 15 detik. Tapi sesungguhnya amat bermakna untuk kita membayangkan saat mereka mendekam di Penjara Glodok pada tahun 60-an.  Mari kita berdendang sejenak.

Voorman …
Jangan dulu kau kunci kamarku
Tunggu sebentar permintaanku
Kan kupetik bunga biru

Yeah … Voorman
Kutahu kamu baik hati
Kau boleh mengurungku disini
Setelah aku kembali …

Aaah … Voorman
Kamu sombong dan keji
Jangan kamu menakuti
Tak kan aku lari nanti

Yeah … Voorman
Kuberjanji lekas kembali
Dengan bunga yang kuingini
Melepas sedih di hati …

Tak ada keistimewaan

Sejatinya peraturan dan ketentuan hukum kita tidak mengenal keistimewaan bagi seorang narapidana untuk memperoleh perlakuan yang berbeda dengan narapidana lainnya selama di dalam penjara. Hanya memang bukanlah rahasia jika praktek-praktek yang mencederai azas keadilan ini masih terjadi.

Sebuah harian nasional pernah melansir di Lembaga Pemasyarakatan atau Rumah Tahanan sesungguhnya apa pun bisa diatur, asalkan punya uang untuk membayar semua bentuk-bentuk keistimewaan yang diinginkan. Dari soal lokasi dan jenis sel, soal keamanan diri, soal service luar dalam, soal apa pun semua bisa diatur.  Aneh tapi nyata. Mari kita simak kabar teranyar soal yang memiriskan hati dan rasa keadilan ini.

Fakta mencengangkan

Inspeksi mendadak oleh anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum, Minggu (10/1) malam, di Rumah Tahanan Khusus Wanita Kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur, menemukan sejumlah fakta yang mencengangkan.

Sejumlah ruangan di dalam gedung perkantoran, yang berada di dalam kompleks rutan tersebut, seharusnya gudang untuk perkantoran petugas rutan, disulap menjadi ruang pribadi mewah yang dipakai nenerapa narapidana semacam terpidana kasus suap Arthalyta Suryani dan terpidana seumur hidup kasus narkoba, Limarita.

“Tadinya saya cuma dengar kabar ada fasilitas mewah diberikan kepada narapidana tertentu, tapi baru sekarang saya lihat sendiri. Ternyata jauh lebih luar biasa. Tadi kami lihat sama-sama ruangan Limarita malah punya ruang karaoke khusus yang begitu mewah,” ujar anggota satgas Yunus Husein, tertawa.

Yunus bersama dua anggota satgas lain, Denny Indrayana dan Mas Ahmad Santosa, mendatangi satu per satu ruangan mewah itu dan mengajak keduanya bicara. Ruangan mewah milik Arthalyta berada di lantai tiga gedung dan mendapat giliran pertama yang mereka kunjungi. Saat para anggota satgas dan wartawan tiba, Arthalyta tengah menjalani perawatan wajah dari seorang dokter spesialis dengan peralatan khusus di dalam ruangan itu.

Sementara itu, ruang Limarita berada di lantai dua. Dalam pengamatan Kompas, orang luar dipastikan tidak akan menyangka bahwa ruangan di gedung perkantoran tersebut ‘dialihfungsikan’ menjadi ruang tahanan mewah, yang fasilitasnya setara hotel bintang lima. Hal itu karena bangunannya sebetulnya berfungsi sebagai gedung perkantoran dan letaknya terpisah dari bangunan blok-blok sel yang ada di rutan tersebut.

Total blok sel yang ada berjumlah lima blok, yang diisi berdesak-desakan oleh sedikitnya 1.172 narapidana.

Fasilitas mewah yang ada di setiap ruangan keduanya adalah alat penyejuk ruangan, pesawat televisi layar datar merek terkenal, perlengkapan tata suara dan home theatre, lemari pendingin dan dispenser, serta telepon genggam merek Blackberry.

Ruang khusus karaoke

Di ruang Limarita terdapat ruang khusus untuk karaoke. Dua ruangannya dilengkapi seperangkat furnitur mewah dari kulit dan tempat tidur. Di kamar Arthalyta terdapat beberapa macam permainan anak-anak dan tempat tidur bayi dan dewasa.

Limarita mengakui semua fasilitas barang mewah yang ada di ruangannya dibelinya sendiri dan kemudian diserahkan sebagai milik Dharma Wanita rutan tersebut.

Saat akan memasuki gedung rumah tahanan, para anggota satuan tugas dan sejumlah wartawan yang ikut sempat nyaris bersitegang dengan sejumlah petugas rumah tahanan.

Kompas (12/1) lebih lanjut merilis kabar bahwa baik Arthalyta dan Limarita menempati tempat tersebut dari pagi hingga sore hari ; jika malam kembali ke sel masing-masing. Untuk kita semua yang sadar hukum adalah jelas bahwa praktek seperti di atas adalah tetap di luar kepatutan dan amat mencederai hati rakyat.

Sumber  :

Arthalyta Sedang Dirawat Wajahnya oleh Dokter Spesialis | Kompas, 11.01.2010
Foto : Kompas/Totok Wijayanto

Catatan : Voorman adalah orang yang ditunjuk dan dipercaya menjaga ketertiban dalam sebuah blok sel di penjara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: