Posted by: hagemman | January 8, 2010

EKONOMI 2010 : TERPERANGKAP PERSOALAN KLASIK

Tahun 2009 adalah tahun pemulihan bagi sebagian besar negara dari krisis ekonomi global 2008 ; dan tahun 2010 seharusnya menjadi momentum kuat pemulihan ekonomi dunia. Pemulihan ekonomi global yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan ini menjadi modal utama Indonesia untuk bergerak lebih cepat pada 2010.

Setelah sebelumnya terus mengalami koreksi ke bawah, untuk pertama kalinya prediksi ekonomi global versi Dana Moneter Internasional (IMF) mengalami koreksi ke atas pada Oktober lalu dengan perekonomian dunia diperkirakan tumbuh 3,1 persen pada 2010 dari minus 1,1 persen 2009.

Ini indikasi kuat bahwa perekonomian dunia sudah mencapai titik terendah, sebelum siap berekspansi kembali. Harga minyak mentah dunia bahkan sudah naik dua kali lipat dibandingkan Februari 2009. Indeks Dow Jones juga sudah bertengger kembali di atas 10.000

Hampir semua negara maju menunjukkan tanda pemulihan. Jepang mengalami rebound, tumbuh 4,8 persen pada triwulan III-2009. Kawasan Zona Eropa yang pada triwulan II masih tumbuh negatif, pada triwulan III sudah tumbuh positif, dipimpin terutama oleh Jerman dan Prancis. Pemulihan ekonomi global ini terutama dimotori oleh negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China). India bahkan mencatat pertumbuhan 7,9 persen pada triwulan III-2009.

Satu-satunya bagian dunia yang masih ditawari ketidakpastian adalah Amerika Serikat (AS) karena tingkat pengangguran yang masih sangat tinggi (10,2 persen) dengan jumlah orang yang kehilangan pekerjaan masih terus bertambah 200.000 orang lebih setiap bulan. Presiden Barack Obama bahkan mengingatkan kemungkinan terpuruknya ekonomi AS ke dalam apa yang disebut “double-dip recession” jika pemerintah tidak segera mengambil langkah tegas menyangkut utang pemerintah.

Untuk Indonesia, tanda-tanda pemulihan sudah terlihat pada kuartal II-2009 dengan pertumbuhan domestik bruto (PDB) triwulan III-2009 tercatat sebesar 4,2 persen dibandingkan periode sama 2008 (year-on-year/yoy) dan kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut pada 2010.

Pemulihannya juga relatif broad-based atau terjadi hampir di semua sektor. Sektor-sektor nonpertanian yang banyak menyerap tenaga kerja, seperti manufaktur dan perdagangan, kembali tumbuh positif kendati kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi relatif kecil. Bahkan, tingkat pertumbuhan triwulanan sektor pertambangan, konstruksi, dan transportasi sudah melampaui level prakrisis (kuartal III-2008).

Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut bisa dikatakan masih sangat tidak berkualitas. Sektor yang bertumbuh terutama hanya sektor nontradeables (jasa), sementara sektor tradeables (produksi barang) semakin merana. Industri manufaktur hanya tumbuh 1,3 persen atau sepertiga dari pertumbuhan PDB pada triwulan III.

Ini jauh di bawah rekor rata-rata pertumbuhan sektor manufaktur nonmigas yang mencapai 12 persen pad periode 1984-1996, yakni ketika pertumbuhan ekonomi rata-rata Indonesia mencapau sekitar 6,9 persen.

Pertumbuhan ekonomi 4,2 persen ini juga jauh di bawah angka potensialnya, yakni 6,5 – 7,0 persen. Istilah salah satu panelis, pertumbuhan 4,2 persen ini bisa dicapai dengan mata terpejam. Dengan 70 persen pertumbuhan ekonomi disumbangkan oleh konsumsi domestik, kalau konsumsi tumbuh 4 – 5 persen saja, berarti tanpa berkeringatpun kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 3 – 4persen tersebut.

Secara teknis, sebenarnya Indonesai memiliki modal dasar yang kuat untuk membuat lompatan besar dalam perekonomian. Sebagai kawasan paling dinamis dan motor pemulihan ekonomi global, Asia – dimana Indonesia ada di dalamnya – saat ini adalah kawasan yang paling menarik bagi investor dan mitra dagang.

Volume perdagangan intrakawasan di Asia saja mencapai hampir setengah triliun dollar AS sekarang ini, “Ini modal dasar yang kuat. Kalau kita berbenah, sebenarnya ini bisa menjadi momentum bagi peningkatan daya saing berkelanjutan Indonesia karena tanpa berbuat apa-apa pun daya saing kita naik dari peringkat ke-51 menjadi ke-42 dunia karena pada saat yang sama negara-negara lain sedang limbung,” ujarnya.

Ruang gerak

Sayangnya, lagi-lagi kita terkendala hambatan-hambatan yang sifatnya klasik. “Tidak mungkin ekonomi tumbuh lebih dari 6 persen kalau listrik saja tidak ada dan tidak ada infrastruktur jalan serta pelabuhan yang memadai,” ujarnya.

Ia menyebut beberapa kelemahan yangmembuat Indonesia sulit membuat lompatan besar seperti China dan India dalam pertumbuhan ekonomi. Selain buruknya infrastruktur, ia juga melihat tidak dimanfaatkannya secara maksimal ruang gerak yang ada, baik dari sisi moneter perbankan maupun fiskal.

Dari sisi moneter perbankan, bagaimana perekonomian Indonesia bisa bergerak cepat jika rasio kredit terhadap PDB hanya sekitar 30 persen, sementara negara-negara lain, seperti Malaysia 100 persen lebih, Korsel 120 persen, dan China 140 persen ?

Ia mempertanyakan target pertumbuhan penyaluran kredit perbankan Bank Indonesia yang hanya 15 persen pada 2010, padahal perbankan sendiri berani mematok target di atas 20 persen.

Dari sisi fiskal, ia juga tidak melihat adanya perubahan mendasar dalam pengelolaan anggaran sejak krisis dua tahun terakhir. Salah satu indikasinya, lambatnya penyerapan anggaran, tecermin dari semakin menumpuknya rekening pemerintah di BI yang mendekati Rp 150 triliun sampai Oktober kemarin.

Kalau saja uang ini bisa lebih cepat digelontorkan ke masyarakat, hal itu akan bisa menggerakkan roda perekonomian lebih cepat. Menurut dia, kekhawatiran bahwa jika terlalu gegabah membelanjakan APBN bisa berurusan dengan Komisi Pemberanatasan Korupsi (KPK) tidak bisa dijadikan alasan.

Sejumlah panelis melihat, kebijakan pemerintah sendiri dalam berbagai hal sering tidak jelas. Menurut dia, sebelum merebak kasus Bank Century, sebenarnya sangat terbuka peluang bagi masuknya secara deras investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia untuk mengimbangi arus modal jangka pendek yang menyerbu deras ke dalam negeri dan mengakibatkan tingginya volalitas nilai tukar ripiah dan aset-aset finansial lain.

“Saya bertemu beberapa investor yang sudah mau masuk atau sangat tertarik untuk masuk ke Indonesia, termasuk dari Turki dan Polandia, terutama di pertambangan. Panasonic juga merencanakan menutup pabrik kulkasnya di Thailand dan memindahkannya ke Indonesia. Tetapi, apa insentif yang diberikan pemerintah untuk memungkinkan semua itu ?’ ujarnya.

Kasus Bank Century diakui memang memunculkan ketidakpastian hukum dan membuat persepsi investor mengenai Indonesia memburuk. Namun, jika setiap kali semua perhatian kita terus terampas oleh hal-hal seperti ini, menurutnya, Indonesia tidak akan pernah bergerak maju.

“Saya yakin setelah Bank Century akan ada lagi (kasus lain), mungkin PLN, Pertamina, atau lainnya. Kita jangan terlalu terpaku pada hal-hal seperti ini. Menurut saya m ini akan terus terjadi karena tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi di negara ini. Justru menurut saya ini bagus dan bagian dari proses pembersihan secara bertahap sehingga mudah-mudahan lima tahun lagi rezimnya bisa lebih bersoh, siapa pun yang menang nanti,” ujarnya.

Kuncinya sekarang ini, menurut dia, adalah mengembalikan perekonomian pada relnya yang benar. Menurutnya lebih lanjut, FDI hanya akan masuk jika pasar domestik juga kuat. Salah satu keluhan pelaku usaha dan investor yang tak kunjung teratasi selama ini adalah tingginya biaya invevstasi atau ekonomi biaya tinggi. Biaya logistik di Indonesia, misalnya, adalah salah satu yang tertyinggi di dunia, hanya kalah dibandingkan Peru, Filipina, dan Vietnam. Pelayanan pelabuhan juga salah satu yang terburuk.

“Investor asing akan memanfaatkan besarnya Indonesia kalau dia bisa membangun pabrik di satu tempat dan bisa mendistribusikannya dengan murah ke seluruh wilayah Indonesia lainnya. Karena itu, integrasi perekonomian domestik menjadi penting. Mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mampu mengintegrasikan perekonomian domestiknya harus menjadi visi pemerintah lima tahun ke depan,” ujarnya.

Sumber  :

Ekonomi 2010 : Terperangkap Persoalan Klasik | Kompas, 11.12.2009
Grafik : Bestari


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: