Posted by: hagemman | January 8, 2010

APBN, MENUJU TITIK PEMULIHAN

Tahun 2009 segera dilalui. Tahun yang dinilai sebagai tahun berat bagi pengelola keuangan negara ini ditandai dengan berbagai tekanan. Tekanan ini yang kemudian memunculkan berbagai kreasi baru alternatif pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan APBN.

Untuk mengantisipasi memburuknya krisis ekonomi global, APBN 2009 sempat dirombak sejak awal tahun. Salah satu penyebabnya adalah adanya tambahan stimulus fiskal sebesar Rp 12,5 triliun menjadi Rp 71,3 triliun untuk menekan daya rusak krisis ekonomi tersebut.

Total stimulus fiskal itu setara dengan 1,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), Itu cukup memadai untuk menahan tekanan krisis ekonomi global karena diharapkan bisa menahan laju pengangguran terbuka pada tahun 2009.

Akibat krisis ekonomi, pengangguran terbuka diperkirakan mencapau 8,87 persen dari jumlah angkatan kerja 107 juta orang. Namun, dengan paket stimulus fiskal tersebut, pengangguran terbuka ditekan ke level 8,34 persen karena adanya 150.000 lapangan kerja baru.

Belakangan, tidak semua stimulus fiskal dapat digunakan maksimal. Sebut saja stimulus pembebasan Pajak Penghasilan bagi pekerja yang gaji pokoknya Rp 5 juta per bulan atau lebih rendah. Insentif ini kurang digunakan karena mengandalkan kejujuran pemberi kerja yang pada dasarnya justru menghindari pemeriksaan pajak.

Meski kebutuhan anggaran bertambah, penerimaan pemerintah tidak meningkat. Akibat krisis global, pendapatan, belanja, dan pembiayaan APBN harus diubah.

Di sisi pendapatan, penerimaan perpajakan diperkirakan turun Rp 58,95 triliun. Begitu juga Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terpangkas Rp 73,07 triliun. Keduanya menyebabkan penerimaan negara dalam APBN 2009 turun menjadi Rp 853,68 triliun dari target semula Ro 985,7 triliun.

Adapun anggaran belanja negara akan melorot akibat berkurangnya subsidi Rp 43,54 triliun dan berkurangnya transfer ke daerah Rp 16,9 triliun. Hal ini terutama akibat turunnya harga bahan bakar minyak dan patokan harga jual minyak mentah Indonesia dari 80 dollar AS per barrel menjadi 45 dollar AS per barrel.

Dengan demikian, penerimaan negara berkurang Rp 132 triliun dan belanja negara terpangkas Rp 53,2 triliun. Hal itu menyebabkan defisit naik Rp 51 triliun menjadi 2,5 persen terhadap PDB atau Rp 132 triliun.

Tidak mudah

Lalu, apakah menutup defisit APBN 2009 itu semakin mudah ?  Tidak. Awal tahun, APBN 2009 diselimuti bayangan kekeringan likuiditas yang menyebabkan dana murah menghilang dari sumber keuangan dunia. Atas dasar ini, Departemen Keuangan mendekati beberapa negara kreditor dan lembaga keuangan internasional untuk membuat kesepakatan pinjaman siaga yang hanya digunakan saat pilihan sumber pembiayaan APBN semakin sulit.

Depkeu menghimpun pinjaman siaga 5,5 miliar dollar AS dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), serta Pemerintah Jepang dan Australia. Namun, hingga saat ini, belum satu pun yang digunakan pemerintaj karena rupanya likuiditas di pasar uang internasional berangsur pulih.

Pemerintah juga terpaksa menghentikan proses lelang seluruh Surat Berharga Negara lebih dini, yakni pada 17 Nobember 2009. Hal ini dilakukan karena tingkat imbal hasil yang diminta pasar obligasi terus naik. Kalau dipaksakan tetap diterbitkan, pemerintah akan menderita beban ongkos obligasi yang terlalu tinggi. Beruntung, sebelum disudutkan pelaku pasar, target penerbitan surat berharga negara sebesar Rp 114,549 triliun sudah tercapai.

Meskipun krisis keuangan global diperkirakan mulai mereda pada akhir tahun 2009, tantangan masih menanti tahun 2010. Penerimaan negara masih akan mengalami tekanan.

Sebut saja akibat perjanjian perdagangan bebas (FTA) di antara negara-negara ASEAN dan FTA ASEAN-China, penerimaan kepabeanan diperkirakan berkurang Rp 15 triliun. Selain itu, penerimaan pajak juga akan turun karena ada pemangkasan tarif PPh wajib pajak badan dari 28 persen menjadi 25 persen.

Atas dasar itu, antisipasi atas potensi krisis tahun 2010 tetap dilakukan. Hal ini dilakukan pemerintah dengan tetap menganggarkan stimulus fiskal. Besaran stimulus fiskal yang dialokasikan diperkirakan Rp 59 triliun, lebih rendah dibandingkan stimulus fiskal tahun 2009, yakni Rp 73 triliun. Pemerintah menilai perekonomian nasional sudah jauh lebih baik sehingga anggaran belanja negara, termasuk stimulus fiskal, bisa diperkecil.

“Kenaikan anggaran belanja negara tahun 2010 lebih rendah daripada tahun 2009, karena stimulus fiskalnya lebih kecil. Sebagai gantinya, kami berharap ada peningkatan investasi swasta yang menutup dampak pengurangan stimulus itu agar perekonomian tetap tumbuh sesuai target 5,5 persen,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depteu, Anggito Abimanyu.

Target stimulus fiskal dalam RAPBN 2010 adalah satu persen terhadap PDB. Nominal PDB dalam RAPBN 2010 ditetapkan Rp 5.981,37 triliun sehingga nilai stimulus fiskal tahun depan sekitar Rp 59,81 triliun. Nilai stimulus fiskal ini lebih rendah dibandingkan tahun 2009 yang dialokasikan 1,4 persen dari PDB.

Ekspansi pemerintah melalui belanja negara pun semakin rendah karena kenaikan gaji PNS, anggota TNI dan Polri pun tidak tinggi hanya naik 5 persen atau sama dengan inflasi tahun depan. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan stimulus dalam bentuk Pajak Ditanggung Pemerintah senilai Rp 16,87 triliun.

Tahun depan juga ada pengurangan tarif Pajak Penghasilan Obyek Pajak Badan dari 28 persen menjadi 25 persen plus insentif perusahaan masuk bursa, yakni 5 persen. Ini stimulus yang paling riil tahun depan.

Peringatan

Ekonom Fadhil Hasan mengingatkan, kontribusi anggaran belanja negara terhadap pereknomian akan selalu minimal jika pemerintah belum sanggpu menyelesaikan masalah lambatnya pencairan anggaran. Saat ini, pencairan anggaran masih saja menumpuk pada triwulan III dan IV, padahal krisis ekonomi global bisa saja terjadi pada semester I.

Padahal, anggaran belanja negara terus-menerus dinaikkan terutama pada saat krisis, dengan adanya tambahan anggaran stimulus fiskal. Namun, untuk mencairkan anggaran stimulus fiskal pun, pemerintah masih kesulitan.

“Dengan kondisi seperti itu, peran anggaran belanja negara terhadap upaya menstabilkan pertumbuhan ekonomi menjadi minimal. Pada tahun 2009, pengeluaran yang dominan menyelamatkan pertumbuhan ekonomi justru dari belanja pemilihan umum dan skema penghematan pajak yang mendorong konsumsi masyarakat,” ujarnya.

Sumber  :

APBN, Menuju Titik Pemulihan – Orin Basuki | Kompas, 23.12.2009
Sumber : Departemen Keuangan RI | Grafik : Bestari


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: