Posted by: hagemman | January 2, 2010

JAWA, 1864

Internet memang menakjubkan. Teknologi, yang dasarnya mengemban semangat demokrasi informasi, memberi kemungkinan yang sungguh-sungguh melampaui batas dalam hal distribusi informasi. Sebuah situs internet, memajang salinan buku-buku dan arsip-arsip dari seluruh dunia. Nama situs webnya adalah http://www.archive.org

Inbi sejenis forum bersama, seperti YouTube (situs web bersama distrinusi video) dan Wikipedia 9situs web bersama ensiklopedia), di mana setiap orang bisa berpartisipasi mempublikasikan apa saja. Pada situs web arsip internet ini, berbagai arsip dalam berbagai bahasa dipajang dan tampaknya dengan tanpa konsekuensi apa-apa, semisal permintaan membayar uang atau keanggotaan. Lalu materi di dalamnya bisa diunduh begitu saja.

Sebuah komunitas penggemar sejarah masa lalu termasuk pengetahuan sejarah Blitar, yang membangun situs web http://www.djaloe.com membantu menunjukkan sebuah arsip menarik tentang gambaran kehidupan di Jawa, pada fase sejarah yang cukup tua, tahun 1864. Informasinya termuat di situs web arsip iru dalam bentuk dokumentasi buku.

Ini fase kolonial yang meski ada, tergolong amat sepi dari kegiatan dokumentasi. Judul bukunya, Life in Java, dengan subjudul With Sketches of the Javanese, ditulis oleh William Barrington d’Almeida.

Tahun itu juga merupakan fase yang agak lebih ke depan dibandingkan catatan yang dibuat Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles, yang menyusun pandangan daru kultur barat (western construct) terhadap Jawa pada bukunya History of Java, 1817.

Buku Life in Java tak bisa dibandingkan dengan History-nya Raffles yang sangat terperinci, sudah bersifat ensiklik (kumpulan pengetahuan), dan di antara para ahli sejarah sudah dianggap sebagai kanon, atau buku induk sejarah Jawa. Namun, masa 1864 tentu tetap menarik, menilik amat langkanya informasi dan dokumentasu masa itu, kecuali lewat penuturan informan Eropa seperti ini.

Konstruksi pengetahuan

Masa 1864 juga menarik karena pada fase ini Jawa sudah melintasi periode yang pahit, setelah terjadinya Perang Jawa, yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Salah satu periode sejarah Jawa tahun 1825-1830 yang amat berdarah, meski nantinya bukan periode ini sajas sejarah pertumpahan darah di Jawa. Namun, fase 1864 tersebut juga dekat dengan periode sejarah Raden Ajeng (RA) Kartini (1879-1904), putri Bupati Jepara dan istri Bupati Rembang.

Samar-samar bisa diingat pula bahwa Kartini pernah menolak beasiswa Pemerintah Belanda pada fase kebijakan politik etis (politik balas budi) Pemerintah Belanda, dan sekaligus menyarankan agar Pemerintah Belanda mengoperkan bantuan beasiswa itu kepada pemuda Agoes Salim. Ini adalah nama KH Agoes Salim, di antara tokoh perintis kemerdekaan awal senior Soekarno (Presiden RI).

Dengan demikian, buku Life in Java ini membantu mengonstruksi, bangunan pengetahuan kita tentang kondisi masyarakat di Jawa, pada masa itu. Amat penting bagi para pengkaji masyarakat Jawa pada masa pembentukan kepribadian itu. Yang kelak akan dirumuskan, diantaranya oleh Soekarno dengan temuan Pancasila itu.

Miskin data

Dodik Prastowo, warga Blitar, aktivis kegiatan pencarian sejarah Jawa, yang merintis pembuatan kaus unik, mengungkapkan bahwa sejumlah informasi yang dilaporkan Barrington sudah diselurusinya. Misalnya laporan Barrington tentang situasi di wilayah Blitar masa itu. Hasilnya agak mengecewakan, karena kawasan yang disebut dalam buku itu, kini sudah tidak ada lagi.

Artinya, laporan perjalanan orang Barat ke Jawa tersebut mampu menjadi pertunjuk untuk memahami segala kehilangan kekayaan budaya dan sejarah yang dialami oleh Jawa sekian ratus tahun terakhir.

“Di Blitar disebutkan tentang adanya desa yang berpemandangan indah, seperti di Swiss kecil di dekat Candi Penataran. Kami telusuri sesuai petunjuknya, tapi desa dengan dambaran itu sudah tidak ada. Dugaan kami sebuah desa yang indah seperti Swiss ini, mungkin terkubur oleh abu letusan Gunung Kelud,” ucap Dodik, produser kaus kreatif Blitar bermerk Djaloe, serupa dengan fenomena kaus unik di Yogyakarta dan Denpasar (Bali) itu.

Buku Barrington cenderung miskin data. Isinya berupa catatan tertulis deskripsi tentang perjalanannya ke berbagai daerah di Jawa, sejak dari Batavia (Jakarta) hingga ke kota-kota di Jawa Tengah, sampai Surabaya dan Malang. Termasuk perjalanan yang intensif ke Pasuruan, Probolinggo, mengunjungi Gunung Bromo. Juga laporan tentang pengamatannya di Candi Singosari.

Sayangnya, karena situs arsip ini merupakan bentuk kegiatan swadaya, tidak ada cukup informasi tentang Barrington sendiri termasuk informasi tentang perjalanan dan dengan alasan apa ia berada di Jawa. Perjalanannya dilakukan dengan kendaraan perahu dan kuda, tentu sebuah kegiatan yang berat.

Pada laporannya ia selalu ditemani resmi oleh para pejabat Belanda di setiap kota. Artinya, tentu ia bukan pelancong biasa.

Sumber  :

Jawa, 1864 – Dody Wisnu Pribadi | Kompas, 14.12.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: