Posted by: hagemman | January 2, 2010

BARRINGTON, RAFFLES, DAN MIKIHIRO

Bagi yang memiliki cukup informasi, penggambaran William Barrington d’Almeida, pengunjung dari Eropa di Jawa pada tahun 1864, terasakan kurang cukup kaya dan lengkap.

Bukunya Life in Java tersusun menjadi dua volume, I dan II. Buku ini ditulis setelah melakukan perjalanan ke Jawa, sejak dari Batavia (Jakarta) hingga pedalaman Jawa Timur, akhirnya menjadi sejenis kisah perjalanan (travelogue).

Tidak cukup jelas apa yang sebenarnya ia lakukan kecuali sebagai pelancong, meski setiap kali di kota yang ia kunjungi ia diterima oleh pejabat Belanda, yakni residen, atau pejabat Jawa sekelas wedana. Ini menunjukkan Barrington bukan sekadar warga kulit putih biasa, meski ia melakukan perjalanan bersama istrinya.

Bukunya tidak melukiskan kondisi masyarakat Jawa masa itu, kecuali pengalamannya bertemu segala hal yang membuatnya terheran-heran. Seperti aneka cerita rakyat. Misalnya kisah yang diceritakan dengan porsi besar tentang Mak Coo-a-loon, tentu maksudnya bahasa Jawa mak kualon atau ibu tiri. Juga cerita pertemanannya dengan Dharman, kusir kereta kuda yang menemani perjalanannya, atau pengalaman ditawari keris yang diklaim oleh penjualnya (yang) memiliki kesaktian tertentu.

Meski tetap berharga, pelukisannya tak lebih kaya dengan laporan Sir Thomas Stamford Raffles (1817) Gubernur Jenderal Inggris, yang merekam nyaris seluruh aspek kehidupan orang Jawa masa itu.

Dibandingkan Barrington, Raffles sangat terperinci. Padahal, ia mengunjungi Jawa lebih (dari) 50 tahun sebelum Barrington. Raffles mencatat segala hal, termasuk sejarah awal peradaban di Jawa, sistem kepercayaan, alat-alat bertani, konversi ukuran-ukuran, salah manajemen pemerintah Belanda selama mengurus jajahannya, sampai ke hal-hal detail seputar huruf Jawa. Apa yang disampaikan Raffles hingga kini masih bisa dianggap sebagai informasi baru tentang Jawa.

Terbukanya akses terhadap manuskrip dokumen sejarah Eropa, seperti Life in Java dalam situs http://www.archive.org  menemukan dampak pentingnya, menyusul popularitas buku terjemahan Raffles ini. Penulis pengantar terbitan Indonesia penerbit Narasi pada History of Java ini, Syafrudin Azhar, mengungkapkan betapa besar kecintaan Raffles pada Jawa hingga memulai proyek penulisan bukunya itu saat berasa di Cisarua, Bogor.

Meski demikian tak kalah menariknya membandingkan buku Barrington dengan sebuah buku lagi yang mengungkapkan periode yang sama, hasil riset peneliti Jepang, Mikihiro Moriyama, pengajar pada Osaka University, yang pada 1980-an mendapat kesempatan meneliti Sastra Sunda di Universitas Leiden, Belanda.

Disertasinya dibukukan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2005), menungkapkan periode waktu masyarakat Sunda (baca : Jawa) pada masa yang sama dengan perjalanan Barrington di Jawa. Buku berjudul Semangat  Baru ini berisi riset Mikihiro tentang kebudayaan cetak setelah Jawa mengalami melek cetak (print literacy) pada fase waktu yang sama dengan kunjungan Barrington.

Betapapun, Barringtom membuat orang kembali tersadar atas masa lalu, yang pernah menjadi terminal sejarah bagi masyarakat Jawa ini.

Sumber  :

Barrington, Raffles, dan Mikihiro – Dody Wisnu Pribadi | Kompas, 15.12.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: