Posted by: hagemman | December 28, 2009

LIMA TAHUN SETELAH TSUNAMI

Bayangan mengerikan tsunami yang menerjang Aceh, Nias, dan Sumatera Utara masih tersisa meski bencana luar biasa itu sudah berlalu lima tahun.

Kisah petaka yang datang tiba-tiba pada pagi hari tanggal 26 Desember 2004 itu masih hidup di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, pelajaran apa yang sudah diambil dari entakan tragedi yang sungguh menggemparkan itu ?

Kelihatannya bangsa Indonesia tidak mampu menggunakan tragedi itu sebagai momentum penting untuk mengubah kesadaran, memperbaiki sikap dan perilaku. Setelah berlangsung hiruk-pikuk beberapa saat, sikap dan perilaku kembali berjalan seperti biasa. Seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang sudah terjadi. Begitu cepat lupa.

Padahal, gempa dan tsunami di Aceh dan sekitarnya tergolong luar biasa, yang mengentakkan semua penduduk Bumi. Bencana itu tidak hanya meminta sekitar 200.000 korban jiwa. Kerugian harta benda pun tidak sedikit. Trauma yang ditimbulkan sangat mendalam.

Segera kelihatan pula bagaimana kemampuan manajemen bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana tsunami di Aceh dan sekitarnya. Manajemen krisis sangat lemah bahkan kedodoran. Koordinasi dan efektivitas organisasi dalam mengatasi dampak bencana kurang bekerja optimal dan cenderung tertatih-tatih.

Semula diharapkan pengalaman pahit di Aceh dapat dijadikan bahan pelajaran penting dalam meningkatkan kemampuan mengelola krisis. Namun, perubahan tidak banyak kelihatan. Maka, berbagai kalangan benar-benar tersentak ketika terjadi lagi kedodoran dan kekacauan dalam manajemen krisis ketika terjadi gempa di Yogyakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Barat.

Kenyataan ini benar-benar merisaukan, lebih-lebih kalau melihat posisi Indonesia yang sangat rawan terhadap pelbagai bencana alam. Indonesia tidak hanya berada di atas cincin api, tetapi juga memiliki banyak gunung api dan berada di atas daerah patahan Asia-Australia.

Hampir tak terelakkkan Indonesia akan terus-menerus berada di bawah ancaman gempa tektonik oleh pergeseran lempeng Asia-Australia. Juga terancam oleh hempa vulkanik oleh kegiatan gunung api. Dengan memerhatikan ancaman itu, mau tidak mau perlu diperhatikan konstruksi bangunan yang tahan gempa, yang harus disosialisasikan.

Tidak kalah pentingnya simulasi penyelamatan diri jika terjadi gempa yang umumnya datang tiba-tiba. Antisipasi sangat penting untuk mengurangi dampak bencana. Namun, sampai sekarang terkesan sangat minim upaya antisipasi. Alat-alat peringatan dini tsunami dilaporkan kurang dirawat. Juga tidak ada simulasi rutin sebagai persiapan menghadapi bencana.

Minimnya sosialisasi tentang konstruksi tahan gempa merupakan sebuah kekonyolan. Lemahnya kontrol terhadap pembangunan gedung sangatlah berbahaya seperti terlihat dalam kasus bangunan di Pasar Tanah Abang, yang runtuh pekan ini sekalipun tidak ada gempa.

Sumber  :

Tajuk Rencana : Lima Tahun Setelah Tsunami | Kompas, 26.12.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: