Posted by: hagemman | December 21, 2009

KETIKA BURUNG PUTIH BERARAKAN KE TENGAH BANDA ACEH

Wakil Panglima Komando Operasi Darurat Sipil Nanggroe Aceh Darussalam Brigjen Suroyo Gino hari Minggu (26/12) pagi itu mendapat tugas melepas kepulangan Batalyon 744 kembali ke Kupang setelah hampir setahun bertugas di daerah itu. Dengan menggunakan mobil dinasnya, Brigjen Gino menuju Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh, tempat sekitar 700 prajurit hendak diberangkatkan pulang.

Menjelang mendekati arah pelabuhan, Gino sempat merasa takjub ketika sekelompok burung berbulu putih berarakan menuju kota. Namun, ketakjuban itu diikuti dengan tanda tanya besar, apa yang sedang terjadi dengan alam ini ?

Nalurinya segera mengatakan bahwa itu sebuah pertanda yang tidak baik. Ada sesuatu yang tidak biasanya dan ini berkaitan dengan pertanda yang tidak baik.

Segera Gino memerintahkan sopirnya untuk berbalik arah. Namun, keadaan jalan sudah agak padat pagi itu. Ia tidak mungkin bisa melaju lebih cepat untuk menghindar dari ancaman.

Tidak lama kemudian pertanda buruk itu benar-benar terjadi. Gelombang dahsyat tsunami menerjang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ribuan, bahkan ada yang berani mengatakan ratusan ribu, warga Banda Aceh tewas akibat terjangan gelombang yang mematikan itu.

Gino sendiri bersyukur bisa selamat dari musibah yang memilukan itu. Prajurit Batalyon 744 yang akan kembali ke kampung halamannya pun pagi itu beruntung masih belum masuk ke dalam lambung kapal. Polisi Militer masih memeriksa satu per satu isi ransel yang dipanggul para prajurit.

Ketika tiba-tiba ombak dahsyat itu tiba, para prajurit masih mendengar suara peringatan dan segera berhamburan, berlari ke arah bukit yang ada di sekitar pelabuhan. Hanya lima prajurit yang terlambat untuk menghindar dan mereka harus menjadi korban gelombang tsunami.

Alam bukanlah sesuatu yang misterius. Bagi mereka yang akrab dan bersahabat dengan alam, justru alam itu adalah sahabat sejati. Ia selalu memberi pertanda mengenai apa yang sebenarnya akan terjadi.

Manusia kadang kalah dengan hewan untuk mengakrabi alam tempat tinggalnya. Hewan memiliki indera keenam yang lebih tajam sehingga bisa merasakan ketika alam akan matah.

Wakil Direktur Wildlife Sri Lanka HD Ratnayake mengaku takjub dengan kepekaan hewan. Ketika bencana tsunami menimpa negeri itu, tidak ada gajah yang mati. Demikian pula dengan kelinci. Sementara lebih dari 24.000 warga di negeri itu tewas akibat bencana alam yang mahadahsyat itu.

“Sepertinya mereka bisa mencium marabahaya. Binatang itu tahu bahwa ada sesuatu yang membahayakan yang akan datang,” kata Ratnayake.

Ahli binatang liar Clive Walker mendukung pandangan itu. Dari hasil pengamatannya selama ini, hewan mempunyai kemampuan untuk bisa menangkap fenomena alam. Salah satu hewan yang paling peka terhadap perubahan fenomena alam adalah burung.

“Ada banyak laporan yang menyebut tentang burung yang bisa mendeteksi bencana yang akan terjadi,” kata Walker.

Pengamatan Walker itu terbukti dengan apa yang dialami Brigjen Gino. Bukan hanya Gino yang melihat fenomena alam yang ganjil itu. Beberapa orang lainnya melihat hal yang sama, tetapi lebih banyak lagi yang tidak bisa membaca tanda-tanda alam itu.

Bagi masyarakat Aceh, gelombang tsunami memang baru pertama kali mereka alami. Oleh karena itu, sangat wajar apabila warga Serambi Mekkah itu tidak akrab dengan fenomena tsunami yang terjadi.

Itu terllihat ketika air laut tiba-tiba surut jauh ke tengan laut setelah gempa yang terjadi sekitar pukul 07.58 WIB. Banyak warga yang berada di tepi pantai begitu bersukacita ketika melihat banyak ikan yang menggelepar-gelepar di atas pasir sehingga begitu mudah untuk ditangkap.

Masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terbiasa dengan gelombang tsunami sangat tahu bahwa ketika keadaan alam seperti itu terjadi artinya bencana besar akan datang. Biasanya mereka bukan berlari ke arah laut, tetapi justru menjauhi laut.

Sekitar 15 menit setelah gempa, gelombang tsunami yang sangat besar segera menerpa Aceh. Ketika gelombang itu datang, mustahil bagi setiap orang untuk bisa menyelamatkan diri karena tingginya bisa lebih dari 10 meter dan kecepatannya bisa mencapai 900 km per jam, sebuah kecepatan maksimal dari pesawat Boeing 747.

Manusia menjadi tidak berdaya karena mereka bukan hanya hanya tidak bisa bernafas, tetapi diempaskan oleh gelombang pasang itu. Kerasnya gempuran gelombang itu bisa terlihat dari rusaknya bangunan yang dilalui gelombang raksasa itu. Kompleks perumahan Batalyon 112 Banteng Hitam yang terletak di pinggir Pantai Lhok Nga, misalnya, praktis hanya tinggal lantai dasar perumahan saja yang tersisa. Selebihnya, tiang betin yang masih bisa berdiri.

Gelombang itu semakin mematikan ketika jauh memasuki kawasan perkotaan. Tiang-tiang kayu rumah, atap seng rumah, gelondong kayu pohon, sebuah barang yang berdiri di atas tanah ikut terbawa arus gelombang dan ketika menerpa orang yang berada di depannya, niscaya akan sangat fatal. Belum lagi lumpur yang ikut tercampur di dalamnya.

Seorang warga yang selamat dari bencana menuturkan, ia sempat heran ketika pertama kali gelombang pasang itu datang. Ia sempat bertanya-tanya dalam hati, benda apa yang sangat dan berwarna abu-abu yang ada di depan matanya.

Sepintas ia melihat seperti ada kapas berwarna putih yang ada di bagian atas benda raksasa tersebut.

Ia baru sadar ketika orang dari arah pantai berlarian mendekat dirinya sambil berteriak, “Laut … laut … “ Barulah ia tahu bahwa benda besar itu adalah gelombang tsunami dan benda putih yang ada di atasnya adalah buih ombak.

Dengan sekuattenaga ia berbalik badan dan berlari menjauhi benda itu. Namun, sekencang apa pun ia berlari, kecepatan air jauh lebih cepat sehingga ia ikut terempas dan mengikuti saja arus dari gelombang pasang itu.

Ia baru tersadar ketika kemudian air menyurut dan ia merasa bersyukur bahwa dirinya selamat dari maut. Hanya pakaian yang basah kuyup dan badan yang memar-memar karena menabrak benda-benda yang ada di depannya.

Intelektual Komaruddin Hidayat menilai bencana tsunami merupakan sebuah peringatan betrapa kecilnya manusia di tengah alam semesta ini. Manusia sudah dibuat tidak berdaya ketika sebagian kecil dari air laut itu masuk ke daratan.

“Kita bisa bayangkan, apa yang akan terjadi apabila seperempat air laut yang ada ini yang naik ke daratan. Atau ketika Tuhan berkehendak untuk menaikkan suhu udara dua kali dari biasa,” kata Komaruddin. “Saya yakin bahwa manusia pasti akan semakin tidak berdaya. Bahkan, dinosaurus pun punah ketika suhu udara naik dua kali dari biasanya.”

Menurut Komaruddin, manusia selalu akan bersedih ketika menghadapi kenyataan pahit seperti itu. Manusia akan bersedih ketika harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Namun, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Setelah kematian akan ada kehidupan yang lebih abadi.

“Karena itu, marilah kita pasrahkan kepergian saudara-saudara kita yang menjadi korban tsunami. Percayalah bahwa anak-anak yang meninggal akibat gelombang tsunami itu kini berada di tempat yang lebih baik, di surga sana. Demikian pula orang-orang yang meningal setelah berjuang untuk bisa bertahan hidup. Mereka itu mati dalam keadaan mati syahid,” kata tokoh pendidikan daru Paramadina itu.

Tantangan lebih berat justru harus dihadapai oleh mereka yang masih hidup. Peringatan yang diberikan Tuhan harus bisa diambil berkah dan hikmatnya agar bisa menjalani hidup yang lebih baik.

Berkah dan hikmah yang pertama bisa dipetik adalah bagaimana manusia bisa lebih akrab dan menyatu dengan alam. Merusak alam itu sama dengn mebocori perahu yang sedang ditumpangi.

Kedua adalah bagaimana manusia bisa mencintai sesamanya. Bahwa dari mana pun dia, dari suku mana pun, dari bangsa mana saja, dari agama mana saja, mereka adalah saudara-saudara kita juga.

Bagi bangsa Indonesia, bencana tsunami merupakan momentum yang baik untuk meningkatkan kesetiakwanan, membangun rasa solidaritas, serta menunjukkan ke-Indonesia-an bangsa Indonesia.

“Rasa solidaritas yangditunjuk warga masyarakat terhadap bencana tsunami di Aceh menunjukkan betapa peduli warga bangsa ini terhadap nasib sesama dan sekaligus menunjukkan ke-Indonesia-an dari bangsa ini,” kata Komaruddin.

Sumber  :

Ketika Kawanan Burung Putih Berarakan ke Tengah Banda Aceh, Suryapratomo
Kompas, 21.01.2005 | Foto : Reuters / Darren W.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: