Posted by: hagemman | December 14, 2009

SITUASI MULAI MEMANAS

Setelah sepekan berlangsung Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, belum mencapai kemajuan berarti. Sebaliknya, menjelang kedatangan lebih dari 100 kepala negara / pemerintahan ini situasi di luar ruang konferensi mulai memanas.

Negosiasi pada Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) pada Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) terkait dengan upaya mengatasi tantangan perubahan iklim dan dampaknya belum menampakkan hasil memadai hingga Sabtu (12/12). Kini semua kelompok negara menumpukan harapan kepada dua raksasa dunia, AS dan China, untuk mengatasinya. Keduanya adalah emiter gas rumah kaca dua terbesar di dunia.

Kedua negara tersebut amat dinantikan komitmennya mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan jika dunia ingin mempertahankan kenaikan suhu Bumi di bawah 2 derajat celsius. Kenaikan suhu di atas 2 derajat celsius, menurut para ahli, akan membawa Bumi kepada kehancuran karena akan terjadi berbagai bencana iklim : banjir, badai, kekeringan, pulau tenggelam, gelombang tinggi, dan kepunahan spesies mahluk hidup dalam skala besar.

Menteri Lingkungan Swedia Andreas Carlgren (12/12) mengatakan, “Jika jalannya negosiasi tetap seperti ini, mereka tak akan mencapai hasil akhir memuaskan.” Swedia menjadi Presiden Uni Eropa (UE) hingga akhir tahun ini. Kelompok UE terdiri atas 27 negara. “Sejauh ini kita tak akan bisa mencapai target 2 derajat,” lanjutnya.

“AS dan China yang seharusnya menawarkan (pengurangan emisi) lebih besar,” tegasnya. Menurut dia, janji yang diberikan kedua negara tersebut sampai sekarang belum mencukupi kebutuhan, sementara UE menambah komitmennya mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 30 persen pada tahun 2020, dari janji sebelumnya 20 persen. Pengurangan diukur dari level emisi tahun 1990 sesuai dengan Protokol Kyoto.

Saat ini China menjanjikan pengurangan emisi 40 – 45 persen dari efisiensi, sementara AS berjanji mengurangi 3 persen emisinya pada tahun 2020 dari level 1990. Sesuai rancangan hasil negosiasi yang beredar, Jumat (11/12), memuat komitmen negara-negara maju, untuk wajib menurunkan emisinya. Negara berkembang ekonomi maju, seperti China dan India, tidak dituntut membuat komitmen wajib, tetapi mereka “bisa melakukan tindakan mitigasi otonom” untuk menahan peningkatan emisi gas rumah kaca.

Demonstrasi besar

Kemarin siang, di Kopenhagen, puluhan ribu orang berunjuk rasa dengan berjalan kaki 6 kilometer dari Kopenhagen menuju Bella Center di tengah suhu dingin tapi cerah. Mereka menyerukan, negosiasi harus memastikan adanya kesepakatan 9seal the deal) yang adil, ambisius, dan mengikat. Unjuk rasa diikuti 500-an organisasi dari 67 negara.

Sejumlah tokoh, mulai dari artis hingga tokoh agama, seperti mantan Uskup Agung Anglikan dari Afrika Selatan, Desmond Tutu, turut dalam barisan itu.

Adapun sekitar 30.000 orang berpakaian serba hitam yang berunjuk rasa di ibu kota melakukan keributan dengan memecahkan beberapa kaca bangunan. Beberapa orang ditangkap polisi.

Desmond Tutu dijadwalkan memimpin renungan dengan penyalaan lilin dekat Bella Center. Namun, sejumlah polisi telah berjaga-jaga memamstikan keamanan konferensi yang akan dihadiri 113 pemimpin dunia.

Kelompok “Roule ma Frite” (Roll on Fries) dari Prancis yang berkendara ke Denmark dengan bus berbahan bakar minyak goreng nabati bekas mendapai minyaknya disita polisi Denmark, karena minyak tersebut bisa menjadi salah satu bahan pembuat bom.

Sumber  :

Situasi Mulai Memanas, Gesit Ariyanto dari Kopenhagen, Denmark
Kompas, 13.12.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: