Posted by: hagemman | December 14, 2009

PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI

Pada 2006 Indonesia dituduh menjadi negara ketiga terbesar pencemar CO2 di atmosfer sehingga dituding sebagai salah satu penyebab utama perubahan iklim hlobal. Untuk mengetahui emisi GRK, terutama konsentrasi CO2 di atmosfer, pada 2006 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional terlibat dalam penelitian.

Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan merintis pembuatan instrumentasi sistem sampling untuk meneliti konsentrasi CO2 secara horizontal dan vertikal. Uji coba vertikal dilakukan di Bandung (Jawa Barat) dan Watukosek (Jawa Timur) pada 2006.

Penelitian dari Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan, konsentrasi CO2 tahun 2004 sebesar 378 ppm dan akan meningkat menjadi 714 ppm.

“Hasil analisis data lapangan menunjukkan, CO2 tidak berpengaruh signifikan pada pemanasan global, analisis data menunjukan konsentrasi sekitar 400 ppm,” kata Chunaeni Latief, Msc (61), yang dikukuhkan sebagai profesor riset di bidang optoelekronika dan aplikasi laser.

Untuk melakukan penelitian itu, Chunaeni merancang bangun instrumen pemantau CO2. Instrumen terdiri dari sistem ruas atas atmosfer dan sistem ruas Bumi sebagai penerima. Sistem ruas atas atmosfer atau gondola berbasis sensor Vaisala sebagai sensor CO2 terdiri dari sensor pengukur parameter atmosfer sistem, kontrol, dan pengirim data digital. Sistem ruas Bumi memproses pengukuran  di atmosfer.

Uji coba menunjukkan, instrumentasi ini dapat digunakan untuk penelitian horizontal jarak jauh parameter atmosfer lainnya dengan menyempurnakan sensornya dan menggunakan balon udara. Penelitian CO2 membuka peluang penelitian fenomena konveksi serta fenomena pendinginan di atmosfer atas akibat munculnya lapisan CO2.

Matahari berperan

Kecenderungan terjadinya perubahan iklim global dewasa ini tidak hanya diakibatkan oleh aktivitas manusia, tetapi juga dipengaruhi aktivitas siklus Matahari. Dua faktor ini kini berjalan simultan.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Thomas Djamaluddin dalam acara Pers Tour di Kantor Lapan Bandung (10/12).

“Data empiris banyak yang menunjukkan, aktivitas Matahari, faktir kosmogenik, punya pengaruh kepada iklim. Mekanismenya masih menjadi perdebatan,” tutur profesor riset di bidang astronomi-astrofisik LIPI ini.

Beberapa data menunjukkan adanya korelasi iklim dengan siklus Matahari. “Ada pergeseran tekanan angin di daerah Pasifik yang terkait langsung dengan aktivitas maksimum dan minimum Matahari. Sinar kosmik saat aktivitas Matahari minimum berpengaruh pada kondensasi awan,” tuturnya.

Sumber  :

Aktivitas Matahari juga Berpengaruh | Kompas, 11.12.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: