Posted by: hagemman | December 8, 2009

AKTIVIS MULAI PERTANYAKAN

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selama ini banyak mencitrakan diri sebagai pemimpin yang antikorupsi dan prodemokrasi mulai dipertanyakan berbagai elemen masyarakat.

Keraguan itu muncul setelah melihat sikap Presiden Yudhoyono yang tidak betindak cepat dan tegas dalam menangani kasus penahanan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, skandal Century, dan terakhir pernyataannya soal perayaan Hari Antikorupsi Sedunia, 9 Desember 2009. Presiden menyatakan ada motivasi politik di balik perayaan itu untuk menjatuhkan pemerintahannya.

Pandangan itu mengemuka dalam konferensi pers sejumlah aktivis yang tergabung dalam “Petisi 28”, Minggu (6/12). Petisi 28 dideklarasikan oleh 30 organisasi kemasyarakatan dan organisasi kemahasiswaan pada 28 Oktober 2009.

“Saya heran reaksi dari Bapak Presiden yang begitu takut. Kalau beliau antikorupsi, seharusnya justru memimpin gerakan moral pada 9 Desember itu,” kata Sekretaris Jenderal Mahasiswa Islam (PB-HMI) Nasi Seregar, Minggu di Jakarta.

Sekjen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ton Abdillah juga menegaskan, gerakan moral dan politik harus dilakukan masyarakat karena saat ini eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak berfungsi dengan baik. “Makelar kasus itu ada dalam kekuasaan itu sendiri,” tegasnya.

Dosen Universitas Indonesia, Boni Hargens, juga menyesalkan Presiden yang menuduh gerakan moral sebagai gerakan poltik untuk menjatuhkan kekuasaan. Dia juga meminta Presiden untuk bertanggung jawab karena mengeluarkan pernyataan yang provokatif.

Dia juga merasa geram, Yudhoyono yang dipilih oleh sekitar 62 persen oleh rakyat justru sekarang takut pada gerakan moral 9 Desember mendatang. “Hal ini kontradiktif,” ujarnya.

Agus Jabo Priono dari Partai Demokratik (PRD) bahkan menantang Presiden, apabila memang tidak terlibat, untuk segera mengaktifkan Bibit dan Chandra di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan membongkar skandal Bank Century.

“Orang yang takut dengan gerakan 9 Desember adalah orang yang diduga punya keterlibatan korupsi,” tegasnya.

Intimidasi aparat

Aktivis juga mengakui bahwa saat ini berbagai intimidasi mulai dilakukan aparat untuk menggagalkan gerakan moral pemberantasan korupsi itu.

Lalu Hilman Afriandi dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi mencontohkan, saat organisasinya membuat pertemuan di kampung, seperti di Makassar ada aparat kepolisian yang mendatangi dan menyebarkan informasi bahwa akan ada provokasi oleh mahasiswa. “Intel juga banyak mengintimidasi masyarakat,” ungkapnya.

Boni menambahkan, saat ini juga ada kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sengaja dibentuk justru untuk memecah belah atau membenturkan dengan kekuatan masyarakat sipil.

Haris Rusly dari Forum Kepemimpinan Pemuda Indoensia juga mengingatkan, dalam negara demokrasi, gerakan apa pun asal tak menggunakan kekerasan adalah sah. Gerakan untuk menjatuhkan kekuasaan pun sama sahnya dengan gerakan untuk memilih presiden. Karena itu, seharusnya Presiden tidak boleh menakut-nakuti gerakan 9 Desember.

Gerakan moral pemberantasan korupsi ini juga dilakukan oleh masyarakat karena gerakan parlemen telah dikuasai kekuasaan.

Andin Jawaludin dari Pergerakan Mahasiswa Islam Inndonesia (PMII) juga meminta semua elemen masyarakat untuk tidak gentar memberantas korupsi di tingkat mana pun. Dia pun menegaskan, PMII akan membongkar siapa pun yang terlibat dalam kasus Century.

“Siapa pun yang terlibat harus dibasmi tanpa terkecuali,” tegasnya.

Sumber  :

Aktivis Mulai Pertanyakan | Kompas, 07.12.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: