Posted by: hagemman | December 7, 2009

MENGEMBALIKAN PAMERAN PADA KODRATNYA

Setiap kali terbetik kabar ada pameran digelar di kota metropolitan ini, masyarakat berduyun-duyun mendatanginya. Bahkan meski harus membeli tiket terlebih dulu untuk dapat masuk ke arena, tak menghalangi niat masuk ke dalam. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat mendatangani pameran tidak lagi sekadar mencari hiburan, sekadar membagi kesumpekan setelah suntuk bekerja, juga bukan sekadar cuci mata karena objek rekreasi yang lain sudah jenuh.

Seiring dengan makin tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan dan perkantoran di kota ini, semakin banyak tersedia tempat untuk menggelar pameran. Sebut saja tempat-tempat yang rutin menggelar pameran mulai dari Jatim Expo, Gramedia Expo, WTC, Tunjungan Plaza 3, WBI, Balai Pemuda, maupun yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah dan pendidikan swasta.

Melalui media pameran, masyarakat dapat memperpendek jarak dalam menentukan adopsi. Kenutuhan memperoleh informasi yang beragam dapat diperoleh dalam waktu yang berdekatan. Pada saat itu pula dapat membandingkan berbagai aspek yang menjadi faktor penentu pembelian (adopsi), mungkin harganya, tempatnya (lokasi), desain atau bentuk produk/jasa, dan hal detail lainnya.

Wajarlah bila masing masing peserta pameran berusaha menyuguhkan informasi yang setail mungkin dan yang memiliki nilai keunggulan dari lainnya, sebab pintu masuk keterpengaruhan konsumen adalah informasi.

Perkembangan terakhir bahwa media pameran sebagai arena penjualan langsung (direct sale) inilah yang menyebabkan martabat pameran dipertaruhkan. Para produsen berlomba-lomba menjual sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan risiko negatifnya. Bahkan dari omzet penjualan itulah yang menjadi ukuran berhasil tidaknya sebuah pameran. Padahal, dalam kajian-kajian teoritis, pameran itu bagian dari promosi. Artinya, pameran adalah media yang diandalkan membangun citra positif.

Kalau itu menyangkut korporasi ya citra kelembagaan (corporate cultural), kalau itu menyangkut merk ya citra penguatan (branding), kalau itu menyangkut relasi ya citra penerimaan konsumen (customer satisfaction). Begitulah seterusnya sehingga media pameran lebih berjangkauan jangka panjang. Hanya usaha-usaha yang berorientasi jangka panjanglah yang dapat memetik manfaat lebih besar dengan mengikuti pameran/

Namun, dengan perubahan menjadi orientasi jangka pendek, membuat pembangunan citra tidak penting lagi, bahkan tidak pernah diukur efek opini publiknya setelah pameran dilancarkan. Orientasi penjualanlah yang dikedepankan. Maka pameran pun berubah menjadi jualan diskon, cash back, beli dua dapat tiga, gratis ini dan itu, serta hadiah langsung.

Beberapa hal yang berkaitan dengan jatuhnya martabat media pameran antara lain berkait dengan :

Pertama, janji-janji yang dilancarkan melalui iklan di media massa. Dalam iklan dijanjikan mendatangkan grup musik terkenal dari Jakarta, ternyata panitia gagal merealisasikannya. Bukan masalah janjinya itu yang penting, tetapi merangsang masyarakat nendatangi pameran dengan tujuan yang melenceng. Bukan untuk mencari informasi, melainkan untuk menonton konser.

Kedua, masih di seputar iklan, tercantum potongan harga yang sangat besar (melebihi 50 persen), disertai dengan gambar produk ditumpangi tulisan harga Rp 3.900.000 yang dipalang dan dibawahnya diganti dengan tulisan Rp 1.950.000 + diskon 20 persen. Diskon besar tersebut diberi tajuk hot sale. Tentu saja, masyarakat terpana oleh obral besar oleh iklan tersebut.

Siapa yang tak kepincut dengan potongan harga sebesar itu ? Untuk merangsang lebih lanjut masyarakat mendatangi pameran ditambah dengan tag line seolah kesempatannya sangat terbatas, hanya satu malam saja (titelnya Saturday Midnite Sale), maka malam itu tempat parkir pun penuh sesak sampai meluber ke jalan raya. Namun, betapa kecewanya pengunjung bahwa ternyata yang dimaksud hot sale tersebut tidak otomatis, tetapi melalui pengundian dan diberikan sebanyak tiga orang untuk setiap dua jam. Kalau umur pameran malam minggu itu 6 jam, hot sale hanya berlaku untuk 9 pembeli.

Ketiga, berhubungan dengn layanan purnajual yang mengecewakan (tidak sesuai dengan janji ketika transaksi). Karena barang yang dibeli ukurannya banyak atau jumlahnya banyak, barang tersebut tidak dapat diperoleh saat transaksi. Barang dijanjikan akan dikirim ke rumah keesokan harinya. Namun, apa lacur barang tersebut baru datang tiga hari berikutnya, itu pun setelah melalui protes ke sana kemari.

Satu kalimat saja, untuk mengakhiri tulisan ini :kembalilah ke kodrat semula, wahai pameran !”

Sumber  :

Mengembalikan Pameran pada Kodratnya, Redi Panuju | Dosen Fikom Unitomo, Penulis buku “Komunikasi Bisnis” (Gramedia Pustaka Utama, 2000)
Kompas Jawa Timur, 03.12.2009

Comment :  Sedikit sekali tulisan terkait pameran dalam khazanah disiplin ilmu management yang sesuai dengan kondisi sosio-kultural bangsa Indonesia, tulisan di atas patut kita simak dan renungkan. Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: