Posted by: hagemman | December 5, 2009

MEWASPADAI DEINDUSTRIALISASI DI JATIM

Pertumbuhan ekonomi di Jatim menunjukkan angka yang menggembirakan, bahkan melebihi pertumbuhan ekonomi secara nasional. BPS merilis, pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan III/2009 mencapai 5,13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year). Capaian ini lebih tinggi dibanding laju pertumbuhan ekonomi secara nasional yang hanya sebesar 4,21 persen (Kompas Jatim, 11/11/2009).

Di tengah badai krisis finansial global yang belum sepenuhnya reda, capaian itu tentu saja menggembirakan. Namun, terdapat satu hal yang sangat mengkhawatirkan, yaitu kian jelasnya gejala deindustrialisasi di Jatim. Indikasi utamanya adalah pembentuk utama perekonomian datang dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang padat modal. Sementara kontribusi sektor padat karya, terutama industri pengolahan dan pertanian, malah turun.

Dari seluruh sektor lapangan usaha yang ada di Jatim, tercatat sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang memberikan kontribusi terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Jatim selama triwulan III/2009. Data BPS menyebutkan, kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan restoran di Jatim pada triwulan III/2009 mencapai 28,43 persen, meningkat dari kontribusinya pada triwulan II/2009 sebesar 27,91 persen.

Sementara sektor industri pengolahan yang pada triwulan II/2009 memberikan kontribusi terbesar sebesar 28,5 persen justru mengalami penurunan menjadi 27,84 persen pada triwulan III/2009. Kontribusi terbesar ketiga diberikan oleh sektor pertanian sebesar 16,36 persen.

Secara nominal, kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan restoran terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim mencapai Rp 50,664 triliun. Sementara sektor industri pengolahan hanya mampu berkontribusi Rp 49,612 triliun dan sektor pertanian hanya Rp 29,140 triliun. Dengan data tersebut, berarti sumbangan sektor perdagangan, hotel, dan restoran pada triwulan III/2009 telah menggeser industri pengolahan sebagai pembentuk dominan perekonomian Jatim.

Tidak sehat

Dengan data tersebut, kita bisa melihat struktur perekonomian Jatim didominasi oleh sektor non tradeable yang lebih bersifat padat modal. Sementara sektor tradeable yang banyak menyerap tenaga kerja, seperti industri pengolahan dan pertanian, kontribusinya malah minim. Kondisi ini bisa disebut sebagai pertumbuhan ekonomi yang kurang sehat dan tidak berkualitas.

Tiga dari empat besar sektor dengan pertumbuhan tinggi juga didominasi oleh sektor-sektor nontradeable, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi (tumbuh 12,94 persen), sektor jasa perdagangan, hotel, dan restoran (tumbuh 5,75 persen). Sektor pertambangan dan penggalian yang punya penyerapan tenaga kerja lumayan besar ada di peringkat kedua sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,89 persen.

Jika sektor tradeable masih belum diperhatikan secara maksimal, sulit bagi pemerintah untuk mengurangi penganggur secara masif. Padahal, selama ini, sektor tradeable seperti industri pengolahan dan pertanian menjadi kunci dalam mengatasi kemiskinan dan penganggur karena menjadi penyedia lapangan kerja formal dalam jumlah yang besar. Data BPS menyebutkan, 44,8 persen tenaga kerja di Jatim bekerja di sektor pertanian. Sektor industri mampu menyerap 12 persen tenaga kerja. Sementara sektor nontradeable seperti sektor keuangan hanya mampu menyerap 1 persen tenaga kerja.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum berkualitas karena ditopang oleh sektor-sektor yang hanya menyerap sedikit tenaga kerja. Konsekuensinya, pertumbuhan ekonomi menjadi tidak merata karena hanya dinikmati segelintir pelaku ekonomi.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomu yang berkualitas, sektor tradeable berupa pertanian, industri pengolahan, maupun kehutanan seyogyanya diperhatikan secara serius. Sebab, itu merupakan penopang perekonomian mayoritas rakyat. Hal ini berbeda dengan sektor nontradeable yang banyak didominasi oleh sektor jasa, termasuk jasa keuangan, hotel, dan restoran, yang tidak bersifat padat karya. Karena itulah, ke depannya, penyelamatan industri manufaktur ini harus segera dilakukan sehingga pertumbuhan yang berkualitas dan diiringi pemerataan kesejahteraan bisa diwujudkan.

Rakyat tentu berharap, Jatim bisa menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas, pertumbuhan ekonomi yang diiringi pemerataan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang digapai bisa dirasakan oleh banyak pihak, bukan hanya segelintir kelompok. Muara akhirnya adalah terciptanya broad based economic development yang mampu dirasakan manfaatnya secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Angka-angka pertumbuhan menjadi tidak berarti jika petani masih mengalami kelangkaan pupuk. Sementara para buruh perkitaan juga terus tertekan karena upahnya digerus inflasi.

Sumber   :

Mewaspadai Deindustrialisasi di Jatim, Mohammad Eri Irawan | Periset Ekonomi dan Kebijakan Publik
Kompas, 02.12.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: