Posted by: hagemman | December 3, 2009

50 TAHUN REVOLUSI KUBA, CASTRO, DAN BIOTEKNOLOGI

Kalau negara-negara maju sejak beberapa dekade terakhir ini berpacu dalam riset dan industri bioteknologi, itu tentu bukan barang aneh. Tetapi Kuba ? Bagaimana mungkin negara miskin yang diisolasi dan diembargo oleh Amerika Serikat selama hampir setengah abad ini ternyata juga mampu bersaing dalam menciptakan produk-produk biotek mutakhir ?

Jawabnya tentu bukan hanya sekadar retorika “Bersama Kita Bisa” atau “Kita Pasti Bisa” – tetapi adalah paduan antara visi, kepemimpinan, dan cukup banyaknya pakar yang dedikatif di bidang iptek/biotek, tersedianya dana, dan atmosfer yang kondusif bagi riset dasar dan terapannya. Itulah yang bisa kita temukan di Kuba saat ini.

Awal tahun ini genap 50 tahun Revolusi Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro dan Ernesto “Che” Guevara menumbangkan diktator Fulgencio Batista yang didukung AS. Nasionalisasi aset-aset AS di Kuba berujung pada putusnya hubungan diplomatik kedua negara dan embargo terhadap Kuba yang berlangsung hingga kini. Kaum terdidik, profesional, dan ilmuwan Kuba cukup banyak yang hengkang ke AS. Namun, perlahan tetapi pasti Kuba bisa melakukan konsolidasi, terus mendidik ilmuwan-ilmuwan baru yang mampu melakukan riset dasar ataupun terapan, termasuk di bidang biotek.

Terasa ada kesungguhan Kuba untuk menjadi pemain global di bidang biotek untuk pengobatan kanker ketika mengikuti Lokakarya Internasional I tentang Imunoterapi Klinis Kanker dan Riset Translasional di Havana, 19-21 Nopember lalu. Kesan itu makin kental ketika hadir dalam Pertemuan Ilmiah Global ke-5 tahun 2009 untuk Nimotuzumab yang diadakan Pusat Imunologi Molekuler (CIM) pada 23-25 Nopember, yang diikuti oleh 100-an peserta dari 21 negara. Nimotuzumab adalah antibodi monoklonal untuk terapi tumor otak dan kanker kepala/leher temuan CIM yang paling diunggulkan dan kini sudah dipasarkan dan diuji coba di 21 negara, termasuk Indonesia.

Visi Fidel Castro

“Sebelum Revolusi, di Kuba ada 6.000-an dokter, separuhnya lari ke AS. Sekarang ada 60.000-an dokter. Pendidikan di bidang iptek dan biotek juga amat berkembang di sini. Ini adalah manifestasi visi Fidel Castro sejak awal 1960-an menjadi men of science,” tutur Dr Agustin Lage Davila, Direktur Jenderal CIM dalam wawancara khusus dengan Kompas.

Menurut Dr Lage Davila, adalah visi Casto juga yang membuat riset dasar iptek di Kuba harus bermuara pada produksi produk terapan. Ini berlaku bagi Cim dan lembaga biotek Kuba lainnys seperti Pusat Rekayasa Genetika dan Bioteknologi (CIGB), yang masing-masing mampu menemukan antibodi monoklonal, vaksin-vaksin antikanker, interferon rekombinan (untuk terapi hepatitis C), eritropoetin (untuk penderita anemia pada gagal ginjal), faktor pertumbuhan sebagai terapi pendukung pada kemoterapi kanker, hingga rekombinan promotor pertumbuhan epidermal yang mampu mengobati borok pada penderita diabetes.

Dr Rao S Jada, pakar bioteknologi farmasi dari Indoa yang kini bekerja di Innogene Kalbiotech, sebuah anak perusahaan Kalbe Farma Indonesia yang bermarkas di Singapura, mengatakan, bisa saja molekul-molekul biotek temuan ilmuwan Kuba sebagian karena faktor keberuntungan (luck) selain tentu hasil kerja keras para ilmuwannya dan tekad untuk tak mau ketinggalan di bidang bioteknologi farmasi. Hal ini tak dibantah oleh Dr Lage Davila. “Kami di Kuba memang beruntung menemukan beberapa molekul yang baik. Namun, seperti kata Louis Pasteur, luck itu diperlukan dalam sains, tetapi hanya akan berguna bagi mereka yang siap memanfaatkannya,” ujarnya.

Menurut Dr Lage Davila, Nimotuzumab adalah molekul temuan CIM yang sama sekali baru, bukan sekadar modfikasi antibodi monoklonal yang sudah lebih dahulu ditemukan perusahaan-perusahaan farmasi multinasional. “Keunggulannya bukan hanya pada sifat sitostatik atau efektifitasnya menekan pertumbuhan sel-sel kanker akibat over ekspresi reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR), tetapi efek sampingnya yang jauh lebih ringan,” katanya.

Mengapa efek samping Nimotuzumab jauh lebih ringan dibandingkan dengan kompetitornya ? Menurut Dr Rao S Jada, ini karena molekul ini tak menempel ke sel-sel normal. Kini Nimotuzumab sedang menjalani uji klinis untuk khasiatnya mengobati kanker paru, payudara, mulut rahim, hingga usus besar.

Sebagai negara yang diisoloasi dan diembargo AS, Kuba tentu sulit memasarkan produk biotek farmasinya, sehebat apa pun obat itu. Beruntunglah perusahaan YM Kanada menawarkan kerja sama dan membentuk konsorsium untuk uji klinis. Innogene Kalbiotech dipercaya untuk menguji klinis dan memasarkannya di kawasan Asia di luar China dan India serta beberapa negara Afrika.

Tak kurang dari Pertemuan Puncak Onkologi Asia pertama di Singapura, 3-5 April lali, sempat memberikan perhatian besar kepada Nimotuzumab. Perkembangan terapi kanker mulai bergeser dari pengobatan konvensional yang sifatnya sitotoksik (kemoterapi) menuju sitostatik yang lebih tertarget pada jaringan kankernya. Tak adanya ruam kulit pada perawatan menggunakan Nimotuzumab menjadikannya unik di antara kelas terapi monoklonal antibodi anti-EGFR.

Pakar biologi molekuler asal Indonesia yang kini menjadi guru besar di Northwest Mississippi Community College, AS, Augustinus Rinaldy, ketika dihubungi per telepon menyatakan Indonesia sebenarnya juga bisa seperti Kuba. “Keahlian di Indonesia sebenarnya ada. Sayangnya, infrastuktur dan atmosfer riset biotek di Indonesia tidak mendukung. Selain itu, dedikasi ilmuwan Indonesia tak setinggi ilmuwan Kuba yang dibayar amat murah oleh pemerintahnya, cuma sekitar Rp 500.000 sebulan. Jadi, Kuba menemukan molekul sebagus Nimotuzumab bukan hanya karena keberuntungan, tetapi karena iklim kerja yang baik dan dedikasi yang tinggi,” ujarnya.

Lalu ke mana muara “Kita Pasti Bisa” ?  Jawabnya, Indonesia bisanya apa jika cuma jadi konsumen dan “tukang jahit” bagi obat-obatan dan aneka produk lainnya …

Sumber   :

50 Tahun Revolusi Kuba, Castro, dan Bioteknologi, Irwan Julianto
Kompas, 02.12.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: