Posted by: hagemman | November 30, 2009

MENEPIS NASIB BURUK PETANI

Kita mengenal Swiss sebagai negara miskin sumber daya alam karena tidak memiliki laut dan tidak mempunyai banyak lahan perkebunan serta pertambangan. Namun, negeri tersebut lebih kaya daripada kita. Rahasianya cukup sederhana, yaitu warganya kreatif dan terampil dalam mengembangkan kekayaan alam yang dimiliki meski sangat terbatas serta harus mengimpor dari negara lain.

Sebagai contoh, logam kecil berharga Rp 300.000 diproduksi menjadi arloji yang memiliki nilai tawar hingga Rp 10 milliar (Kompas, 25.10.2009).

Di Indonesia, khususnya Jatim yang kaya akan sumber daya alam seperti perkebunan, laut sangat luas, tambang minyak, dan tambak udang, kekayaan itu kini tidak berbanding lurus dengan kehidupan masyarakat. Kekayaan yang melimpah itu tidak mampu menjadikan warga setempat hidup sejahtera, bahkan jatuh miskin, terutama petani dan buruh tani tegalan/

Padahal, jika kekayaan alam yang dimiliki Jatim secara khusus dan Indonesia pada umumnya diukur dengan kekayaan alam yang dimiliki swiss, itu tentu tidak sebanding. Negeri kita jauh amat kaya, sedangkan Swiss sangat miskin sumber daya alam.

Harus diakui, kehidupan petani di negeri ini tampak tertatih-tatih dalam menjalani hidup. Petani berkelindan dengan utang. Bahkan muncul istilah selain utang adalah kelaparan yang berujung pada kematian. Ambil contoh sederhana, selama musim kemarau banyak petani di probolinggi menumpuk utang karena dari April hingga kini mereka “mengantre” menunggu musim hujan datang.

Hasil bumi pada musim hujan lalu, seperti padi, jagung, dan kacang tanah yang dicanagkan untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun, tidak cukup sehingga mereka harus membeli beras dan jagung untuk makanan sehari-hari, (Kompas, 27.10.2009). Fakta lain, akhir-akhir ini tembakau di Madura tidak memberikan hasil gemilang karena harganya anjlok tidak kunjung usai (Syafiqurrahman, Kompas, 21.10.2009).

Problem pertanian saat ini memang cukup kompleks : pupuk langka dan mahal, nilai tawar rendah bahkan produk tidak laku dijual, modal kurang, serta fasilitas minim. Tidak sedikit petani gagal panen akibat lahan mereka tidak subur karena pupuk langka atau petani tidak mampu membelinya. Hasil panen pun kadang sulit dipasarkan.

Selain itu, di pedesaan-pedesaan juga ditemukan banyak petani masih membajak sawah dengan sapi, bukan traktir. Parahnya, banyak petani di pedesaan Madura masih setia memakai dua orang sebagai pengganti sapi untuk menarik bajak. Rentetan itulah yang menjadikan petani resah, bosan, dan harus menderaskan keringat. Petani terpaksa melakukannya tidak lebih dari sekadar mempertahankan kelangsungan hidup.

Namun, masalah yang lebih mendasar bagi para petani adalah ketidakmampuan mereka mengelola hasil pertaniannya. Harus diakui, mereka hanya tahu memetik, selebihnya tidak ada. Ini entah mereka memang tidak pernah berpikir untuk mengelolanya atau justru tidak memiliki modal. Meski ada, usianya hanya seumur jagung seperti hasil produksi petani Madura, yakni keripik singkng, keripik pisang, dodol pisang, rokok, dan jagung goreng yang kemudian lebih banyak “lapuk di hujan”, bubar karena kekurangan modal. Selain itu, karena kualitas dan kemasan yang tidak meyakinkan, masyarakat kita tidak percaya diri untuk menunjukkan produk lokal di hadapan dunia.

Padahal jika dihitung-hitung, keuntungan pengelolaan dari hasil pertanian akan lebih besar ketimbang menjualnya dalam bentuk bahan mentah. Kacang tanah diproduksi dahulu menjadi kacang asin, jagung akan lebih besar nilai jualnya jika diproduksi terlebih dahulu menjadi jagung goreng, singkong menjadi keripik singkong,dan sebagainya.

Dengan demikian, mengingat karut-marut pertanian, petani sudah semestinya bertekad bulat menjalani hidup yang kreatif dan terampil dalam mengembangkan hasil pertaniannya. Tidak salah jika mengambil Swiss sebagai cermin. “Cermin” dalam upaya meningkatkan ekonomi melalui kreativitas dan keterampilan dalam mengelola kekayaan alam, termasuk pertanian. Dengan demikian, petani tidak hanya mengambil keuntungan dari memetik, tetapi juga dari mengelolanya, yang justru lebih besar keuntungannya. Sangat mungkin bagi petani, dengan kekayaan alam melimpah dan kreativitas mumpuni, akan lebih hidup sejahtera dibandingkan dengn warga Swiss.

Sumber  :

Menepis Nasib Buruk Petani, Sitti Musyrifah | Pengurus BEM STIK Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep – wasik89@telkom.net
Kompas, 23.11.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: