Posted by: hagemman | November 30, 2009

MASIH SOAL SWASEMBADA PANGAN

Banyak kalangan meragukan pencapaian swasembada beras, jagung, dan gula konsumsi akan berkelanjutan pada masa-masa yang akan datang. Begitu pula dengan kelanjutan produksi komoditas pangan yang lain.

Kekhawatiran ini beralasan mengingat ada empat arus besar yang melingkupinya, yaitu penduduk Indonesia yang terus bertambah sehingga permintaan pangan meningkat. Iklim semakin sulit diprediksi karena itu pasokan pangan menjadi tidak stabil.

Kompetisi penggunaan lahan dan air juga semakin ketat. Dan, terakhir Indonesia semakin terintegrasi dengan pasar global. Geliat perdagangan komoditas pangan global akan langsung mengimbas pasar domestik.

Meski begitu, (mantan) Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Rabu (2/9) di Jakarta mengungkapkan optimismenya. Setidaknya untuk komoditas pangan pokok, seperti beras, jagung, dan gula konsumsi pencapaian telah dilakukan.

Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian menghitung rata-rata pertumbuhan produksi komoditas pangan menggembirakan dalam enam tahun belakangan ini.

Pertumbuhan produksi padi 2003-2008 sebesar 2,7 persen, jagung 8,24 persen, kedelai 3,94 persen persen, ubi kayu 2,4 persen, sayur 3,62 persen.

Begitu pula produksi buah-buahan naik 7,34 persen, daging sapi dan kerbau 19,5 persen, daging ayam 24,26 persen, susu 1,07 persen, telur 8,02 persen, dan ikan 6,56 persen. Saat ini surplus neraca perdagangan sektor pertanian Indonesia lebih dari 20 miliar dollar AS. Bandingkan dengan empat tahun lalu yang hanya 5-6 miliar dollar AS.

Deputi Bidang Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian Bayu Krishnamurti menyatakan, dari puluhan produksi komoditas pangan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, hany lima atau enam yang sebagian masih impor. “Itu pun tidak membuat ketergantungan,” katanya.

Masih banyak sumber pangan yang diproduksi di dalam negeri. Dengan kata lain bahwa secara makro, ketahanan pangan bangsa Indonesia baik. Namun, secara mikro memang masih ada persoalan, seperti persoalan antarkomoditas karena terjadi kompetisi lahan dan juga akses pangan masyarakat terkait daya beli.

Benarkah negara agraris ?

Anton mengungkapkan bahwa membangun ketahanan pangan bangsa harus dimulai dari mengubah pola pikir. Indonesia terjebak dalam pemahaman sempit karena sebutan negara agraris.

“Jangan mentang-mentang Indonesia disebut sebagai negara agraris lalu ingin memenuhi semua kebutuhan pangan dari dalam negeri. Tunjukkan kepada saya di mana ada negara yang 100 persen kebutuhan pangannya dipenuhi sendiri,” kata Anton.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air menunjukkan luas lahan pertanian Indonesia hanya 47 juta hektar (ha). Dengan lahan yang tidak seberapa itu, apakah Indonesia akan mampu memproduksi semua kebutuhan pangannya untuk 230 juta penduduk sendiri ?

Berapa juta hektar lahan yang harus disediakan untuk gandum, beras, jagung, kedelai, gula, minyak sawit, kakao, jambu mete, kacang tanah, umbi-umbian, singkong, sayur-sayuran, dan buah-buahan serta jenis pangan hewani lain, seperti daging sapi, susu, telur, daging ayam, dan jenis makanan lain.

“Sebagai gambaran, Brasil memiliki lahan penggembalaan sapi 210 juta hektar, 28 juta hektar lebih luas dari seluruh luas daratan Indonesia yang 192 juta hektar,” kata Anton. Namun, Brasil sampai sekatang impor gandum, juga sawit. Amerika Serikar yanglahan pertaniannya luas, impor terbesar adalah daging sapi Brasil. China impor kedelai, begitu pula India.

“ Yang terpenting kita harus melihat opportunity cost-nya. Kita mau pilih menanam gandum atau kelapa sawit ? Jelas pilih kelapa sawit karena di sini kita unggul, produktivitas tinggi, dan tidak banyak negara pesaing,” katanya.

Karena itu, Anton meminta dalam melihat persoalan pangan bangsa hendaknya dilihat secara utuh, tidak parsial. Bukan hanya pangan semata, tetapi juga harus dilihat secara umum. Potensi pertanian apa yang bisa digali dan dikembangkan.

Kalau yang tidak sesuai dengan alam Indonesia dan lahan terbatas, jangan dipaksakan karena membuang energi.

Muatan teknologi

Menurut Bayu, membangun ketahanan pangan ke depan juga harus mengembangkan diversifikasi. Diversifikasi produksi dengan menyediakan komoditas pangan selain gandum seperti umbi-umbian, singkong, dan sagu.

Namun, diversifikasi produksi semata tidak akan bisa menjawab persoalan. Karena itu, penting dilakukan diversifikasi konsumsi. Namun, diversifikasi konsumsi yang melibatkan bisnis industri. Jangan membayangkan industri itu sudah pasti besar, tetapi bisa dengan industri kecil.

Bila dipelajari, peningkatan persentase konsumsi gandum dalam menu makanan sehari-hari masyarakat Indonesia dari 2 persen 20 tahun lalu, sekarang menjadi sekitar 15 persen tidak lain karena adanya perubahan sifat yang fundamental.

Di mana gandum dibuat menjadi tepung sehingga dari sana muncul beragam pangan berbasis gandum. “Tentu ini tidak terlepas dari peranan industri yang begitu giat berpromosi,” kata Bayu yang tidak bermaksud mendukung impor gandum.

Karena itu, bagaimana ke depan bangsa Indonesia bisa menciptakan sifat fundamental yang baru, seperti pada gandum untuk komoditas lokal. Dengan demikian, dari sana mendorong munculnya industrialisasi pangan untuk menghasilkan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja dari sektor pertanian.

Tantangan mendatang

Menurut Bayu, untuk menjaga ketahanan pangan agar berkelanjutan, ke depan Indonesia harus bisa mengatasi empat arus besar di atas.

“Iklim masalah serius. Bukan lagi retorik atau romantisisme saja. Beberapa daerah dan masyarakat sudah mengalami dampak buruknya. Karena itu, agenda penting terkait iklim adalah bagaimana melakukan adaptasi, bukan lagi mitigasi,” katanya.

Begitu juga dengan kompetisi lahan, peningkatan permintaan pangan karena pertambahan jumlah penduduk, dan masalah integrasi pasar global. Yang tak kalah penting adalah teknologi. Penerapan teknologi oleh negara lain akan menjadi ancaman bagi Indonesia, tetapi kalau dimanfaatkan sendiri akan menguntungkan.

Anton mengatakan, peningkatan produksi pangan harus terus dilakukan sepanjang hayat, terutama pangan pokok. Peningkatan kesejahteraan petani juga menjadi prioritas.

Terkait dengan kemampuan daya beli, tidak hanya masalah pertanian. Ini juga terkait dengan pembangunan ekonomi secara keseluruhan karena menyangkut masalah kemiskinan.

Tingkat kesejahteraan seperti apa yang bisa dicapai oleh 25 juta keluarga petani yang menggarap lahan pertanian 47 juta hektar ? Idealnya tiap rumah tangga petani untuk bisa hidup sejahtera memerlukan lahan minimal 4 hektar.

Dengan kata lain, rumah tangga petani yang menggantungkan hidup dari 47 juta hektar lahan pertanian itu hanya sekitar 12 juta. Lantas mau dikemanakan 12 juta sisanya kalau tidak dimasukan ke sektor lain? Karena itu, upaya peningkatan nilai tambah menjadi kata kunci.

Ke depan, kata Anton, bila Indonesia ingin mencukupi kebutuhan pangan dalam jangka panjang atau menjadi eksportir komoditas pangan, tidak cukup mengandalkan petani gurem. Harus melangkah ke arah industrialisasi pertanian, baik pada tingkat on farm maupun off farm.

Kebijakannya tidak mengganggu pemanfaatan lahan yang sudah ada, tetapi membuka lahan baru di luat Jawa. Polanya bisa dengan sistem intiplasma dengan kepemilikan sistem patungan. Kalau produksi lebih boleh ekspor, yang penting ada jaminan pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri.

“Kita mengarah ke corporate farming, dalam bentuk koperasi. Lalu dikelola secara corporate. Pembangunan pertanian bangsa kita juga mengarah ke sana. Tanpa itu pada masa mendatang tdak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan bangsa karena tidak bisa lagi mengandalkan petani kecil,” kata Anton.

Sumber  :

Swasembada Pangan Tidak Lagi Bisa Mengandalkan Petani Kecil, Hermas E Prabowo
Kompas, 04.09.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: