Posted by: hagemman | November 30, 2009

KUNCINYA MENDEKAT PADA IBU BUMI

Para petani yang melakukan metode organik tak memiliki resep tunggal untuk meningkatkan kesuburan lahan serta mengatasi gangguan hama dan penyakit tanaman. Masing-masing menemukan teknik sendiri. Kuncinya adalah mendekat pada ibu bumi, memahami keluh kesahnya, dan memberi apa yang dimauinya.

Kata kunci itu barangkali terdengar abstrak bagi sebagian orang. Namun, bagi petani yang telah menerapkannya, metode tersebut sangat nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan dengan menggantungkan tanah mereka pada rezim pupuk dan pestisida kimia yang datang dari negeri yang entah.

Disamping teknik yang telah dikenal umum, dengan membuat kompos berbahan baku kotoran hewan atau dedaunan, sejumlah petani organik menemukan teknik dan bahan terbaik untuk pupuk sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.

Misalnya, Purwanto, petani dari Dusun Klebenm Kelurahan Sidorejo, Godean, Sleman, Yogyakarta, menemukan pupuk dari fermentasi telur itik busuk – dipilih dari telur itik yang gagal menetas dari usaha penetasan telur yang dimilikinya.

Petani 34 tahun ini, selain mengolah lahan warosan mertua seluas 450 meter persegi, juga mengembangkan usaha penetasan bebek sejak tiga tahun terakhir. Setiap bulan dia menetaskan sekitar 2.500 telur dengan tingkat kegagalan sekitar 5 persen.

Limbah telur ini awalnya biang masalah karena biasanya dia membuang telur busuk itu ke sungai. Tetangganya protes karena muncul bau busuk luar biasa. “Suatu malam saya menemukan ide, kenapa telur itu tidak saya pendam di dalam sawah ? Telur kan makanan bergizi bagi manusia, pasti juga baik bagi padi,” demikian logika sederhananya.

Selama dua tahun terakhir dia mempraktikan metode temuannya itu dan sudah sekitar 4.000 telur bebek lengkap dengan cangkangnya yang ditanam di sawah. “Panenan ternyata bagus,” kata Purwanto.

Di Klaten, sekelompok petani memfermentasi limbah tetes tebu dari pabrik gula, yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan. Sedangkan di Margoluwih, Sayegan, Yogyakarta, Kelompok Joglo Tani menggunakan air kencing kelinci untuk membuat pupuk.

Para praktisi organik ini percaya bahwa ibu bumi dan tanaman merupakan sosok yang hidup dan bernapas. Karena itu, kebutuhan terhadap unsur hara juga berlainan pada waktu, jenis tanaman, dan tempat yang berbeda. Dengan mengenal dan membaca tanda-tanda alam, para penggiat organik ini menemukan cara masing-masing.

“Saya pernah dianggap gila karena tiap hari merenung di tengah sawah, “ kata Purwanto. Waktu itu tanaman padinya yang mulai mengunging dikeroyok tikus. Beberapa resep tradisional dicoba, tapi tdak mempan. “Tikus itu hewan pintar, mereka juga belajar,” katanya.

Dia akhirnya menemukan teknik merendam sawah saat malam – ketika tikus-tikus iu menyerbu – dan cepat mengeringkan kembali saat pagi. Untuk sementara padinya aman walaupun mungkin suatu saat tikus itu akan menemukan cara menyerang pada saat tengah hari bolong.

Di Purbalingga, pelopor pertanian organik, Mbah Gatot, menggunakan gula untuk melawan tikus. Pertama-tama, dia mencari liang tikus yang masih aktif, yaitu yang masih ada bekas lalu linyas hewan pengerat itu. Lalu di bagian luar liang ditaruj beberapa sendok gula merah atau gula putih. Tujuannya agar setiap ada tikus yang lewat, rambut tikus itu tertempel gula dan terbawa masuk ke dalam liangnya. Gula akan mendatangkan semut, dan semut akan mengusir tikus. Itulah logikanya. Logika yang dipahami dan ditemukan dari hasil pengamatan sendiri, kemudian dicobakan.

Beberapa teknik itu gagal, sebagian berhasil. Tetapi, pada prinsipnya mereka berdialog, belajar, dan mencoba sendiri.

Teknik paling ampuh mengatasi tikus, menurut Purwanto, sudah dikenal oleh petani sejak lama, yaitu menggunakan preadtor tikus, misalnya ular, burung hantu, atau elang, “Tetapi, sekarang predator tikus itu dihabisi oleh predator yang lebuh rakus, manusia,” dan sebagai akibatnya, “petani yang sekarang kesuliyan melawan tikus itu,” kata Purwanto menerangkan konsep rantai makanan.

Jejaring hidup

Seperti ditulis oleh Rachel Carson dalam Silent Spring (1962), buku klasik yang menguvah cara pandang dunia Barat terhadap pupuk dan pestisida kimia, sejarah kehidupan adalah interaksi dengan lingkungan. Saling tergantung dan saling dukung. Tak ada yang tak berguna dalam jejaring alam ini, semua memiliki peranan.

Jauh sebelum manusia menjadi dominan, alam telah menemukan keseimbangannya sendiri. Manusia tidak mencipta apa-apa, termasuk tanaman pangan yang sekarang dikenal, mulai dari padi-padian, gandum, jagung, hingga umbi-umbian. Manusia hanya menyeleksi, memodifikasi, dan membiakkan dengan cepat (sesuai) yang diinginkannyaserta menyisihkan yang dianggap tak berguna.

Aneka tanaman itu sudah ada di bumi, demikian juga serangga yang tergantung padanya. Dan, seperti manusia, spesies pesaing itu juga beradaptasi. Ketika kemudian manusia menganggap spesies itu sebagai hama dan menyerangnya dengan zat kimia mematikan, mereka pun belajar untuk bertahan dengan kemampuan adaptasi yang jauh lebih canggih dibandingkan manusia karena mereka jauh lebih tua.

Contoh yang populer adalah penggunaan dichloro diphenyl trichloroethane (DDT). Pada tahap awal penggunaannya, DDT dianggap pahlawan yang mampu mengalahkan serangga pengganggu, tetapi hanya sebentar karena muncul berbagai varian baru serangga yang lebih kebal terhadap racun ini. Demikian seterusnya, walaupun jenis dan dosis racun ditambah, spesies pesaing itu tetap bertahan dan semakin kebal.

Rachel Carson mengamati, alih-alih menghabisi hama pengganggu, tracun kimia itu justru membunuh aneka spesies yang berguna bagi manusia, seperti lebah penyerbuk dan burung pemakan hama. Pada gilirannya, racun kimia yang ditujukan kepada spesies pengganggu juga menggerogoti tubuh manusia. Singkatnya, menurut Rachel, “perang dengan racun kimia tak akan pernah dimenangi manusia.”

Walaupun tak pernah membaca Silent Spring atau buku-buku sejenis itu, Purwanto tahu betul bahwa racun kimia memang bukan jawaban untuk pertanian. “Kita cukup mendekat pada alam untuk tahu bahwa metode pertanian organik adalah yang terbaik untuk kehidupan,” kata petani muda dari dusun kecil ini. Dia sangat yakin gerakan menuju organik adalah perjuangan “untuk keberlangsungan lingkungan, dan akhirnya untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi juga.”

Sumber  :

Kuncinya Mendekat pada Ibu Bumi, Ahmad Arif
Kompas, 18.09.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: