Posted by: hagemman | November 30, 2009

HATI-HATI SOAL LAUT

Indonesia sebaiknya jangan gegabah mengajukan laut sebagai salah satu jawaban menghadapi persoalan perubahan iklim. Dikhawatirkan, nantinya justru Indonesia yang akan dirugikan karena sifat lautnya adalah sebagai pelepas karbon dioksida.

Demikian antara lain salah satu kesimpulan dalam diskusi terbatas bertajuk “Menguak Mitos Laut Indonesia sebagai Penyerap Karbon” yang diadakan oleh organisasi lingkungan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Kamis (26/11) di Jakarta.

“Indonesia jangan gegabah memasukkan laut sebagai salah satu faktor yang dapat memecahkan persoalan pemanasan global, apalagi menyebutkan laut di Indonesia bisa menyerap karbon,” ujar Sekretaris Jenderal Kiara Riza Damanik.

Dia khawatir, jika diteruskan, bukan tidak mungkin justru Indonesia yang nantinya dirugikan. Jika laut dimasukkan dalam skema perdagangn karbon, “Bisa-bisa kita yang malahan harus membayar,” lanjutnya.

Kesimpulan tersebut muncul seusai pemaparan berjudul Carbon Cycling in the Indonesian Seas oleh ahli lingkungan Alan F Koropitan, yang meraih gelar doktornya di Hokkaido University, Jepang.

Peran laut sebagai penyerap atau pelepas karbon telah satu dekade menjadi perdebatan di dunia ilmu pengetahuan. Hasil penelitian terakhir yang menjadi pamungkas adalah hasil penelitian Arnold Gordon.

Alan yang secara khusus melakukan penelitian di Laut Jawa dengan jernih memaparkan berbagai faktor yang memengaruhi laut untuk kemudian apakah menjadi pelepas atau penyerap karbon.

Menurut dia, melalui pemaparannya, perdagangan karbon dari laut adalah tidak memadai, terutama bagi Indonesia, karena laut Indonesia berada di kawasan tropis yang memiliki temperatur tinggi (29 derajat Celsius – 30 derajat Celsius).

“Yang berpotensi menyerap karbon adalah laut di subtropis bagian selatan, yang lebih dingin,” kata Alan, yang juga menjadi dosen pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Di Indonesia hanya Teluk Lombok yang menyerap karbon, itu pun hanya 8 part per million, diukur pada tahuan 1984. “Angka yangamat kecil,” ujarnya.

Pada laut dengan temperatur tinggi terjadi upwelling (arus ke atas) yang mengakibatkan karbon terlepas ke atmosfer. Secara total, menurut Alan, mengutip penghitungan Takahashi, laut adalah pelepas karbon.

Karena kondisi tersebut, Alan mengusulkan, antara lain, Indonesia harus lebih memerhatikan marine ecosystem under global warming (mengamati perubahan ekosistem laut akibat pemanasan global), mengatur tata kelola pesisir laut terkait populasi, serta lebih memberikan perhatian pada pengembangan energi baru dan terbarukan dari energi pasang surut.

“ Karena di Indonesia banyak teluk, pasang surutnya dapat digunakan sebagai sumber energi,” ujarnya.

Sumber  :

Hati-hati Soal Laut | Kompas, 28.11.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: