Posted by: hagemman | October 21, 2009

RELASI JENDER DALAM PASAR TRADISIONAL

relasi jender dlm psr tradisionalKeberadaan pasar tradisional di berbagai wilayah pedesaan maupun perkotaan masih menjadi urat nadi perekonomian masyarakat, meskipun eksistensi pasar tradisional semakin terancam oleh kehadiran pasar “semu” swalayan yang memiliki modal dan jaringan bisnis yang kuat.

Pasar tradisional menjadi pusat aktivitas perdagangan produk pertanian dan nonpertanian dari berbagai wilayah pedesaan dan wilayah pegunungan yang kaya akan aktivitas pertanian hortikultura. Pasar tradisional merupakan monumen sejarah perkembangan ekonomi yang dimulai dari masa prafeodalisme hingga era kolonialisme.

Pasar tradisional  adalah situs sosial-ekonomi yang menggambarkan relasi sosial yang egaliter, antidominasi antara penjual dan pembeli. Pasar tradisional masij menyisakan “nilai substansial” dari apa yang dinamakan sebagai model perdagangan demokratis. Ada mekanisme penawaran-permintaan dalam model penyepakatan harga secara bersama.

Pasar tradisional menjadi ruang sosial yang menggambarkan fakta kesetaraan jender. Di dalam pasar tradisional ada relasi jender yang adil dan setara.

Di dalam pasar tradisional stereotip kenderterabaikan karena yang berada dalam wilayah kepentingan secara ekonomis adalah dua subyek yang saling kontraposisional. Penjual-pembeli, pedagang-pemasok, penjual-penjual.

Data

Data Kajian Studi Gender dan Sosial Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) Solo menunjukkan fakta,  mayoritas aktor utama dalam aktivitas sosial-ekonomi di berbagai pasar tradisional di Indonesia, 67 persen adalah perempuan. Perempuan sebagai pedagang, penjual, dan pembeli. Dari populasi pedagang pasar tradisional, 72 persen adalah perempuan.

Fakta tersebut memperlihatkan, di dalam pasar tradisional perempuan memainkan peranan penting dalam aktivitas perdagangan. Perempuan mampu menyejajarkan diri dengan kaum laki-laki dalam posisi sebagai pemegang aktivitas pasar tradisional. Perempuan bahkan memiliki kemampuan lebih di dalam ruang publik sebagai penjual. Perempuan pintar menjajakan produk dagangan, melakukan self marketing untuk menarik pembeli, dan cermat mengalkulasikan laba-rugi dalam berdagang.

Berbeda dengan realitas di dalam pasar swalayan, perempuan kebanyakan berposisi sebagai burh yang standar upahnya ditentukan pemilik modal.

Catatan riset PRP Solo akhir Maret 2009 tentang “Bisnis Waralaba, Supermarket dan Ketidakadilan Gender” mengungkapkan fakta, dari 15.000 tenaga kerja di berbagai pusat perbelanjaan di Surakarta, 81 persen pekerjanya perempuan yang bekerja di kawasan pusat perbelanjaan mengalami diskriminasi jender dalam standar pengupahan.

Standar upah yang diterima masih banyak yang berada di bawah standar kebutuhan hidup layak. Pekerja perempuan di pusat perbelanjaan tidak memiliki otonomi atas nilai kerja yang mereka abdikan. Berbeda dengan para perempuan di pasar tradisional, mayoritas adalah tuan atas hasil kerja yang mereka lakukan di ranah publik.

Di dalam pasar tradisional, memang ada pekerja perempuan, tetapu mereka tidak bisa digolongkan sebagai pekerja upahan dengan beban jam kerja berat. Kebanyakan pekerja tersebut masih sanak famili yang juga ikut andil dalam unit usaha yang mereka kelola bersama.

Relasi jender dalam pasar tradisional yang menggambarkan nilai kesetraan dan tidak ada stereotip sosial atau diskriminasi disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, kultur kolektivisme di dalam aktivitas ekonomi pasar tradisional sebagai bangunan filosofis model (corak) ekonomi prafeodal. Corak ekonominya tidak didominasi kepentingan modal besar serta tidak menjadikan produk ekonomi terbatas sebagai komoditas.

Kedua, adanya pembagian peran-fungsi antara perempuan yang bekerja di ranah publik sebagai pedagang dan kaum laki-laki yang mendukung aktivitas ekonomi yang dijalankan perempuan. Tidak ada upaya domestifikasi peran perempuan dalam aktivitas ekonomi pasar yradisional.

Ketiga, pasar tradsiional adalah simbol nilai harmoni antara identitas sosial yang saling berbeda : harmoni antara kepentungan mencari laba dengan kepentingan sosial, harmoni antara produk agraris dengan nonagraris, harmoni antara pedagang-pembeli dalam asumsi mutualisme sosial, harmoni antara perempuan sebagai pedagang dengan laki-laki yang banyak menjadi tenaga kerja “kasar” marjinal.

Pelajaran yang bisa dipetik dari pasar tradisional adalah harmoni sosial yang dilandasi kultur ekonomi yang egaliter (dan) mampu menjaga realitas keseimbangan jender ke arah keadilan.

Sumber  :

Relasi Jender dalam Pasar Tradisional – T Yulianto | Fasilitator Pendidikan Jender dan Perburuhan Perhimpunan Rakyat Pekerja, Solo
Kompas, 05.10.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: