Posted by: hagemman | October 16, 2009

TELEPON DARI CIKEAS

telephoneMulai hari-hari ini telepon telah menjelma menjadi benda yang penuh harapan. Bagaimana tidak demikian jika mendadak berdering, dan diujung sana ada suara yang meminta Anda ke Cikeas untuk diproses uji kemampuan, kepatutan, kesehatan jasmani dan rohani – soalnya Anda bakalan jadi menteri.

Sampai disini persoalan sah-sah saja. Tidak ada yang membuat dahi berkerut. Cuma yang menjadi masalah adalah kita menangkap adanya eforia penantian baik itu dari kalangan parpol dan non parpol.

Dari kalangan parpol lebih berbau imbal jasa oleh karena dukungan kepada Partai Demokrat saat Pemilu 2009 lalu, inilah saat jasa diberikan imbalan. Sementara bagi parpol yang tadinya tidak mendukung tercatat ada yang berubah haluan seperti Partai Golkar yang kini merapat pada pemerintah. Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memilih bekerja sama terbatas di MPR, dan dua partai lain yakni Partai Gerindra dan Partai Hanura lebih memilih untuk beroposisi. Khusus catatan kita, Partai Gerindra dengan amat gentle bersikap tahu diri, setidaknya itu yang dikatakan Mas Fadli Zon.

Dari kalangan non parpol ada perbedaan nuansa. Lebih berbobot dan bermartabat dalam konteks kelimuan ; hal ini jelas terindikasi selama sebulan terakhir ada banyak pemikiran-pemikiran yang menarik dari para akademisi, pengamat, pakar, aktivis dan sebagainya yang bertebaran diluncurkan dalam media. Sebab harap maklum salah satu kekuatan Presiden SBY dan Wapres Boediono berkecenderungan lebih menitik-beratkan pada hal-hal keilmuan dan rasionalitas. Jadi siapa tahu paparan pemikiran yang dimuat media bisa membuat Presiden dan Wapres berpaling.

Artinya telah terjadi kompetisi ketat antara calon menteri dari parpol dan non parpol untuk mengisi  34 posisi kursi yang tersedia. Tentu kita berkeyakinan serta berharap bahwa baik Presiden dan Wapres akan amat sangat jernih buat memilih yang terbaik. Tapi yang heboh berkompetisi sekaligus menyedihkan adalah mereka yang merasa dirinya patut menjadi menteri baik dari kalangan parpol maupun non parpol.

Kehebohan inilah yang memiriskan hati kita sebagai rakyat kebanyakan. Sihir jabatan menteri tidak lagi dipandang sebagai sebuah amanah rakyat nan sakral untuk wajib dilaksanakan. Melainkan dipandang semata sebagai ketiban bulan alias rejeki yang ujungnya lebih ke arah kepentingan pribadi belaka.

Maka jika telepon Anda hari-hari ini berdering di tengah malam sekali pun, mohon sebelum mengangkat – Anda berdoa agar dimampukan Sang Khalik untuk bersikap jujur ; apakah diri Anda pantas untuk menjadi seorang menteri.

Tentunya jika telepon yang masuk itu beneran dari Cikeas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: