Posted by: hagemman | October 11, 2009

SETELAH GEMPA, BENCANA LAIN MENGANCAM

earthquake-gallery-3Gempa berskala besar akan meobohkan apa pun di muka bumi yang tak kukuh dan rapuh. Fenomena ini bukan hanya meruntuhkan bangunan, melainkan juga membuat tanah longsor, merekah, dan ambles. Di luar itu, gempa di pesisir juga berpotensi menimbulkan tsunami. Itulah serangkaian ancaman bagi penduduk di daerah rawan gempa.

Selama bumi berputar, pergerakan lempeng-lempeng bumi yang menutupi dan mengapung di atas magma tak akan pernah berhenti. Tumbukan antarlempeng atau kerak bumi inilah yang menyebabkan gempa terus terjadi silih berganti di sekujur tubuh bumi ini.

Ketika satu lokasi lapisan bebatuan di batas kerak bumi runtuh karena merapuh menahan desakan lempeng, bebatuan itu akan mencari posisi baru yang stabil. Selama proses ini berlangsung akan terjadi serangkaian gempa susulan, pascagempa utama. Hal ini dapat mengakibatkan bangunan yang retak dan rapuh akhirnya roboh.

Untuk kejadian gempa di Padang, 30 September, terjangan gempa bahkan mencapai ratusan kali sebelum kejadian itu. Sejak gempa di Naggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, Padang dan sekitarnya sering diguncang gempa bersakala 4 hingga 6 skala Richter (SR). “Jumlahnya mencapai ratusan, “ kata Sujabar, petugas di Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Guncangan dalam kurun waktu yang anjang secara perlahan telah melemahkan struktur bangunan yang tidak dirancang tahan gempa, antara lain ditunjukan dengan keretakan tembok. Imbauan kepada masyarakat untuk melakukan perkuatan bangunan yang rentan terhaap gempa sudah dilakukan. “ Namun, sayangnya hal ini diabaikan ketrana mereka menganggap gempa besar belum pasti datang, “ ujar Febrin A Ismail, Koordinator Tenaga Ahli Kelompok Siaga Tsunami (Kogami) Sumatera Barat.

Longsor dan ambles

Ancaman lain yang mengintai setelah gempa adalah tanah longsor dan ambles. Hal ini terjadi di daerah perbukitan karena berkurangnya tutupan lahan.

Berkurangnya areal hutan di kawasan lereng akan membuka potensi tererosi dan longsor ketoka diguyur hujan. Kondisi ini diawali saat musim kemarau. Akibat paparan sinar matahari yang intensif, ikatan tanah permukaan yang “telanjang” akan melemah dan merenggang.

Longsoran umumnya terjadi pada masa peralihan kemarau ke musim hujan, terutama di daerah berjenis tanah yang mudah lepas. Ketika terguyur hujan terus-menerus ikatan yang melemah itu akan putus karena menanggung beban air di pori-porinya. Putusan ikatan itu ditandai dengan longsoran tanah. Ancaman longsoran menjadi makin besar ketika di lereng yang rapuh itu bertengger bangunan, apalagi ketika diguncang gempa.

Longsornya lereng di beberapa daerah di Sumatera Barat pascagempa, 30 september, antara lain terpicu oleh kondisi tersebut. Hal serupa juga terjadi di Cainjur, Jawa Barat, 2 September 2009.

Melihat kebenderungan merambahnya areal permukiman di daerah perbukitan akibat meningkatnya populasi di daerah rawan gempa, pada masa-masa mendatang kejadian longsor saat gempa, pada masa-,asa mendatang kejadian longsor saat gempa seperti di Coanjur dan Padang-Solok bakal terjadi pula di daerah lereng lainnya yang rawan gempa dan berpenduduk padat.

Selain longsor, amblesnya permukaan juga dapat terjadi di daerah yang diterjang gempa. Akibat gempa, sumber air di bawah tanah teraduk hingga terjadi likuifaksi atau pelembekan tanah. Tanah yang mengalami pembebanan tinggi dan berongga akan ambles.

Efek domino

Efek domino pun dapat terjadi pada segmen kegempaan dan patahan yang berdekatan dengan bebatuan yang runtuh yang menjadi sumber gempa. Kondisi itu antara lain terjadi pascagempa Padang yang keesokan harinya diikuti gempa Jambi, yang bersumber dari sesar Semangko.

“ Saat ini segmen kegempaan Mentawai pun perlu mendapat perhatian setelah gempa Padang akhir bulan lalu, “ kata Danny Hilman, pakar geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebab, sumber gempa tersebut berada di tepi barat segmen Mentawai – disebut mega thrust – yang terbentang dari Pulau Siberut hingga Pulau pagai. Penelitian LIPI di Kepulauan Mentawa menunjukkan, tahun 1650 pernah terjadi hempa di atas 8 SR di Pilau Siberut. Tahun 1797 dan 1883 gempa berskala sama kembali muncul di daerah itu.

Kedua gempa – berdasarkan penelitian koral dan lapisan sedimen – menimbulkan tsunami di Padang setinggi 10 meter. Adapun pemodelan perambatan tsunami akibat hempa 8,7 – 8,9 SR pada 1797 dan 1833, yang dibuat pakar tsunami ITB, Hamzah Latief, gelombang akan sampai ke pantai Padang dalam waktu 30 menit dengan ketinggian hampir 5 meter.

Segmen Mentawai merupakan bagian dari sistem kegempaan di barat Sumatera yang ternadi dalam empat segmen (Simelue, Nias, Mentawai, Enggano). Sejak 10 tahu  terakhir gempa di segmen-segmen ini “bertalu-talu”. “ Munculnya gempa akhir September itu dapat mengusik segmen Mentawai yang tidur hingga menimbulkan tsunami, “ ujar Dannu.

Gempa-gempa di kepulauan di barat Sumatera itu periode pengulangannya sekitar 200 – 300 tahun. Hal ini akibat efek penujaman dari lempeng Indoaustralia yang menekan ujung lempeng Eurasia di bawah bagian barat sesar Semangko hingga ke kepulauan di pesisir Sumatera. Kecepatan desakan lempeng tersebut 6 hingga 7 sentimeter per tahun.

Bebatuan di ujung lempeng pada suatu waktu akan melenting karena tidak mampu lagi menahan tekanan itu. Hal ini ditandai dengan gempa besar, pergeseran posisi daratan di segmen itu, dan menjauhnya pulau dari daratan beberaa meter dari posisi semula. Pascagempa tahun 2004, kepulauan di pesisir Banda Aceh menjauh 1 – 3 meter.

Selain fenomena alam yang menyertai gempa besar, dampak lain adalah ancaman penyakit, kelangkaan pangan, serta trauma kejiwaan korban yang kehilangan harta dan keluarganya.

Karena itu, Danny mengingatkan semua pihak di Padang harus waspada dan melakukan antisipasi menghadapi perulangan gempa berpotensi tsunami.

Sumber  :

Setelah Gempa, Bencana Lain Mengancam – Yuni Ikawati
Kompas, 06.05.2009


Responses

  1. buku tentang likuifaksi dapat di download dimana ya mas? kalo ada kasi tau ya! thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: