Posted by: hagemman | October 3, 2009

POSISI ASIA PASIFIK KRUSIAL

keringMenangkal dampak pemanasan global di kawasan Asia Pasifik dinilai vital dan krusial. Banjir besar akhir pekan lalu di Filipina, yang menewaskan lebih dari 240 jiwa, menjadi sinyal dampak cuaca ekstrem yang kian intensif di Asia Pasifik.

“ Kejadian di Filipina adalah contoh tragis terkini di Asia Pasifik, “ kata Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) Yvo de Boer dalam Pertemuan Negosiasi untuk Perubahan Iklim Ke-9 di Bangkok, Thailand, seperti dikutip AFP, Selasa (29/9).

Sebanyak 1,500 delegasi dari 180 negara berkumpul dalam pertemuan yang dijadwalkan hingga 9 Oktober 2009.

Menurut Yvo, berbagai dampak cuaca ekstrem diperkirakan akan lebih intensif dari waktu ke waktu. Di tengah situasi darurat seperti sekarang, mengurangi risiko bencana dan meningkatkan daya lenting iklim menjadi sangat penting di kawasan Asia Pasifik.

“ Badai, banjir, dan kejadian cuaca ekstrem secara teratur menjadi berita-berita utama di sebagian dunia, “ kata dia.

Korban 80 persen

Data yang disampaikan Wakil Sekretaris Jendereal PBB Dr Noeleen Heyzer menunjukkan, 80 persen korban dampak cuaca ekstrem global tinggal di Asia Pasifik, terutama lebih dari tujuh tahun terakhir.

Heryzer, yang juga Ketua Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik, menyatakan, sebagian besar negara berkembang di Asia Pasifik menghadapi dua tantangan : mengatasi kemiskinan dan dampak perubahan iklim pada masa datang.

“ Kegagalan menangani salah satunya akan mengganggu penanganan yang lain, “ katanya. Pertemuan di Bangkok merupakan satu dari dua pertemuan terakhir (berikutnya di Barcelona) sebelum Pertemuan Para Pihak (COP) Ke-15 di Kopenhagen, Denmark, Desember 2009. Pertemuan itu diharapkan mencapai target baru untuk menangani perubahan iklim.

Dikatakan De Boer, salah satu “elemen kunci” menangani perubahan iklim adalah meningkatkan dukungan bagi negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik untuk meningkatkan upaya menghadapinya.

Naik 4 derajat celsius

Di tengah komitmen negara-negara maju yang dinilai melemah, pernyataan mengejutkan datang dari para ilmuwan Inggris. Suhu rata-rata global diperkirakan dapat naik 4 derajat celsius pada 2060.

Studi dari kantor meteorologi itu menggunakan proyeksi konsumsi bahan bakar fosil yang merefleksikan tren dalam 20 tahun. Temuan itu dipaparkan pada konperensi tentang dampak kenaikan 4 derajat celsius di Universitas Oxford.

“ Jika emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan, kita akan melihat dampaknya dalam hidup ini, “ kata Richard Betts dari Met Office Hadley Centre. Ia menyebutkan temuan studi tersebut sebagai “kejutan”.

Pemodelan komputer menemukan kejutan lain, yaitu suhu di Arktik akan naik 15 derajat celsius pada akhir abad ini. Suhu bagian selatan dan barat Afrika dapat meningkat hingga 10 derajat celsius, dengan sebagian lainnya 7 derajat celsius.

Sementara itu, kajian Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2007 menyebutkan, kenaikan suhu rata-rata global pada akhir abad ini berkisar 1,8 derajat celsius hingga 4 derajat celsius.

Rencananya, hasil studi tersebut akan dipaparkan dalam pertemuan negosiasi di Bangkok, Thailand. Temuan itu diharapkan dapat menjadi acuan para pengambil kebijakan.

Sumber  :

Posisi Asia Pasifik Krusial – Kompas, 30.09.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: