Posted by: hagemman | October 3, 2009

GEMPA BUMI : MALANG WASPADA

gempaMeski tidak terdampak langsung dengan gempa yang terjadi di Padang dan Jambi, Malang diminta tetap harus waspada terhadap terjadinya gempa bumi. Sebab, wilayah Malang termasuk jalur yang dilalui tumbukan lempeng tektonik di 200 kilometer selatan Jawa Timur.

Setidaknya sembilan pengamat kegempaan di Stasiun Geofisika Karangkates Malang bersiaga 24 jam untuk memantau aktifitas kegempaan di Malang dan sekitarnya.

“Secara langsung dampak gempa Padang dan Jambi memang tidak terasa langsung di Jawa Timur khususnya Malang. Namun masyarakat Malang tetap harus waspada jika gempa di dua daerah tersebut menimbulkan stres pada lempeng di daerah Malang sehingga akhirnya turut terjadi gempa,” tutur Kepala Stasiun Geofisika Karangkates Malang Adi Suprayitno, Kamis (1/10) di Malang.

Jawa Timur pada umumnya dan Malang khususnya, menurut Adi, masuk dalam jalur pertemuan lempeng Eurasia dengan lempeng Indoaustralia. Pertemuan lempeng itu berada di 200 kilometer arah selatan bibir pantai – termasuk pantai selatan Malang.

“Dengan dilaluinya pertemuan dua lempeng itu, di selatan Jatim termasuk Malang berpotensi banyak terjadi gempa bumi. Yang terekam di Stasiun Geofisika Karangkates ini dalam bulan September saja sudah terjadi 21 kali gempa. Jika dihitung sejak bulan Januari 2009, terekam sudah ada 196 kali gempa,” ujar Adi.

Dari gempa-gempa tersebut yang dapat dirasakan di Karangkates tercatat 10 kali gempa selama tahun 2009. Terakhir kali adalah gempa 6,4 skala Richter (SR) di Nusa Dua Bali pada 19 September lalu. Gempa itu dirasakan di Karangkates, Malang dengan intensitas 2 modified marccally intensity (MMI). Saat itu benda-benda di dalam rumah terlihat bergoyang-goyang.

Untuk September ini saja, menurut Adi, sudah terasa tiga kali gempa. Yaitu gempa Tasikmalaya pada 2 September lalu yang dirasakan di Malang sebesar 3 MMI, gempa 6,8 SR Yogyakarta pada 7 September lalu yang dirasakan 2 – 3 MMI di Karangkates, serta gempa Nusa Dua Bali tersebut di atas.

Berdasar catatan Stasiun Geofisika Karangkates, pada 19 pebruari 1967 Malang pernah mengalami gempa paling merusak di daerah Dampit dan Gindanglegi. Di Dampit, terdapat 1.539 bangunan rusak, 14 korban meninggal, dan 72 luka-luka. Ada pun di Gondanglegi, 119 bangunan roboh, 402 bangunan retak, 9 korban meninggal dunia, dan 49 korban luka-luka.

“Gempa bumi itu memiliki periodisasi ulang. Untuk itu, warga Malang diminta waspada dan mengetahui harus apa jika nantinya terjadi gempa,” tutur Adi.

Sumber  :

Malang Waspada Gempa Bumi – Kompas Jawa Timur, 02.10.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: