Posted by: hagemman | September 14, 2009

WAR UNDER THE PACIFIC : KIPRAH SAILFISH

chuyoPada tanggal 30 Nopember 1943, tak lama setelah Marinir AS mendarat di Tarawa, tiga kapal induk Jepang ; Zuiho, Unyo, dan Chuyo, keluar dari Truk, kembali ke Jepang. Di Pearl Harbor pengurai sandi menangkap berita keberangkatan itu dan Laksamana Lockwood memerintahkan agar kapal-kapal selam di kawasan perlintasan ketiga kapal induk ini agar bersiaga penuh.

Salah satu kapal selam yang menerima perintah itu adalah Sailfish, yang secara historis terkenal. Semula nama kapal selam ini adalah Squalus. Pada bulan Mei 1939 saat Squalus sedang berlatih di dekat Pulau Shoals di lepas pantai Hampton, New Hampshire, katup pipa induksi utamanya tak dapat menutup pada saat penyelaman. Akibatnya Squalus tenggelam dan tergeletak tak berdaya pada kedalaman 70 meter. Sebuah kapal selam lain yang sejenis, Sculpin, dapat melokasikan tempatnya di dasar laut, dan sebuah genta penyelaman yang dikenal dengan istilah Bilik Penyelaman McCann dikeluarkan serta dikempakan pada pintu tingkap dua ruang torpedo Squalus.

Tiga puluh tiga orang diselamatkan tetapi 23 orang lainnya tewas. Kini, empat tahun kemudian, Squalus – yang telah diapungkan kembali, diperbaharui serta diberi nama baru Sailfish – mendekam di laut di lepas pantai Jepang, menunggu kapal-kapal induk musuh yang kembali pulang.

Sore hari, tanggal 3 Desember ; kapten Robert Ward membawa Sailfish naik ke permukaan. Saat itu cuaca amat buruk. Sailfish berada di tengah topan musim dingin, dengan laut yang menggelombang setinggi gunung, angin bertiup kencang, dan penglihatan terbatas berkisar dari nol sampai 450 meter. Laut sangat galau sehingga Sailfish tak dapat melaju lebih cepat dari 12 knot di permukaan.

Meskipun demikian topan itu merupakan suatu keuntungan. Karena bagi musuh pun cuaca itu juga buruk seperti bagi sailfish. Komandan kapal induk Jepang mengijinkan kapal-kapal besarnya berhenti berkelok-kelok, tentunya karena mereka meragukan bahwa kapal selam dapat menyerang dalam keadaan badai sepeti itu.

karam 01Dua belas menit sebelum tengah malam, Sailfish memperoleh kontak radar yang penting sejauh 8,5 kilometer. Karena yakin bahwa kapalnya tidak dapat dilihat dalam laut yang sedemikian ganas, Ward mendekati melalui permukaan sampai jarak 1,9 kilometer, dan 12 menit lewat tengah malam ia menembakkan empat torpedo dari tabung depan. Ketika ia menelengkan kepalanya ke kiri untuk mengarahkan tabung buritannya ke sasaran, ia mendengar torpedo pertama dan keempat mengnai sasaran. Lalu ia menyelam ke perairan yang tenang untuk mengisi torpedo kembali. Dua bom laut meledak di dekatnya, disusul 19 bom laut lainnya di tempat yang lebih jauh.’

Kira-kira pukul 2 pagi Sailfish muncul lagi dalam kegelapan malam. Radarskop menunjukkan titik-titik sinar di beberapa arah ; sebuah titik sinar yang besar, rupanya dari kapal tak dikenal yang dirusakkan oleh Ward, berkeliling perlahan, seakan-akan terluka.

Pada pukul 5.50 pagi Ward mencatat dalam log-nya : “ Fajar merekah dan penglihatan dengan cepat membaik ; hujan sudah berhenti tetapi di anjungan masih banyak air ; melacak sasaran dengan kecepatan berkisar dari satu sampai tiga knot, jarak tiga kilometer. Karena penglihatan membaik dengan begitu cepat, maka harus segera menembak”.

Dua menit kemudian ia menembak dari tiga tabung depan dari jarak 2,9 kilometer, suatu tembakan yang cukup jauh. Tetapi, ia mendengar dan melihat dua torpedo mengenai sasaran, meskipun di laut yang mengganas itu ia masih belum dapat mengidentifikasikan jenis kapal sasarannya.

Kapal Jepang mulai menembaki dengan selusin meriam, dan Sailfish menyelam lagi. Pada pukul 7.48 pagi ia muncul lagi dan kini, untuk pertama kalinya, Ward dapat melihat mangsanya. “ Akhirnya melihat sesuatu, “ tulis Ward dalam log-nya, “ Kapal induk pengangkut pesawat terbang, sejauh kira-kira sembilan kilometer. Tak berkutik. Tidak ada barang lain yang terlihat. “

Beberapa menit kemudian Ward menulis, “ Saya melewati kapal induk pada sisi kiri, sejauh 1,3 kilometer. Banyak pesawat terbang di geladak depan dan banyak orang di geladak belakang, cukup untuk menghuni sebuah desa yang agak besar “.

Pada pukul 9.40 pagi, sesudah dengan hati-hati menempatkan posisi yang terbaik, Ward menembakkan tiga torpedo lagi dari jarak 1,5 kilometer dan mendengar dua torpedonya mengenai sasaran. “ Meski periskop sudah saya naikkan dan saya sudah merasa gembira bahwa akan melihat sasaran tertembak, tetapi kendali kedalaman amat jelek sehingga kami baru mencapai kedalaman 18 meter ketika torpedo-torpedo mengenai sasaran dan satu-satunya yang saya lihat ketika periskop menyembul adalah langit penuh peluru bercahaya yang ditembakkan dari arah kapal induk “.

Ward memanuver Sailfish dengan maksud untuk menamatkan kapal induk itu. Tetapi torpedo tak perlu lagi. Peralatan bunyi kapal selam menggemakan suara-suara gemeretak, pecah, dan meledaknya sebuah kapal yang berantakan. Chuyo, berbobot 20.000 ton, sedang tenggelam ke dasar laut. Dialah kapal induk pengangkut pesawat terbang Jepang pertama yang dikaramkan kapal selam Amerika.

Kemenangan Sailfish mempunyai ekor pahit. Lama sesudah itu, awak Sailfish mengetahui Chuyo tenggelam dengan membawa 20 orang Amerika di dalamnya. Mereka ditawan dua minggu sebelumnya ketika sebuah kapal selam Amerika ditenggelamkan oleh sebuah kapal perusak Jepang di Kepulauan Gilbert. Kapal selam itu ialah Sculpin – kapal selam yang pada tahun 1939 telah menyelamatkan Squalus yang kini bernama Sailfish.

Sumber  :

War Under the Pacific – Time Life Books | Keith Wheeler


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: