Posted by: hagemman | September 14, 2009

WAR UNDER THE PACIFIC : HIDUP DALAM KAPAL SELAM

lboats2Selama Perang Dunia II, hidup di kapal selam jauh lebih berbahaya dari pada di kapal perang permukaan. Oleh sebab itu kebijakan Angkatan Laut Amerika Serikat dan Jepang hanya menerima awak kapal selam secara sukarela. Kesukarelaan dianggap unsur penting yang berarti kesadaran betapa berbahayanya bertugas di kapal selam.

Sebaliknya ada hal-hal menarik yang ditawarkan jika mereka mau bergabung yaitu gaji lebih tinggi, misal di AS bisa mencapai 50% lebih ketimbang gaji awak di kapal perang permukaan, jenjang promosi yang lebih cepat untuk menjadi komandan kapal selam. Karena jumlah awak relatif sedikit yang rata-rata berjumlah 77 orang sedangkan di kapal perang permukaan untuk kapal perusak ratusan orang, kapal induk dan kapal tempur berjumlah ribuan orang. Itulah mengapa timbul anggapan bahwa awak kapal selam adalah corps d’elite.  Dan di kapal selam, pola hubungan antara perwira dan awak lebih erat.

Disamping berbahaya, hidup di kapal selam adalah tidak enak. Jika pangkalannya dekat, maka sebuah kapal selam berpatroli paling sedikit tujuh minggu, kemudian kembali ke pangkalan untuk jeda selama dua minggu ; yang artinya para awak akan hidup sebagai manusia normal. Sebab hidup di kapal selam adalah serba keterbalikan.

Pada waktu tugas tempur, kapal selam saat siang hari biasanya berlayar di bawah air, dengan tenaga baterai. Baru pada waktu malam gelap bisa berlayar di atas permukaan laut dengan tenaga diesel, sambil berbarengan mengisi baterai.

Akibatnya memasak makanan tidak dilakukan di siang hari, karena akan mencemari udara di dalam kapal. Maka tukang masak memilih waktu malam. Makan ‘pagi’ akan dihidangkan pukul 5 sore, makan ‘tengah hari’ pukul 12 malam, dan makan ‘malam’ pukul 6 pagi. Artinya, siang dijadikan malam, dan malam dijadikan siang.

Dan semua makanan untuk hampir 100 orang itu dimasak di dapur yang sempit. Di samping itu, tukang masak pun harus membuat roti tiap malam. Makanan segar cuma tahan beberapa hari, selebihnya akan bertumpu pada makanan kaleng. Jadi tidaklah heran jika juru masak memainkan peran yang begitu penting saat bertugas. Kejenuhan semua orang diharapkan dapat sedikit berkurang dengan variatif dan lezatnya menu yang dihidangkan sang juru masak.

Kalau pangkalan jauh letaknya, awak kapal harus hidup berbulan-bulan lamanya. Akibatnya akan mduah sakit dan kena infeksi. Hampir semua awak kapal selam kerap sakit kepala, masuk angin dan buang air tidak tentu, dan di daerah tropis akan terkena penyakit kulit. Karena lama tidak merasakan sinar matahari langsung, maka penggunaan sun lamp (lampu sorot pengganti sinar matahari) secara bergiliran menjadi suatu kebutuhan.

Hanya saat malam hari, udara segar bisa masuk ke dalam kapal selam. Itu pun dengan catatan jika tidak ada badai dan ancaman musuh. Pendeknya menjadi awak kapal selam memang merupakan sebuah tantangan tersendiri pada saat berkecamuknya PD II.

Sumber  :

Perang Pasifik – P.K. Ojong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: