Posted by: hagemman | September 10, 2009

GITARIS BRIAN JONES MUNGKIN DIBUNUH

brian_jones_closeup_largeKepolisian Sussex akhir Agustus lalu membuka kembali kasus kematian gitaris Rolling Stones, Brian Jones, 40 tahun setelah jenazahnya ditemukan di dasar kolam renang di rumahnya di Hartfield, East Sussex. Saat meninggal 2 Juli 1969 dlam usia 27 tahun, Jones yang salah satu pendiri Stones itu dianggap mati konyol dalam keadaan mabuk.

Namun, Kepolisian Sussex membuka kembali kasus itu setelah harian The Mail mengungkapkan ditemukannya bukti baru Jones mungkin dibunuh Frank Thorogood. Ketika jenazahnya diotopsi, polisi memang tidak menemukan narkoba, hanya alkohol. Kini polisi memeriksa kembali sekitar 600 dokumen yang diserahkan wartawan The Mail, Scott Jones, yang selama empat tahun menyelidiki kematian Jones.

Scott Jones, yang tak ada hubungan darah dengan Brian Jones, mengandalkan hasil temuannya dari wawancara dengan Janet Lawson, perawat yang menemukan jenazah. Lawson mengaku melihat Thorogood, orang yang mengurus rumah Jones, masuk ke kolam renang dan “melakukan sesuatu” terhadap Jones. Lawson yakin Thorogood yang tutup usia tahun 1994, saat itu membunuh Jones.

Kesaksian Lawson didukung laporan polisi pertama yang tiba di rumah Jones, Albert Evans. Ia menulis berbicara dengan semua saksi beberapa jam setelah kematian Jones dan menyimpulkan Jones tewas menyusul terjadinya perkelahian lawan Thorogood. Bukti lain diungkapkan laporan polisi lainnya, Bob Marshall, yang menulis adanya tiga saksi yang dbiarkan pergi meninggalkan TKP tanpa ditanyai polisi.

Sekitar tengah malam Jones berenang karena merasa kepanasan. Sebelum itu ia minum alkohol bersama pacarnya, Anna Wohlin, Lawson dan Thorogood. Lawson sudah memperingatkan Jones dan Thorogood agar tidak berenang karena mereka sudah mabuk, tetapi peringatan itu tidak diindahkan. Orang pertama yang melihat Jones tenggelam di dasar kolam adalah Mary Haddock, seorang pembantu. Wohlin segera masuk ke kolam, memberikan bantuan pernapasan, tetapi terlambat.

Sejumlah teori sempat berkembang tentang kematian Jones dan salah satunya adalah karena ia mengalami serangan asmatik dan juga memiliki riwayat sebagai penenggak narkoba. Ia sempat masuk ke klinik di London dan dinyatakan menderita penyakit paranoid dan perlu mendapat perawatan psikologis. Jones berkepribadian ganda : di satu pihak kasar, tetapi juga berkarisma. Jika berbicara, ia lembut dan pemalu. Namun, ia juga dipuja-puja banyak perempuan dan sering punya beberapa pacar sekaligus.

Jones dengan mudah melahap semua pelajaran mulai SD sampai SMU dengan nilai-nilai istimewa sehingga akan dengan gampang masuk ke universitas mana pun. Tetapi, ia tidak tertarik, lebih suka kerja serampangan melawan kemauan orang tuanya. Dalam usia 14 tahun, Jones menghamili seorang perempuan dan di saat yang sama memacari isteri orang lain. Saat berusia 17 tahun ia tidak betah lagi tinggal di rumahnya dan memulai karier sebagai pemain klarinet ban Cheltone Six.

Jones saat itu sudah jadi multiinstrumentalis andal dengan keahlian memainkan saksofon, gotar, dan piano. Setelah sempat sebentar bergabung dengan The Ramrods, Jones berkenalan dan bersahabat dengan Alexis Korner yang memimpin Blues Incorporated. Korner mengundang Jones ke London dan tahun 1962 memulai upaya membentuk band sendiri. Orang pertama yang direkrutnya adalah Charlie Watts yang saitar), yang saat itu jadi pemain drum Blues Incorporated.

Ambisi jadi vokalis

Ia lalu memasang iklan pendek mencari pemusik lainnya di harian Jazz News dan menamakan bandnya Rolling Stones, dari judul lagu pemusik blues asal Amerika Serikat, Muddy Waters. Daya tarik Jones sebagai pemusik jagoan, juga wajah ganteng serta aksi panggung yang atraktif, mudah menarik minat Mick Jagger (vokal), Keith Richards (gitar), serta Bill Wyman (bas) untuk bergabung. Pada awalnya, jagger dan Richards mengidolakan Jones, tetapi lama kelamaan mereka merasa lebih hebat.

rolling_stones_with_brian_jones
Jones selalu mengatakan dia yang memimpin Stones dan menerima bayaran lebih besar.

“ Kami selalu beranggapan dia orang yang menyandang beban emosional dan psikologis yang terlalu berat, yang membuat penderitaannya tidak berhenti, “ kata Wyman. “ sejak awal, dia sudah menderita paranoia, “ ungkap pacar Jones, Kathy Etchingham. “ Kondisi psikologisnya terus memburuk hari demi hari. Ia lebih sering mabuk dan makin sering memakai narkoba. Dia masih muda, tetapi terlalu banyak masalah, “ tambah Watts.

Menurut Watts, salah satu beban terberat ambisi Jones adalah menjadi vokalis. “ Padahal, dia bukan vokalis andal. Napasnya pendek karena ia penderita asma. Dan ia selalu ingin jadi pemimpin, sekalipun tak mampu memimpin, “ kata Watts. “Brian terlalu berambisi menjadi pemimpin kami. Dia cemburu pada kami semua, itu sifat buruk dia. Dalam sebuah band, vokalis selalu jadi pusat perhatian. Dan Brian tidak suka kondisi ini karena merasa layak dapat perhatian lebih besar, “ kata Jagger.

Jones diberikan peluang mengatur semua masalah yang berkaitan dengan aktifitas rekaman dan konser Stones. Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, Stones jadi pesaing berat The Beatles. Peranan bisnis Jones berkurang ketika Stones sebagai entitas bisnis mulai bersikap profesional dengan menunjuk Andrew Loog Oldham jadi manajer tahun 1963. “ Brian mengatakan dia bos Stones. Dia berperan selama menjalankan tugasnya. Tetapi, begitu dia malas main gitar pengiring, semuanya selesai, “ kata Oldham.

Sepanjang tahun 1964 dan 1965, penggemat mulai mengalihkan perhatian pada Jagger. Ini wajar karena aksi panggung Jagger sebagai vokalis jauh lebih seksi dibandingkan Jones. Tetapi, Jones justru menerimanya dengan sikap negatif tanpa alasan jelas. Ketika itu, dua kali Jones coba bunuh diri karena merasa tidak ada harga diri lagi. “ Ia terlalu perasa menanggapi apa pun. Ia tak siap dengan semua ingar-bingar bisnis musik, mungkin sudah puas dengan band kecil yang tampil sekali seminggu saja, “ kata Jagger.

Dalam periode 1965-1967, peranan musikal Jones jauh menurun. Padahal, ketika itu Stones menghasilkan hit seperti “The Last Time”, “Satisfaction”, “Get Off of My Cloud”, “19th Nervous Breakdown”, “Paint It Black”, dan “Let’s Spend the Night Together”. Dua album terbaik Stones, Aftermath dan Between the Buttons, juga diproduksi dalam periode ini. Tahun 1965 Jones berpacaran dengan Anita Pallenberg, tetapi beberpa bulan kemudian Pallenberg berpaling ke Richards. Jones patah hati kehilangan Pallenberg dan makin terjebak narkoba.

Pada Oktober 1967, psikiater yang merawatnya menyebut Jones ‘sangat berpotensi bunuh diri”. Di studio rekaman, Jones tidak lagi memberikan kontribusi yang memadai. Setahun kemudian, Jones praktis selalu absen di studio. “ Dia tak pernah muncul. Dan, Anda tahu apa yang terjadi jika ada yang absen, Anda tiba-tiba dianggap tidak penting lagi. Wajar kalau kami lalu berpikir mencari pengganti dia, “ kata Watts.

Tiba-tiba, sebuah kebetulan datang bagi Stones. Pada awal 1969, Stones berencana tur ke AS. Namun, rencana bisa batal jika Jones ikut karena ia tak mungkin dapat visa akibat bolak-balik dijatuhi vonis pengadilan narkoba. “ Dia tahu mau dipecat. Keputusan ini berat, tetapi Brian sudah tidak ada manfaatnya. Dia terlalu sakit untuk bermain, sungguh menyedihkan, “ kata Jagger. “ Saya yakin dia lebih memilih mati ketika kami memecat dia, “ kata Watts.

Jones langsung sibuk membuat band baru bersama Korner, Mitch Mitchell, John Mayall, dan Stevie Winwood. Dan, Stones mendapatkan pengganti Jones, Mick Taylor, dan giat berlatih untuk konser gratis di Hyde Park, 5 Juli 1969.

Sumber  :

Gitaris Brian Jones Mungkin Dibunuh – Budiarto Shambazy
Kompas, 09.09.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: