Posted by: hagemman | September 7, 2009

DI BALIK ANOMALI HARGA GULA

sugarcaneTerasa janggal dan penuh kontradiksi ketika berlangsung panen raya tebu atau giling pabrik gula, harga gula melambung tinggi, apalagi untuk Jatim yang notabene merupakan sentra produksi gula terpenting. Dengan keberadaan 31 unit PG, pada tahun 2009 ini Jatim diperkirakan mampu memasok 1,3 juta ton daro 2,7 juta ton produksi gula secara nasional. Dengan kebutuhan hanya sekitar 480.000 – 550.000 ton, terjadi surplus yang selama ini dialirkan di propinsi lain yang bukan merupakan produsen.

Anomali harga terjadi sejak harga gula diserahkan kepada mekanisme pasar. Pengertiannya, saat jumlah barang ditawarkan di pasar jauh lebih banyak dibanding permintaan, harga pasti terjungkal. Sebaliknya, begitu jumlah barang ditawarkan lebih sedikit ketimbang permintaan, meroketnya harga tak dapat dihindari.

Hukum ekonomi tadi juga berlaku mutlak untuk gula, khususnya sejak ekonomi Indonesia terintegrasi ke dalam kapitalisme global. Guncangan sekecil apa pun pada lingkungan strategik, dipastikan berdampak signifikan terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Fluktuasi harga komoditas di bursa berjangka internasional, suka atau tidak, pasti berpengaruh terbentuknya harga pada tingkat pertani di pedesaan Jatim.

Akibat kemarau panjang yang mendera, produksi gula India merosot drastis hingga berkurang sekitar 10,0 jutaton. Kalau biasanya negara anak benua ini mengekspor sekitar 3,0 juta ton, tahun ini terpaksa mengimpor gula dari pasar global. Stok gula dunia terguncang, apalagi ditambah dengan kembali menguatnya harga minyak bumi yang memaksa Brasil mengurangi produksi gula dan mengalihkannya sebagian untuk bioetanol. Maka untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir, harga gula dunia mencapai diatas harga 550 dollar AS per ton FOB (Harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium).

Keberadaan Indonesia sebagai produsen sekaligus importer gula menjadikan harga gula dunia menimbulkan dampak serius terhadap terbentuknya harga di pasar domestik. Sejaih ini, Indonesia baru bisa berswasembada gula konsumsi, sementara gula untuk bahan baku industri masih harus diimpor atau dibeli dari produsen lokal tetapi bahan baku raw sugar masih diimpor pula. Begitu harga dunia tidak lagi kompromi, impor tidak berjalan normal.

anomali hrg gulaJalan keluarnya yang dapat ditempuh bagi industri makanan/minuman untuk keluar dari perangkap situasi demikian adalah melakukan substitusi bahan baku dari gula rafinasi ke gula lokal. Rebutan gula lokal antara untuk konsumsi dan bahan baku industri menjadikan harga tak dapat dikendalikan. Imbauan pemerintah kepada BUMN agar harga gula pada level tender tidak lebih dari Rp 6.500 per kg berujuan supaya harga pada tingkat konsumen Rp 7.000 – Rp 7.500 pun bergeming.

Secara teoritik, harga tidak dapat didikte pemerintah. Namun, bukan berarti pemerintah tidak dapat melakukan intervensi. Intervensi pun boleh saja dilakukan untuk menyehatkan pasar. Namun untuk keperluan tersebut pemerintah harus menguasai stok. Cara efektif yang dapat ditempuh adalah membeli gula dari produsen dengan harga sesuai mekanisme pasar dan melepasnya ke konsumen dengan harga yang dikehendaki,

Cara semacam ini juga lazim ditempuh banyak negara industri maju penganut dan penganjur mazhab kapitalisme. Namun, apakah pemerintaj punya dana dan geregt melakukan intervensi. Naiknya harga gula di luar batas kewajaran memang berkah bagi petani dan diharapkan menimbulkan rasa percaya diri untuk terus meningkatkan daya saing komoditas usaha taninya. Kelihan muncul karena bangsa ini terbiasa tidak menghargai petani.

Harga komoditas agribisnis ditekan serendah mungkin meski untuk menjaga gawang ketahanan pangan sangat diperlukan insentif bagi pengelola usaha tani. Faktor lainnya, Indonesia terlanjur masuk perangkap impor. Investasi pabrik gula rafinasi secara besar-besaran tanpa upaya membangun kebun tebu adalah salah satu ealpaan tersebsar yang memberikan kontribusi terhadap melambungnya harga gula. Seruan petani tebu dan PG agar pemerintah segera mewajibkan semua industri gula rafinasi baik yang sudah eksis maupun yang berniat mengembangkan kapasitas dan investasi baru tidak juga digubris.

Lemahnya sinkronisasi antara industri gula rafinasi dan penggunanya sebagaimana tercermin dari masih berlanjutnya impor gula rafinasi sekali lagi memperkuat lemahnya integrasi dalam formulasi dan implementasi kebijakan pergulaan nasional. Baru sekarang setelah harga gula melambung dan menimbulkan anomali, semuanya terasa. Akankah kebijakan pergulaan dibiarkan setelah kasus ini ? Semuanya tergantung pada komitmen negara apakah mau didikte fluktuasi harga dunia yang tidak pernah jelas atau berpihak kepada petani dengan menata ulang semua kebijakan kontraproduktif terhadao pemberdayaannya ?

Sumber  :

Di Balik Anomali Harga Gula, Adig Suwandi | Praktisi Agribisnis, Alumnus Universitas Brawijaya Malang
Kompas Jawa Timur, 01.09.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: