Posted by: hagemman | August 27, 2009

PERANGKAP IMPOR PANGAN

pics articles 2Fantastis ! Kesan itu segera tersirat begitu melihat statistik nilai impor tangan kita. Setiap tahun kita harus menguras Rp 50 triliun untuk impor.

Angka ini melampaui total anggaran sektor pertanian yang tahun ini hanya Rp 40 triliun. Andai saja anggaran sebesar itu dialokasikan untuk investasi di bidang pertanian, sistem budidaya produksi, serta memperbaiki nasib petani, mungkin kondisi itu tak akan terjadi.

Tren impor yang terus meningkat sehingga memunculkan potensi rawan pangan sudah lama jadi keprihatinan kita. Sekarang ini, menurut Departemen Pertanian, ada tujuh komoditas pangan pokok yang harus diimpor, tak termasuk komoditas seperti garam, hortikultura, dan pangan olahan.

Untuk kedelai, porsi impor sekitar 70 persen, dan gandum hampir seluruhnya impor. Defisit neraca pangan pokok ini menunjukan pertumbuhan permintaan tak mampu mengimbangi pertumbuhan penyediaan.

Angka-angka ini menyadarkan kita bahwa pekerjaan rumah di sektor pertanian dan ketahanan pangan masih jauh dari selesai. Tingginya ketergantungan pada impor dan rapihnya ketahanan pangan tak bisa dilepaskan dari kurangnya perhatian pada pembangunan sektor pertanian. Minimnya alokasi anggaran hanya satu indikator.

Ada pekerjaan rumah yang tak dikerjakan sehingga produksi domestik stagnan dan dalam kasus seperti garam atau komoditas lain, petani tak pernah keluar dari perangkap mutu produksi yang rendah. Jika persoalannya kualitas, justru di situlah peran pemerintah, lembaga akademis, dan lembaga lain untuk memberikan pendampingan kepada petani.

Selama ini kita cenderung memilih langkah gampang dengan mengimpor, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Ketergantungan pada impor ini hendaknya menyadarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dan terninabobokan oleh apa yang sudah kita capai.

Untuk beras, kita bersyukur tahun lalu kita swasembada, bahkan ekspor dalam jumlah kecil. Tetapi sampai kapan ? Fokus pada kananan pokok beras jendaknya juga jangan membuat kita lantas alpa membangun komoditas pangan penting lain yang saat ini masih kita impor.

Untuk subsektor perikanan dan perkebunan, kita masih surplus. Namun, jika tidak hati-hati, bukan tak mungkin kasus gula dan beberapa komoditas lain (di mana kita pernah swasembada) terulang. Indikasi ikan kita dicuri dari laut kemudian diformalin di negara lain dan diekspor kembali ke Indonesia harus jadi peringatan.

Di sini pentingnya komitmen kebijakan yang kuat karena, kalau tidak, kita hanya akan terseret politik perdagangan pangan global.

Banyak contoh negara yang semula mampu mandiri secara pangan kemudian jadi tergantung pada impor. Ini sangat berbahaya karena menyangkut fondasi kelangsungan bangsa jangka  panjang, khususnya untuk negara berpenduduk besar seperti kita.

Sumber :

Tajuk Rencana : Perangkap Impor Pangan | Kompas, 25.08.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: