Posted by: hagemman | August 27, 2009

PENYUSUTAN LAHAN ISU UTAMA KETAHANAN PANGAN

pics articles 2Laju penyusutan lahan pertanian di Indonesia kian cepat. Penyebabnya adalah fragmentasi lahan atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian sebagai dampak sistem bagi waris dan alih fungsi lahan. Ini tercermin dari peningkatan jumlah rumah tangga petani kecil alias gurem, dengan kepemilikan lahan rata-rata 0,34 hektar.

Mengacu sensus Pertanian 1993 dan 2003 (terbaru), pertambahan jumlah rumah tangga petani kecil (RTPK) dalam periode itu sebesar 26,8 persen, yaitu dari 10,8 juta menjadi 13,7 juta RTPK.

Dengan menghitung laju pertumbuhan yang sama, pada tahun 2013 nanti akan ada penambahan 3,7 juta sehingga total petani gurem menjadi 17,4 juta. Jumlah ini setara 17,8 persen dari total penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian (97,7 juta jiwa).

Apabila dalam satu rumah yangga petani terdapat sedikitnya empat anggota keluarga, pada 2013 nanti akan ada 69,9 juta orang yang hidupnya bergantung pada lahan yang hanya seluas 0,34 hektar (ha) itu.

Lahan pertanian yang ‘ekstra sempit’ ini tentu tidak akan menyejahterakan petani. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia yang juga guru besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, melihat rumitnya persoalan kepemilikan lahan pertanian, penyediaan pangan akan menjadi masalah berat di masa datang.

peyusutan lahan isu utama 07a

Apalagi, jelas Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian Hilman Manan, peran lahan pertanian sebagai basis produksi pangan tidak tergantikan.

Dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, lahan merupakan sumber daya pokok dalam usaha tani karena usaha yang dikembangkan bersifat land base agricultural.

Sempitnya lahan pertanian ini dihadapkan pada peningkatan kebutuhan papan. Badan Ketahanan Pangan Deptan memperkirakan jumlah penduduk Indonesia tahun 2030 sebanyak 286 juta orang.

Penduduk sebanyak itu mengonsumsi beras 39,8 juta ton. Dengan kata lain, dalam waktu 21 tahun lagi, Indonesia memerlukan tambahan produksi beras sekitar 5 juta ton atau perlu tambahan lahan padi 3,63 juta ha.

Pertanyaanya, dari mana tambahan lahan sebanyak itu ? memang bisa saja melakukan perluasan lahan pertanian tetapi itu sulit. Terbukti pada 2007 Deptan hanya mampu mencetak sawah 18.446 ha dan lahan kering 1.554 ha.

Bandingkan dengan laju konversi lahan pertanian per tahun yang 110.000 ha. Luas lahan padi sekarang sekitar 12,5 juta ha.

Melihat penyusutan lahan itu, Sugiono Moeljopawiro, pemulia dan peneliti senior Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, mengatakan, perlu ada solusi untuk mengatasi masalah pangan ke depan.

Caranya, mulai fokus dalam melakukan riset untuk pengembangan tanaman pangan hasil rekayasa genetik (genetic modified organism / GMO).

Kepala Badan Ketahanan Pangan Deptan Achmad Suryana baru-baru ini di Lembang, Bandung, juga melihat potensi besar tanaman pangan GMO sebagai solusi pangan masa depan.

Debat soal perlu tidaknya tanaman GMO sudah tidak relevan lagi. Yang harus dipikirkan, bagaimana Indonesia memiliki kemampuan memproduksi benih padi, jagung, kedelai, dan jenis tanaman pertanian GMO lain secara mandiri tanpa ketergantungan.

Peningkatan produksi

Edwin S Saragih, kandidat doktor pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor yang saat ini bekerja di Monsanto, menyebutkan, potensi besar yang bisa disumbangkan tanaman transgenik atau GMO adalah peningkatan produktifitas per hektar dan efisiensi biaya produksi.

penyusutan lahan isu utama 07b

Tanaman transgenik mampu mengatasi cekaman biotik dalam bentuk gulma, hama, dan penyakit.

Sebagai catatan, tingkat kehilangan hasil akibat cekaman biotik bisa mencapai lebih dari 20 persen dari total produksi.

Adapun profesor peneliti pada Insitut of Plant Breeding Universitas Filipina, Evelyn Mae Tecson-Mendoza, menjelaskan, produk tanaman GMO bisa disesuaikan dengan kebutuhan atau keinginan konsumen.

Ini memungjinkan dihasilkan karena pada prinsipnya, pada tanaman GMO, gen pembawa sifat unggul atau yang diinginkan tanaman atau organisme lain diambil untuk disilangkan dengan gen lain yang juga unggul dan sesuai keinginan.

Meski secara ekonomi menguntungkan, adopsi tanaman GMO masih banyak mendapat tantangan. Misalnya, isu produk tanaman GMO yang dikonsumsi tidak aman bagi kesehatan.

Menurut Ketua Badan Benih Nasional Sutarto Alimoeso, ada kekhawatiran terjadi lompatan gen yang dimasukkan ke varietas yang dikehendaki.

Lompatan gen ini dimungkinkan berdampak pada kesehatan manusia apabila produk transgenik itu dikonsumsi. Namun, teknologi terus berkembang.

Tidak mustahil ke depan akan ditemukan produk transgenik yang benar-benar aman bagi kesehatan. Karena dalam jangka panjang untuk mengatasi peningkatan kebutuhan pangan, kehadiran produk transgenik tak bisa dihindari.

Tejo Pramono, staf Federasi Serikat Petani Indonesia yang juga pelaksana La Via Campesina, sebuah organisasi petani kecil internasional, mengatakan bibit tanaman GMO menciptakan ketergantungan.

Sebagian besar bibit dan produk GMO diproduksi, didistribusikan, dan dikuasai oleh perusahaan transnasional agrobisnis. Ketika petani hendak memakai bibit, harus membayar.

Jadi, diperlukan biaya yang besar. Celakanya, bibit itu tidak bisa ditanam lagi dan harus dibeli. Di Eropa, hingga saat ini baik peredaran bibit maupun tanaman transgenik masih dilarang.

Ada kekhawatiran terjadi efek samping dari pemakaian benih dan konsumsi pangan transgenik pada manusia.

Memang dalam kajian dunia pemakaian transgenik tidak ada resistensi terhadap tubuh manusia. Namun, itu dalam rentang waktu singkat. “ Kita tidak bisa memprediksi dalam waktu 20 tahun, “ katanya.

Kalau kita lihat kenyataan negeri seperti Indonesia, luas lahan pertanian masih banyak dan potensial untuk pengembangan produksi pangan.

Mengapa itu tidak dimanfaatkan dan didistribusikan kepada petani dengan pola hak pakai ? Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan, Indonesia harus mempertimbangkan betul apakah penggunaan benih atau bibir GMO nantinya tidak akan menimbulkan ketergantungan yang tinggi pada persuahaan raksasa multinasional.

Sumber  :

Penyusutan Lahan Isu Utama Ketahanan Pangan, Hermas E Prabowo | Kompas, 04.10.2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: