Posted by: hagemman | August 20, 2009

DARI GENERASI BUNGA KE SEMAU GUE

artikelFestival musik Woodstock yang berlangsung persis 40 tahun lalu, tanggal 15 – 18 Agustus 1969, dianggap sebagai tonggak sejarah kontrakultur yang mengakhiri dekade 1960. Inilah dekade keemasan kaum hippie atau generasi bunga. Mereka memanfaatkan musik pop dan rock serta segala embel-embelnya sebagai referensi gaya hidup yang serba bebas, komunalistis, memberontak dan berpolitik.

Woodstock dibidani empat promotor, yakni Michael Lang, Joel Rosenman, John Roberts, dan Artie Kornfeld. Mereka memilih Bethel, New York, sebagai tempat konser yang disaksikan lebih dari 400.000 penonton. Woodstock bukan festival raksasa pertama di AS. Sebelum itu ada Monterey Pop di California yang disaksikan sekitar 200.000 penonton dan menghadirkan bintang-bintang seperti Jimi Hendrix dan Otis Redding.

Setahun kemudian diadakan Miami Pop Festival, yang juga dipromotori Lang. Dan, beberapa pekan sebelum Woodstock, berlangsung Atlanta International Pop yang antara lain menghadirkan Led Zeppelin, CCR (Credence Clearwater Revival), dan Janis Joplin. Lalu, apa yang membuat Woodstock istimewa ? Jawabannya ada pada alinea pembuka artikel ini : pada saat post factum, atau setelah kejadian, Woodstock terbukti menjadi penanda akhir era generasi bunga.

Dekade 1960 menjadi amat bersejarah karena dunia Barat digunjang-ganjing perubahan. Ia bermula dari ‘Beatlemania’ di awal 1960-an yang anti kemapanan. John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr memelopori pula ‘The British Invasion.’  Ratusan musisi dan band Inggeris setiap tahun melakukan ritual tur ke AS, yang dianggap sebagai prestasi pamungkas. Pertukaran gagasan dan pengaruh musik, gaya hidup, serta pandangan politik trans-Atlantik inilah yang memicu kelahiran generasi bunga.

Generasi bunga AS mulai melancarkan protes sosial sejak invasi ke Indocina yang dimulai oleh Presiden John F Kennedy sampai Richard M Nixon. Mereka menggugat pula transparansi dan akuntabilitas institusi-institusi pemerintah, terutama di bidang pertahanan dan keamanan, sejak kegagalan di Teluk Babi, Kuba, dan pembunuhan Presiden Kennedy serta Martin Luther King. Perang Dingin dan lomba senjata melawan Uni Soviet dianggap sebagai bisnis yang hanya menguntungkan industri militer.

Kritik generasi bunga terhadap kekuasaan memuncak ketika sejumlah kampus bergolak sehingga diserbu aparat keamanan yang represif tahun 1967 – 68. Padahal, protes mereka berlangsung damai. Belasan mahasiswa tewas. Sekitar tahun itulah musik The Beatles mulai berubah dari pop menuju ke psikedelik lewat album Sgt Pepper’s Lonely Heart Club Band. Musik blues kulit hitam semakin populer dan musik protes tradisional dinaikan harkatnya oleh Bob Dylan.

Jika artis-artis Inggeris melancarkan ‘The British Invasion’ ke AS, maka AS mengekspor unjuk rasa antiperang Vietnam ke London, Amsterdam, dan Paris. Protes damai generasi bunga terhadap kekuasaan di Eropa Barat terekam dengan sangat pas melalui lagu The Beatles, ‘Revolution’, hit Rolling Stones, ‘Street Fighting Man,’ dan karya John Lennon, ‘Give Peace a Chance.’  Maka cinta, perdamaian, dan rock’n roll menjadi ideologi cair yang diusung generasi bunga.

Ideologi itulah yang terangkum lewat Woodstock. Pengorganisasiannya serba mendadalk dan berantakan walaupun dikerjakan secara fanatis. Media masa agak masa bodoh karena menganggap Woodstock perta narkotika yang sia-sia. Harian bergengsi The New York Times nyaris tidak meliputnya. “ Kami yak menyukainya, tetapi okelah. Jika melihat begini caranya musick rock disajikan, ia merupakan turun derajat kebudayaan, “ tulis editorial Wall Street Journal.

Terbaik dan terburuk

Sebagai festival musi, Woodstock tak dapat disebut sukses. Sejumlah artis top menolak hadir, mulai dari Dylan, Lennon, Led Zeppelin, Jeff Beck, dan The Doors. Pengaruh narkoba membuat sejumlah musisi tampil tidak makksimal, seperti Carlos Santana yang mengonsumsi narkoba sejenis mescaline yetlalu banyak dan The Who yang menenggak alkohol dicampur LSD. Hendrix pun tampil biasa saja bukan karena narkoba, tetapi karena kurang latihan.

Ada 33 artis yang manggung, di antaranya Tim Hardin, Arlo Guthrie, Sweetwater, Incredible String Band, Ravi Shankar, Bert Sommer, Melanie Safka, Jefferson Airplane, Janis Joplin, CCR, Grateful Dead, Canned Heat, Mountain, The Band, Joe Cocker, BST (Blood, Sweat & Tears), CSN (Crosby, Stills & Nash), TYA (Ten Years After), Sly & The Family Stone, dan Johnny Winter. Tadinya Iron Butterfly juga masuk daftar, tetapi batal karena penggemar fanatik grup heavy metal itu masuk ketgori ‘bonek’ (bondo nekad).

Tata suara dan kelistrikan panggung juga jauh dari memadai. Dua personel Grateful Dead, Jerry Garcia dan Bob Weir, sempat kena sengatan listrik ketika menyentuh mik suara. TYA terpaksa menghentikan penampilan sampai dua kali karena suara mereka tak terdengar audiens. Gangguan-gangguan pada instrumen yang tidak mengeluarkan suara dialami oleh Stephen Stills, gitaris CSN, BST, dan Sly & The Family Stone.

Ahli sejarah kontemporer AS, Bert Feldman, menyebut Woodstock sebagai bagian dari leksikon kultural yang menggambarkan hedonisme generasi bunga. “ Woodstock peristiwa yang hanya terjadi sekali dalam hidup kita. Ia kenangan terbaik sekaligus terburuk. Ia pengalaman kebudayaan yang tidak akan terulang, “  kata Feldman. Apakah Woodstock, selain mengakhiri masa keemasan generasi bunga, juga merupakan sebuah antiklimaks ?

The Beatles bubar tak lama sebelum Woodstock, pengeboman terhadap Kamboja dan Vietnam oleh pemerintahan Presiden Nixon terpilih tahun 1968 semakin kejam, dan capres Partai Demokrat Robert Kennedy dibunuh di California. Ideologi generasi bunga ditikam dari belakang oleh komersialisasi musik yang mementingkan profit. Mereka dikalahkan musik heavy metal ala Led Zeppelin atau Cactus, rock progresif oleh Frank Zappa atau ELP (Emerson, Lake & Palmer), dan glam rock yang diusung David Bowie dan Alice Cooper.

Generasi bunga digantikan oleh generasi 1970 yang akrab disebut sebagai ‘The Me Decade’ karena lebih ‘semau gue’,  apolitis, apatis, dan fatalistis. Tak lama setelah Woodstock diadakan konser gratis di Altamont Speedway, California, 6 Desember 1969. Konser ini dimaksudkan sebagai ‘Woodstock Barat’ untuk menyaingi yang di New York, Pantai Timur. Citra Altamont dicederai oleh pembunuhan terhadap Meredith Hunter yang dilakukan Hell Angels saat Rolling Stones sedang berada di panggung menutup acara. Sebelum Stones, tampil Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, dan CSN.

Konser Altamont sering dikontraskan dengan Woodstock. Jika Woodstock mewakili perdamaian dan cinta, Altamont secara de facto dipandang sebagai bab kesimpulan era hippie yang sekaligus juga menjadi simbol kematian ‘Negara Woodstock.’  “ Para pengamat lebih tertarik kepada Altamont bukan karena ia menjadi penanda berakhirnya sebuah era, tetapi karena ia menyajikan sebuah metafora yang kompleks dalam menilai bagaimana berakhirnya sebuah era, “ tulis kritikus musik Robert Christgau, tahun 1972.

Sumber :

Dari Woodstock ke Altamont, Dari  ‘Generasi Bunga’  ke  ‘Semau Gue’  | Budiarto Shambazy
Kompas, 18.08.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: