Posted by: hagemman | August 18, 2009

AKHIR PERANG JAWA

01Maka adalah para prajurit yang nanap menatap di hadapan tombak-tombak yang digulirkan di atas tanah. Bagi mereka sesungguhnya perang belumlah usai. Mereka dalam kesahajaannya  berupaya untuk mematuhi keputusan sang pemimpin kendati untuk sebuah keputusan yang musykil menyakitkan. Sesungguhnya mereka berada dalam persimpangan, tapi dengan sikap perwira terjaga untuk tetap taat. Taat terhadap keputusan yang diambil oleh pimpinan mereka.

02Demikian juga para hamba setia yang senantiasa ada disampingnya. Bukan soal mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendampingi lagi ; sebab mereka sadar seorang hamba adalah tetap seorang hamba. Pengabdian tanpa syarat apa pun. Mereka hanya sungguh tak kuasa menghadapi kenyataan nan pahit bahwa sang majikan yang begitu dicintai telah dipermalukan. Waktu seakan terhenti oleh kesedihan dan kepedihan yang mereka rasakan.

03Agak sedikit berbeda dengan para pengikut sang pangeran pasca keberadaan para panglimanya yang telah membelot, hampir setahun sebelumnya. Dari raut wajah mereka tampak bahwa peperangan harus tetap berlanjut. Tapi ada keraguan besar sekaligus juga kesadaran bahwa tanpa diri sang pemimpin, upaya apa pun akan mubazir adanya. Maka mereka berdiri terpaku berupaya untuk mencerna keadaan. Untuk kemudian menerima bahwa peperangan telah diputuskan berakhir.

04Sementara itu, para pembesar musuh ada dalam posisi kemenangan serta kepongahan. Mereka lebih menyibukan diri untuk mengamankan tangkapannya dengan cara yang tepat dan cepat. Karena mereka sadar ada rentang jarak yang masih harus ditempuh dan mengandung risiko, tempat dimana kantung-kantung perlawanan berada sepanjang jalan ; yang bisa jadi belum mendengar bahwa perang telah usai pada hari itu. Maka mereka sesungguhnya terjepit antara tikaman kenyataan penghianatan atas tujuan perundingan dan penegakan tujuan politik rust en orde. Tapi toh tetap sebuah kereta kuda yang disiapkan tidak mampu membuat hati mereka terbebas sama sekali. Dari kekhawatiran.

05Sang pangeran dengan tetap percaya diri dan berkepala tegak menghadapi mereka semua. Kedua tangan yang terentang ke arah bawah melebihi ucapan. Itulah bahasa isyarat elegan seorang pangeran yang hanya bisa diterjemahkan oleh hati. Yakni hati yang jernih tentang : kepasrahan karena keadaan amat tidak menguntungkan dan kesadaran penuh untuk menyelamatkan rakyat. Sebuah kerelaan hati telah dipilih yakni jauh lebih baik untuk mengorbankan dirinya. Sebab baginya : apalah arti kemenangan yang berujung pada kekuasaan jika rakyat yang harus dijadikan tumbal ?

Itulah sebuah fragmen terakhir dari Perang Jawa. Perang yang berlangsung dari 1825 hingga 1830 ; walau setengah dekade tapi nyaris mengosongkan kas dan menguras stamina Batavia yang terpaksa menerapkan benteng-stelsel untuk mematahkan perlawan. Catatan sejarah menyatakan Perang Jawa ini telah menelan 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa dan 7.000 berkebangsaan Indonesia. Sedikitnya 200.000 orang Jawa tewas, sehingga penduduk Yogyakarta saat akhir perang telah menyusut kira-kira separuhnya.

06

Perang yang bukan hanya bicara soal darah tertumpah dan perebutan wilayah pijakan, tetapi pada akhir-akhir waktu adalah juga perang bagi kedua belah pihak untuk melawan wabah kolera, malaria dan disentri yang ganas mematikan. Maka ketika Pangeran Diponegoro dan laskarnya kian terjepit sejak 1827, itulah saat angin kemenangan kian berhembus kuat bagi pihak penjajah.

Pada paruh akhir 1828 kekalahan demi kekalahan pahit menimpanya. Maret 1830, Pangeran Diponegoro mau turun gunung dan datang berunding di Magelang. Tapi ia ditangkap lalu diasingkan ke Manado dan kemudian Makassar, tempat dimana ia wafat pada tahun 1855.

Catatan :

Tampilan ilustrasi dalam tulisan ini yaitu hasil karya Nicolaas Pieneman (1835) dan bisa jadi tidak terlalu tepat karena sebagian teman menilai kurang nasionalis ketimbang karya Raden Saleh (1857). Tapi perlu kita ketahui keduanya toh tetap bukanlah saksi mata atas kejadian tersebut, tapi sama-sama menuangkan dalam kanvas dengan mengacu pada sketsa FVHA Ritter de Steurs, aide-de-champ dan menantu dari Jenderal Hendrik Merkus de Kock sendiri.

Sumber | Ilustrasi :

The Submission of Prince Diponegoro to General De Kock, Nicolaas Pieneman | Rijskmuseum
Sejarah Indonesia Modern, M C Ricklefs


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: