Posted by: hagemman | August 17, 2009

BUKU : OUTLIERS, RAHASIA DI BALIK SUKSES

buku outliersJudul  :   OUTLIERS,   RAHASIA DI BALIK SUKSES
Penulis : Malcolm Gladwell
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama,
Maret 2009
Tebal : 339 halaman

Malcolm Gladwell kembali menghasilkan buku baru Outliers, yang menyingkap rahasia di balik sukses. Gladwell mengakui kualitas pribadi penting, tetapi konteks sosial dan kulturl juga amat menentukan. Dalam hal ini, lingkungan keluarga, tempat dan waktu lahir, kesempatan, dan budaya pergaulannya.

Sebelum Outlier, Gladwell memukau pembaca melalui The Tipping Point (2002). Ia menulis betapa hal-hal kecil dapat membuat perbedaan besar. Caranya, dengan metode ‘ketok ular’ yang telah teruji dalam sejarah.

Selanjutnya dalam Blink (2005) ia memaparkan kemampuan ‘membuat keputusan jitu dalam sekejap’ lewat teori cuplikan tipis, yaitu ‘dengan mengetahui sedikit, sudah mengetahui banyak’.

Dalam Outliers ia menyingkap rahasia di balik sukses. Lazimnya orang-orang berhasil digambarkan sebagai ‘pribadi dari keluarga sederhana, yang karena kegigihan, keberanian dan bakatnya mampu mendobrak sukses’. Titik beratnya pada kualitas pribadi sang individu.

Gladwell sendiri adalah staf penulis di New Yorker. Sebelumnya, ia wartawan iptek di Washington Post. Ia jurnalis yang rajin melakukan investigasi dan kesimpulan pandangannya banyak didasarkan riset para akhli. Tidak heran, setiap bukunya kaya dengan kutipan referensi.

Kaidah 10.000 jam

Di dalam buku ini dituturkan sejumlah ‘outliers’, yakni orang yang mencapai prestasi besar dengan melakukan hal-hal di luar kebiasaan umum. Ia mengambil The Beatles dan Bill Gates sebagai contoh. Sekalipun mereka bermain di panggung kehidupan berbeda, tatpi ada ‘benang merah’ persamaannya.

Mereka meniti karier sejak usia muda. Beatles adalah band rock anak sekolah yang kebetulan dikontrak bermain nonstop di Hamburg. Di sana mereka dipaksa bekerja keras, ada kalanya harus bermain selama delapan jam setiap hari dalam seminggu. Dan itu mereka lakukan selama 270 malam dalam kurun waktu 1,5 tahun. Hikmah dari gemblengan superberat itu besar sekali. Sekembalinya ke Liverpool, mereka menjadi orang yang berubah sama sekali. Disiplin, penuh percaya diri, kemampuan mantap, dan kemahiran memainkan banyak sekali lagu menjadi modal besar untuk suksesnya kelak.

Sementara Bill Gates, anak keluarga kaya di Seattle. Sejak kelas tujuh orangtuanya memindahkan dia ke sekolah elite. Di sana ada klub komputer dengan fasilitas terminal bersama. Kegairahan besar untuk bermain-main dengan komputer membuat Gates menghabiskan waktu sampai larut malam, delapan jam sehari. Agaknya ini yang membuat Gates, saat itu siswa kelas 8 (setara SMP kelas II), sudah mampu membuat program komputer sendiri.

Dari dua contoh di atas, Gladwell ingin menyampaikan, semakin dini seseorang digembleng keras di bidang yang paling diminati, maka jika ia berbakat, suatu saat ia akan menunjukan kelasnya. Gladwell menyebut mengenai ‘Kaidah 10.000 Jam’. Maknanya diperlukan tempaan padat selama minimal 10.000 jam dalam jangka pendek sebelum seseorang dapat sukses sebagai profesional bermutu. Ini berlaku untuk penulis novel, pemain catur, pianis konser, pemrogram komputer, atau apa saja. “ Mereka berlatih sangat jauh lebih keras, “ tulis Gladwell.

Jarak kekuasaan

Gladwell juga menunjukan, waktu dan tempat kelahiran amat menentukan pula. Hanya pendekatannya bukan dari segi astrologi atau primbon, melainkan lebih karena kesempatan sosial yang muncul di suatu tempat pada suatu kurun waktu. Gladwell mengambil contoh momen pembentukan sejumlah tim hoki di Kanada yang dimulai sejak usia muda.

Berbagai kelas hoki di sana memakai batasan usia penerimaan tanggal 1 Januari. Konsekuensinya, seorang anak laki-laki yang berusia 10 tahun pada tanggal 2 Januari akan bergabung dengan anak berumur 10 tahun pada 30 Desember. Jarak usia 12 bulan akan membuat perbedaan fisik lumayan, ditambah yang lahir 2 Januari akan memperoleh kesempatan bermain lebih dulu dan lebih lama dari yang lahir 30 Desember. Tidak heran tim-tim yang masuk pelatnas kebanyakan anggotanya lahir bulan Januari, Pebruari, dan Maret. Seandainya batas tanggal penerimaan bukan 1 Januari, melainkan misalnya 31 Juli, tentu hasilnya akan berbeda.

Hal tersebut berlaku juga untuk bidang lain, seperti bisnis keuangan. Maka, semboyan ‘ lahir di tempat yang tepat, di waktu yang tepat ’ adalah betul, hanya kajian fengshui atau primbon memang titik tolaknya berbeda dari pendekatan kesempatan sejarah.

Yang menarik dari uraian Gladwell adalah mengenai kaitan kerap jatuhnya pesawat terbang dengan budaya kelompok tertentu. Di sini penulis tak langsung mengurai para ‘outliers’, melainkan menelisik warisan budaya uyang memengaruhi perilaku suatu kelompok. Umumnya orang menganalisis jatuhnya pesawat udara karena faktor cuaca, keahlian pilot, keadaan pesawat, atau landasan kurang sempurna. Tak pernah disinggung faktor ‘Power Distance Index’ atau ‘Indeks Jarak Kekuasaan’ di antara mereka yang berada di kokpit (kapten, kopilot, dan juru mesin).

Gladwell meminjam pengertian ini dari Hofstede, psikolog Belanda yang melakukan studi perbedaan antarbudaya. Menghadapi risiko dan ketidakpastian, ada budaya yang mendorong warganya berani bicara terus terang walau mungkin menyakitkan. Pada budaya lain, orang lebih sungkan, terutama kalau menghadapi atasan.

Kecelakaan Korean Air, disimpulkannya sebagai adanya Indeks Jarak Kekuasaan yang lebar di anatara mereka di kokpit. Rekaman pembicaraan terakhir di ‘kotak hitam’ menunjukan, kopilot dan juru mesin sebelumnya agak sungkan terhadap kapten pilot. Setelah situasi benar-benar gawat mereka berani angkat bicara keras, tetapi tentu saja keadaan sudah tidak tertolong !

Secara berani coba kita tarik analogi dengan perusahaan atau organisasi. Di perusahaan tertentu hubungan antara atasan dan bawahan begitu dijaga jaraknya. Father knows best atau ‘Bapak mengetahui yang terbaik’. Setiap rencana yang sudah diputuskan atasan jangan dipertanyakan lagi. Di perusahaan lain, ada budaya hubungan lebih akrab, lebih informal antara atasan dan bawahan. Atasan lebih membuka diri untuk masukan atau kritik tanpa merasa terganggu kewibawaannya. Bawahan bebas mengutarakan pendapat yang berbeda dari atasan tanpa khawatir akan dicerca. Kebenaran dicari baik dari atas maupun dari bawah.

Hemat saya, perbedaan di antara keduanya baru tampak mencolok kalau terjadi krisis. Di perusahaan pertama, bila momen kebenaran tiba, maka keadaan boleh jadi sudah tak tertolong lagi. Di perusahaan kedua, karena peringatan dini kerap dibunyikan berkali-kali, kemungkinan malapetaka lebih bisa dihindarkan.

Dalam bukunya, Gladwell memang tak bicara eksplisit untuk perusahaan, tetapi kita boleh menarik pelajaran dengan analogi dan sedikit imajinasi.

Sumber  :

Meninjau ‘Orang Sukses’ secara Kontekstual, Indra Gunawan M | Pengamat Budaya Perusahaan
Kompas, 16.08.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: